
HAAH
Azzam dan Aldi terperangah mereka tidak percaya mendengar kenyataan bahwa Apartemen yang mereka tempati semalam adalah milik Angga.
"Ini beneran Kak" Azzam memastikan kembali ucapan Hendra
"Iya, beneran ngapain coba gue bohong sama kalian"
"Wah, sialan itu anak ngerjain kita."
Kata Aldi saat sudah tersadar dari rasa terkejutnya.
"Bener, awas aja nanti kalo ketemu gue palakin dia" lanjut Aldi.
"Ya udah kalo gitu gue mau bogan dulu mata gue udah sepet banget ini"
"Makanya nikah jangan tiap hari itu guling kamu perkosa Kak, ntar bunting lho"
" Lagian masih sore ini udah mau tidur aja, kayak anak perawan"
HAHAHHAH
Suara tawa penuh ejekan membuat Hendra mendengus kesal di seberang sana.
"Serah lu pada mau ngomong apa tentang gue, yang penting nie bantal sama guling jadi gue peluk malam ini"
"Makanya nikah yang tiap hari itu guling lu perkosa Kak ntar bunting gimana mau tanggung jawab"
"Lagian masih sore ini udah mau tidur aja kayak anak perawan"
"Bodoh amat"
Tambah Aldi gelak tawa semakin kencang membuat Hendra semakin emosi di buat nya. Dia yang tidak ingin terganggu oleh siapa pun akhirnya memutuskan panggilan sepihak lalu melempar ponsel di sebelah tempat tidurnya dan dia pun langsung memejamkan mata nya.
"Ah nyamannya".
Sementara di Apartemen.
Azzam dan Aldi masih belum berhenti menertawakan Hendra yang terdengar begitu kesal dengan ulah mereka.
Puas dengan tawanya, mereka pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berdiri. Aldi berlalu dari sana menuju dapur mengambil minuman untuk meredakan tenggorokannya yang gatal akibat kebanyakan tertawa.
"Mau di mulai dari mana dulu ini zam" tanya Aldi sambil menyodorkan soft drink pada Azzam. Tanpa menjawab Azzam menggoyangkan ponsel, seakan memberi tahu bahwa dia sedang melakukan panggilan. Tak lama orang yang ditelpon menjawab panggilan darinya.
"Iya, hallo Mas"
"Mbak lagi sudah istirahatkah?" tanya Azzam
__ADS_1
"Belum Mas kenapa?"
" Apa masih sibuk?"
"Enggak kok Mas, ada yang perlu saya bantu?" tanya orang tersebut.
"Gini Mbak, Mbak bisa datang kesini sekalian bawa dua orang untuk bantuin saya bersihin Apartemen " katanya
"Bisa Mas apartemen siapa itu, jauh gak?"
"Lumayan jauh Mbak kira kira setengah jam dari rumah"
"Baik mas saya ke sana biar di antar bang Irul sama Tina dan Ani, Mas share lock aja lokasinya "
"Oke mbak makasih, aku tunggu di sini ya mbak "
"Siap mas"
Azzam menatap ke arah Aldi sambil berkata
"Urusan beres" Aldi menganggukkan kepala mengerti apa yang di maksud oleh Azzam. ya Azzam tadi menghubungi salah satu dari asisten rumah tangganya untuk membantu membersihkan Apartemen Angga.
Sambil menunggu kedatangan ARTnya Azzam kembali pas kegiatannya bersama Aldi. apa lagi coba kalau bukan bermain game di ponsel mereka.
*****
"Selamat malam Den"
"Malam pak, sudah makan pak" tanya Angga
"Sudah Den" jawabnya
"Tolong parkirkan ya pak"
"Siap Den" dengan gerakan hormat seperti saat sedang upacara bendera.
Angga tersenyum melihat tingkah pak Paijo, Angga pun berlalu dari sana menuju rumah utama. saat dia sampai di teras terdengar suara gelak tawa dari dalam rumahnya.
Dan ada pula suara anak perempuan yang tengah tertawa. Dia sudah bisa menebak bahwa sang Kakak sedang menginap di sini. dan itu cukup menjadi alasan mamanya menyuruhnya untuk pulang, rupanya mama dini ingin semua anaknya berkumpul di rumah.
