
"Hei apa cita-cita mu saat ini?" Tanya Adam pada Luci.
Luci kebingungan karena Adam tiba-tiba bertanya hal semacam itu.
"Hahaha lucu sekali, kenapa bertanya hal semacam itu," jawab Luci dengan sedikit tertawa.
Sebelumnya tak pernah ada yang menanyakan hal itu padanya, ia merasa dunia ini tak memiliki tempat untuknya, dunia tak memiliki tempat untuk orang sepertinya. Ia berpikir jika ia hanyalah salah satu orang yang beruntung karena telah lahir ke dunia.
Ada atau tidak adanya cita-cita baginya tetap sama, semua takkan pernah berubah sesuai keinginannya.
"Apa yang kau katakan? Seseorang yang tak memiliki impian adalah seseorang yang raganya telah mati," Adam menatap serius wajah Luci, ia nampak membenci sikap Luci yang terlalu pesimis.
"Kau tau? Dunia itu selalu adil pada semua orang, hanya saja mereka tak mau berfikir dan bersyukur," Adam semakin serius, matanya terus menatap Luci.
"Adil? Menurutku tidak, jika dunia ini adil, mengapa harus ada yang miskin dan kaya? bagaimana bisa ada yang berkuasa dan yang tertindas? Bagaimana bisa seseorang saling membunuh untuk menggapai suatu impian mereka? Mereka hanya bermulut besar, cita-cita? Impian? Mereka hanya menggunakan kata-kata itu untuk melindungi keserakahan mereka, bagiku semua sama saja, hal itu takkan pernah berubah sedikit pun," Luci sekarang lebih serius menaggapi Adam.
Luci mulai menceritakan kisahnya pada Adam, telah banyak ketidakadilan yang dialami Luci. ketika kedua orang tuanya meninggal, ia harus diadopsi oleh pamannya, namun di sana ia selalu didoktrin dan diajarkan ideologi yang tidak sesuai seperti orang tuanya. Lalu setelah umur nya 10 tahun ia memutuskan untuk pergi dari rumah pamannya. Pamannya bukan lah orang sembarangan, dia adalah orang yang cukup memiliki banyak harta.
Awal mula Luci membenci orang kaya ketika pamannya selalu mengajari Luci untuk tidak mempedulikan mereka yang tak memiliki apapun. Bagi paman Luci seseorang yang seperti itu bahkan tak bisa dikatakan sebagai manusia yang notabene memiliki akal pemikiran yang cerdas.
Luci telah lama berpikir jika didikan yang diberikan pamannya itu sangatlah menyimpang dan berbeda dari ajaran orang tuanya. Walaupun paman Luci sangat menyayanginya dan memperlakukannya dengan baik, namun Luci memilih untuk pergi dari sana dan menjalani kehidupan yang baru.
"Jika semua orang memiliki pemikiran seperti kamu, bukankah dunia ini jadi terlihat adil?" Adam sedikit bijak kali ini, kita tahu bahwa Adam dulunya adalah anak malang yang lahir tanpa seorang ibu dan semasa hidupnya penuh dengan pembullyan.
Adam merasa Luci hanyalah mencari-cari alasan untuk membenarkan pemahamannya. Adam menunjukkan sesuatu pada Luci.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu, jika kau pikir cita-cita itu takkan ada artinya, bagiku cita-cita itu adalah hal sangat aku junjung tinggi," Adam memegang sudut balok kayu pada gubuk itu.
"Bahkan dengan tanganmu sendiri kamu akan bisa mengubah sesuatu sesuai keinginanmu jika kau mau berusaha, jangan tutupi hatimu yang baik itu, seorang yang pesimis bahkan tidak akan mendapatkan tempat di mana pun," Adam fokus menyentuh balok kayu yang menopang sudut gubuk itu.
__ADS_1
"Eh apa yang kau lakukan? Cahaya apa yang keluar dari tanganmu?" Luci terkejut dengan cahaya yang keluar dari tangan Adam, cahaya itu nampak menyinari tangan Adam.
"Realiti, TRANSFORM!" Cukup keras ia berbicara, ia menggunakan skill realitanya untuk mengubah objek yang ia sentuh menjadi objek yang ia pikirkan.
Mata Luci tak bisa berkedip sedetikpun melihat apa yang dilakukan Adam, mulutnya kini mulai terbuka, cahaya itu semakin menyebar ke setiap sudut gubuk itu. Alicia tidak percaya dengan apa yang ia saksikan dengan mata kepalanya itu.
