
Adam dan Luci nampak duduk di sebuah kursi rumah Luci yang baru saja Adam perbaiki.
"Akhirnya rumah ini terlihat layak dihuni sekarang," ucap Adam pada Luci.
"Wah kau belajar dari mana skill itu? Aku baru pertama kali melihat ada orang yang memiliki kemampuan itu," tanya Luci pada Adam.
"Skill ini aku dapatkan dari Dewa hehehe," ucap Adam.
"Dari Dewa? Aku baru tahu, aku kira itu kekuatan yang dilakukan karena kontrak dengan iblis atau skill yang didapatkan karena penyatuan energi alam," ucap Luci dengan sedikit terkejut.
Kita tahu sebelumnya dunia ini memang tidak asing dengan yang namanya kekuatan khusus, karena hal itu tak lain karena para guardian yang dulunya mewariskan kekuatan mereka pada manusia. Namun selain kekuatan yang diberikan guardian, tak sedikit pula yang mengeksplorasi kekuatan itu. Sehingga diantara mereka ada yang memiliki kemampuan khusus unik. Kemampuan yang hanya dimiliki oleh sebagian orang yang melewati latihan berat.
"Luci kenapa kau pesimis terhadap apa yang kau inginkan?" Tanya Adam padanya.
"Aku, aku tidak mengerti, semenjak ayahku meninggal sebenarnya aku memiliki impian. Namun semakin aku lama hidup di dunia, impian itu seperti tak berarti untukku," Luci kini nampak bersedih dan tak percaya diri.
Ia menceritakan soal ayah dan ibunya yang dulu seorang arkeolog yang membantu para Zodiak mencari Artefak di menara kuno. Sebenarnya ayah Luci meninggal karena serangan yang disebabkan oleh makhluk yang ada di dalam menara itu, para Zodiak saat itu tak bisa berbuat banyak karena mereka pun sibuk untuk melawan para small guardian yang ada di sana.
Namun Luci tak pernah mengetahui cerita sebenarnya, ia hanya tahu jika ayahnya telah meninggal dalam kecelakaan. Sebelum ia meninggalkan rumah pamannya, Ia menyimpan banyak catatan yang ditinggalkan ayahnya yang kini masih ia simpan dan tak pernah ia buang.
"Ayahku selalu bilang, jika kamu memiliki mimpi maka raihlah itu walaupun seseorang menertawai mimpi mu," ucap Luci yang tak sadar air matanya ikut menetes karena mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada.
"Ibuku selalu bilang, mimpi itu seperti kamu memetik buah yang jauh diatas pohon, semua orang bisa mendapatkan nya, tapi tidak semua orang mampu memanjatnya, jika kamu serius bukan hanya buah yang bisa kamu petik di atas sana, lebih dari itu kamu bahkan bisa mengukir ribuan bintang di angkasa," ucap Luci yang menangis namun tersenyum, ia melupakan kata-kata yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
"Aku akan membantu mewujudkan mimpimu, aku tak mau orang kehilangan mimpinya karena sesuatu yang menghalangi mereka," ucap Adam sangat serius.
__ADS_1
Luci mulai tersadar dengan apa yang dikatakan Adam, ia mulai bertanya apa tujuan Adam sebenarnya di dunia ini. Luci menganggap Adam adalah orang yang memiliki pendirian besar tentang sesuatu.
"Lalu kau sendiri, apa mimpimu?" Tanya Luci pada Adam.
"Aku, aku hanya ingin terus tersenyum di dalam kehidupan ku dan melihat orang lain merasa beruntung karena telah mengenalku," ucap Adam sembari melemparkan senyum pada Luci.
Untuk sesat mereka membicarakan sesuatu yang tidak penting dan penuh basa-basi. Namun tak sengaja Adam menyinggung soal artefak yang terdapat pada menara kuno.
"Kau bilang ayah dan ibumu seorang arkeolog? Apa kau tahu sesuatu tentang artefak atau prasasti?" Tanya Adam pada Luci.
"Kenapa kau menanyakan soal itu? Prasasti yang terdapat di menara kuno itu cukup sulit ditemukan, namun ayahku pernah menyimpan sesuatu dan memberikannya padaku ketika aku masih belum mengerti apa-apa," ucap Luci pada Adam.
Adam meminta pada Luci untuk memberitahu peninggalan ayah nya itu. Lalu kemudian Luci menunjukkan beberapa lembar kertas yang cukup usang.