Angga melanjutkan langkahnya menghampiri mereka yang sedang bercengkrama di ruang keluarga. Terlihat wanita yang melahirkan dirinya duduk di sofa membelakanginya yang baru sampai.
Semua orang tampak tidak ada yang menyadari kedatangannya. Dia pun berjalan mengendap-endap mendekati mamanya lalu mencium pipinya dari arah belakang.
Mama Dini pun terkejut saat ada seseorang yang tiba-tiba mencium pipinya dia pun menoleh arah belakang dan mendapati sang wajah sang anak di samping wajahnya.
Dia pun seketika berdiri menghampiri Angga lalu mencium pipi anak laki-laki satu-satunya itu.
__ADS_1
Angga pun dengan senang hati menerima perlakuan mamanya karena pasti sebentar lagi akan ada suara yang meneriaki mereka.
"Mama apa apa an sih" kata Papa Farel
"Anak udah gede masih aja di perlakukan kayak bayi" sebal Papa Farel lagi.
"Kenapa memangnya, bagi Mama dia tetep bayi kecil Mama Pa " belanya
"Iya, gak sayang?"
"Bilang aja, Papa iri kan kalau Mama cium aku "
"Ngaku deh Pa " timpal Kakak perempuan Angga
"Enggak siapa yang iri" bantahnya
"Ya udah kalo gitu ntar malem, mama mau tidur sama kamu aja ya sayang" kata mama dini pada Angga tapi netranya melirik ke arah di mana suaminya berada, terdengar dengus kesal keluar dari mulut Papa Farel saat itu.
"Siap ma, aku mau tidur sambil peluk mama kayak waktu kecil dulu" ucap Angga. Dia seakan menambah bahan bakar pada api yang mulai bergejolak di hati papanya.
"Enak aja, gak ada ya yang begitu begitu Mamamu itu istri Papa jadi tidur harus dengan Papa lah"
"Papa jangan lupa Pa, kalau istri Papa itu mamanya Angga"
"Gak pokoknya gak boleh" ucap Papa Farel lalu berjalan ke arah anak dan istrinya yang masih dalam kondisi berpelukan.
Lalu Papa Farel melerai pelukan ibu dan anak tersebut dan menarik istri nya dalam pelukannya.
"Ini punya papa kalau mau ada yang nemenin tidur cari istri sendiri sana" kata nya sambil melengos pada anak laki-lakinya yang ada di depannya seraya berbisik di telinga sang Istri.
"Mama kayaknya minta di hukum sama Papa ya, liat aja nanti, aku bakal bikin Mama mendesah hebat di bawah kukungan Papa" ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan
Deg!
Mama Dini sedikit terkejut mendengar penuturan suaminya, detik selanjutnya dia berkata seakan menantang suaminya itu untuk perang di Ranjang kamar mereka.
"Aku terima tantangan mu Pa, awas saja kalau sampai Papa kalah, Papa harus menemani mama berbelanja dan ke salon " pongahnya
"Kita lihat saja nanti kalau sampai Mama yang kalah selama seminggu ke depan Mama yang harus memimpin permainan" ucapan nya penuh kemenangan. Usia mereka memang tidak muda lagi tapi jangan salah, ranjang mereka tetap selalu berderit setiap malamnya. Seakan tiap hari adalah malam pengantin bagi mereka.
Papa Farel seakan tidak terima saat istri itu malah menanggapi tantangan untuk berperang di atas ranjang. Apa mungkin dia sudah tidak sehebat dulu saat bermain di ranjang sehingga istrinya malah menantangnya balik.
Padahal dulu Mama Dini selalu menolak jika dia memintanya untuk memimpin permainan tapi sekarang dia malah menantang balik dirinya, sungguh itu seperti melukai harga dirinya saat sang Istri menyetujui ajakannya.
Apa dia sudah tidak seperkasa dulu, padahal dia merasa semua masih seperti dulu baik ukuran stamina dan durasinya. Atau mungkin karena akhir akhir ini dia sangat sibuk hingga mengurangi waktu untuk memuaskan kebutuhan batin istrinya.
"Permainan apa Oppa"
__ADS_1
Deg!