Dalam sekejap gubuk itu berubah menjadi bangunan yang sangat kokoh, gubuk yang tadinya hampir roboh itu kini berdiri dengan megah dan kokoh.
"Kau? Apa yang kau lakukan? Apa ini kemampuan mu? Apa kau manusia?" Dia benar-benar terkejut dengan yang dilakukan oleh Adam, baginya baru kali ia ia melihat manusia bisa mengubah benda dengan sangat sempurna.
"Aku hanyalah manusia biasa, dulu mungkin aku sangat lemah, tapi ketika aku mulai tersadar dari semua itu, aku merasa aku telah melupakan sesuatu. Bermimpilah sampai orang lain menertawakan mimpimu," ucap Adam kembali menatap Luci.
.
.
.
.
"Aku menemukan fakta baru tentang lokasi tempat artefak itu, sepertinya sebagian Zodiak malah menuju tempat lain dan bukan menuju tempat yang pertama mereka temukan, sebenarnya ada apa ini? Walaupun aku selalu berbohong padanya tapi kali ini ucapanku seperti kenyataan saja," Brule nampak berdiri di sebuah lorong antara bangunan tua yang ada di sana.
Tiba-tiba ada beberapa penjaga yang melihatnya. Para penjaga itu nampaknya mencurigai Brule yang kini sedang sendirian di lorong itu.
"Hei tuan, kau sedang apa di sini? Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Ucap salah satu penjaga yang ada di sana.
"Oh maafkan aku, aku tidak sengaja berada di sini, mohon ijinkan aku untuk meninggalkan tempat ini," ucap Brule yang kini nampak melangkahkan kakinya.
"Apa kau tak tau jika area ini sangat dibatasi aksesnya untuk masyarakat yang ada di sini?" Ucap penjaga itu lagi.
__ADS_1
"Ah iya benar aku lupa soal itu, aku hanya kelelahan dan hanya beristirahat di sana," ucap Brule menghentikan langkahnya lalu kemudian meneruskannya lagi, ia tak mau berurusan dengan para penjaga itu, ia takut rencananya jadi berantakan.
Sepertinya penjaga itu membiarkan Brule pergi dari sana, namun setelah beberapa meter Brule menjauh dari mereka. Tiba-tiba terdengar kata-kata dari penjaga itu.
"Hei tuan tunggu dulu sebentar," ucap penjaga itu.
Seketika Brule terdiam dan menghentikan langkahnya. Brule sudah mempersiapkan sesuatu jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi padanya. Kini hatinya mulai tidak tenang dan jantungnya berdebar cukup kencang dari sebelumnya. Ia merasa jika para penjaga itu kini benar-benar mencurigainya.
"Iya kenapa?" Brule menoleh dengan ekspresi wajah yang terlihat gugup dan kaku.
"Ini kotak semirmu kan? Jangan letakkan di sini, ayo cepat ambil ini dan segera meninggalkan tempat ini," ucap para penjaga itu sambil menunjukkan kotak semir Brule yang tertinggal di sana.
"Oh iya kotak semir ku, saking lelahnya aku jadi lupa," ucap Brule lalu kembali mengambil kotak semir nya itu.
Ia sudah berdebar karena hal itu, ia kira penjaga mencurigainya, untung saja Brule tidak gegabah menyerang para penjaga itu.
Setelah meninggalkan tempat itu akhirnya Brule kini berniat kembali ke penginapan. Namun di tengah perjalanannya ia melihat beberapa orang nampak terlihat di lapangan. Sepertinya mereka akan bertarung.
Brule yang penasaran akhirnya menghentikan langkahnya di tepian jalan lapangan itu yang di sekitarnya terdapat banyak pohon yang rindang. Area itu terlihat sepi, dan hanya mereka saja yang terlihat di sana.
"Aku tahu kau adalah Elvin dari squad nomor satu di kerajaan ini, aku sangat terhormat jika kau mau melawanku sebelum pertandingan dimulai," Ucap Han yang berdiri gagah di depan mata Elvin dan ketiga rekannya itu.
Benar sekali sebelumnya mereka dari squad Orion mendatangi penginapan yang di tempati oleh squad Celestial. Han yang merupakan ketua tim itu ingin membuktikan rumor yang tersebar mengenai squad Celestial yang terkenal hebat itu.
Bantu ane dong gan :v di like gan ama coment biar syemangat nih ane wkwk. Pada tega-tega banget nih ah :v ayo kita bikin sekte baru di novel ini.
Terimakasih ya gan wkwk
salam.
__ADS_1
Bucin \= kebanggaan.
:v ***** ampe ngemis gini gue :v