"Ini adalah peninggalan ayahku, aku tidak mengerti apa yang ada di dalam sini, tulisan itu seperti tulisan bangsa kuno," ucap Luci yang kini menunjukkan kertas itu.
"Ini kan, tulisan ini seperti tulisan yang ada di kitab DEWA yang aku miliki, aku bisa membaca tulisan ini dengan jelas," ucap Adam cukup terkejut.
Ia tidak mengerti kenapa ada tulisan semacam itu di dunia itu. Adam mulai menyimpulkan bahwa menara tempat prasasti itu adalah kediaman para dewa dulunya.
Di kertas itu tertulis kalimat yang cukup membingungkan dipikiran Adam.
"Di sini tertulis banyak kalimat, namun aku tertuju pada satu kalimat ini yang menyebutkan bahwa, ketika lima penjuru telah terbuka maka satu gerbang akan runtuh, temukan kelimanya untuk bisa ... " Di sana nampak nya sebuah tulisan yang memiliki sambungan, namun salinan itu tidak lengkap.
Adam berpikir jika salinan itu ada kelanjutannya, tapi ia merasa curiga dengan kalimat-kalimat sebelumnya yang menyebutkan bahwa, tinggalkan dunia lalu kemudian turun dari langit, semua yang kau lakukan adalah sebuah resiko.
__ADS_1
"Apa yang dimaksud dengan tulisan ini, aku tak mengerti, sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan artefak itu. Seperti yang Zet katakan padaku, aku hanya perlu menemukan menara dimensi itu," ucap Adam dalam kebimbangan nya.
"Eh kau bisa membaca tulisan ini? Kau serius?" Ternyata Luci dari tadi memperhatikan Adam dengan wajah yang bingung, ia terkejut karena Adam dapat membaca tulisan itu yang mana seorang arkeolog sekalipun kesulitan menerjemahkan nya.
"Eh hahaha, iya aku bisa membaca tulisan ini, tapi di sini tulisan nya terpotong, sepertinya ada lanjutan dari ini," ucap Adam.
"Kamu hebat, apa kamu juga berniat mencari artefak itu? Bukan kah lebih baik kau mencarinya?" Ucap Luci pad Adam.
"Seseorang memberitahuku untuk mencari dan mendapatkan nya, ia memintaku untuk mengakhiri perang, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan perkataan nya itu," ucap Adam psda Luci sembari tersenyum santai.
Luci benar-benar tertarik dengan apa yang dikatakan Adam, dia malah berniat untuk mengikuti Adam mencari artefak itu.
"Apa aku boleh ikut dengan mu? Aku ingin mencari artefak juga, aku ingin melanjutkan mimpi ayahku," ucap Luci yang kini malah memohon pada Adam, padahal sebelum nya ia menolak Adam menjadi temannya.
"Eh? Apa kau serius? Tapi ... " Belum selesai Adam berbicara namun Luci memotong perkataannya.
"Aku tau letak menara itu, aku tau dimana prasasti itu berada, ayahku pernah meninggalkan sebuah peta yang ia gambar sendiri dengan tangan nya," ucap Luci meyakinkan Adam.
Adam kini tak bisa berbuat apa-apa, informasi yang ia butuhkan ada di depan matanya. Dari awal pertemuan nya dengan Luci memanglah bukan sebuah kebetulan biasa. Ia mulai berpikir bahwa Luci adalah kunci baginya untuk menemukan menara dimensi yang ia cari di sana.
"Apa? Apa kau serius? Kau memiliki nya? Bukan kah semua orang mengincar hal semacam itu?" Ucap Adam yang terkejut karena pernyataan yang dikeluarkan oleh Luci.
Luci sedikit bingung karena dia bahkan tidak pernah peduli dengan peta itu. Ia hanya berpikir peta itu takkan pernah berguna baginya.
"Hah? Aku tidak tahu, aku tidak pernah peduli, tapi jika kau bisa membaca tulisan itu, itu artinya semua ini jadi penting bagimu bukan? Jadi apa aku boleh ikut bersama mu?" Tanya Luci.
__ADS_1
Adam sedikit bingung dengan apa yang harus ia katakan, namun pada akhirnya ia mengijinkan Luci untuk bergabung dengan nya dan Brule.
"Hmmm baiklah mulai saat ini kita akan bersama menuju menara kuno itu dan menemukan artefak," ucap Adam pada Luci.