
Angga telah sampai di tempat resepsi pernikahan Amel bersama keluarga nya, hanya Abang iparnya saja yang berhalangan hadir.
Dia masuk kedalam lalu duduk di tempat yang telah di sediakan, dari tempat duduknya dia bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang selama enam tahun ini selalu mengisi hari-harinya.
Kini dia ada di sana sebagai ratu satu malam bersama lelaki yang baru dia ketahui bahwa pria itu adalah anak pemilik perusahaan tempat ayah Amel bekerja.
Dan fakta terbarunya adalah mereka menikah karena di jodohkan, bukan karena mereka sama-sama mencintai, jika saja Angga datang pagi hari tadi mungkin dia masih ada kesempatan untuk menggantikan pria yang kini menjadi suami sahnya Amel.
Fiona menepuk pundak adik nya, raga Angga memang ada di sini tapi entah dengan jiwa nya, bisa Fiona rasakan bahwa adik nya itu seperti raga tanpa nyawa yang mencoba tetap tegar dan menerima semua takdir yang telah di garis kan.
Angga menoleh saat merasa ada yang menyentuh nya, senyum Fiona berkembang di wajah nya, seakan berkata bahwa dia harus kuat, seperti janjinya saat akan berangkat tadi.
"Ayo kita naik ke sana berikan ucapan selamat pada guru mu itu, bersikaplah seperti seorang murid pada gurunya"
Angga mengangguk lalu berdiri menyusul papa dan mama nya menuju pelaminan, Angga terus menggenggam tangan Fiona, dia hanya ingin kakaknya saja yang tahu tentang semua isi hati nya, biarkan kakak nya saja yang mengerti betapa hancur hati nya saat ini.
Saat yang sebenarnya tidak di inginkan Amel, bertemu dengan murid yang sangat dia cintai, kini angga tepat berada di depan nya, banyak hal yang ingin dia katakan termasuk memeluk dan menangis dalam pelukan hangat nya.
Tapi apa boleh buat dan apa pula yang bisa di lakukan saat ini, bagaimana pun juga, status nya kini sudah menjadi istri orang.
Meski sebenarnya dia sangat ingin memeluk tubuh kekar yang kini ada di hadapan nya, tubuh yang pernah menjadi bantal tidur nya dengan irama detak jantung yang menenangkan.
Sebisa mungkin dia bersikap biasa saja, walau dalam batin nya dia menjerit dan ingin sekali berucap maaf.
kenapa?
Kenapa, dia harus minta maaf pada Angga, bukan kah tidak ada hubungan yang terjalin. dia antara mereka, lalu guna nya apa maaf itu untuk mu Amel, tidak ada bukan, Angga juga mungkin tidak akan peduli dengan apa yang kamu lakukan saat ini.
Angga berjalan melewati nya tanpa mau bersalaman, dia hanya menyalami pria yang ada di sebelah kanan Amel tadi.
__ADS_1
Raut wajah kecewa begitu terlihat jelas di mata Angga saat tadi tidak sengaja bersitatap dengan nya, mungkinkah muridnya itu juga mencintai nya, tapi kenapa tidak dia ucapkan, apa sebegitu memalukan nya jika harus mengungkapkan rasa nya.
Tidak tahu kah kau wahai Amel, apa yang akan kamu lakukan jika Angga benar-benar mengungkapkan rasa nya, pasti juga hanya penolakan yang Angga dapat kan.
Tidak cukup kah bagi Amel satu kali dia menolak nya, sudah dua kali dia menolak Angga begitu saja.
Atau mungkin kamu akan membatalkan pernikahan ini tidak mungkin bukan?.
Memang nya kamu akan begitu saja lepas dari cengkeraman keluarga Bobby, tentu tidak sayang.
Mereka terus dan akan tetap memaksa orang lain untuk menuruti keinginan dan perintah mereka.
Angga dengan cepat turun menyusul papa nya yang sudah menunggu nya di bawa,
Gemerlap nya pesta pernikahan ini tidak menjadikan Angga melihat ke atau siapapun yang ada di sana, Angga merasa dirinya tengah lautan tamu undangan yang hadir.
kini giliran Fiona memberikan ucapan selamat pada sepasang pengantin baru itu.
"Kamu bisa aja! ngomong-ngomong Herman kemana? kok dia gak dateng?
"Dia lagi di luar kota makan nya gak bisa Hadir, titip salam aja buat kamu kata nya!"
"Salam balik ya sama suami kamu!, Fi boleh aku peluk kamu?"
Fiona tanpa menjawab langsung memeluk tubuh sahabat nya itu, sahabat yang ternyata adalah wanita yang di cari adik nya, seorang sahabat nya yang mencari keberadaan pangeran yang selama bertahun-tahun dia tunggu.
Pangeran yang sebenarnya ada di depan mata nya sejak lama, bukan Amel yang melakukan wajah Angga tapi wajah Angga bisa dikatakan berubah karena pengaruh hormon yang ada pada tubuhnya.
Amel menangis dalam pelukan sahabatnya dia menumpahkan segala rasa yang dia sembunyikan sejak lama.
__ADS_1
"Aku masih menunggu nya tadi Fi, aku masih berharap dia datang pada ku dan memenuhi janji nya tapi kenapa Fi kenapa dia tidak datang, aku memintanya datang Fi untuk menjadi suami ku, aku mau janji nya Fi,tapi kenapa?"
"Kenapa dia tidak datang, dia meminta aku bertanggung jawab karena telah menodai nya, lalu apa yang harus aku katakan pada nya jika nanti dia datang Fi apa?"
"Katakan Fi, aku harus apa?, aku mencintai nya Fi, aku mencintainya, semua sudah terlambat aku telah di miliki oleh orang lain!"
" Tenangkan dirimu Lia, ini hari pernikahanmu, jangan membuat nama mu terlihat buruk dengan menangis pria lain di hari bahagia mu!"
"Kamu tahu aku Fi, aku tidak bahagia dengan semua ini, tidak Fi aku hanya ingin dia aku ingin adik kecil ku huuuuhhuu!"
"Apa aku begitu Bodoh nya hingga mempercayai nya, percaya pada ucapan anak kecil yang mungkin saat itu belum baligh!"
Tangis Amel pecah dalam pelukan sahabatnya, dia tidak lagi bisa mengendalikan emosi nya.
"Tenang lah, semua sudah di rencanakan sang pemilik kehidupan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari bukan!"
"Aku ingin bertemu dengan nya satu kali saja Fi hanya satu kali, aku ingin melihat bagaimana dia sekarang, bagaimana rupa tampan nya yang tidak bisa hilang dari ingatan ku, wajah anak kecil yang memaki ku bahkan dengan lancang nya dia akan menikahi saat dia sudah besar nanti, apa enam tahun belum cukup Fi, untuk membuat nya bertambah besar!"
"Kau tahu Fi aku mencari nya di setiap sekolah yang ada di Bandung bahkan Jakarta, tapi aku tidak menemukan nya, sampai tadi saat ijab kabul berlangsung aku masih memanggil nya untuk datang dan menjadi pengantin ku!"
"Kak, ayo kita pulang! Alyssa mengantuk" kata Angga dengan nada dingin nya.
"Angga tunggu dulu tidak kah kamu ingin mengatakan sesuatu pada Kakak cantik mu?"
Deg!
KAKAK CANTIK.
Kata itu, bukan kah itu kata yang di ucapkan adik kecilnya itu, lalu kenapa Fiona mengatakan itu pada Angga.
__ADS_1
"Jadi-----