
Deg!
Angga dia merasa tertampar mendengar lirik lagu yang di bawakan oleh Aldi, bagaimana dia begitu ingin bersama dengan sang Guru yang dia sendiri tau bahwa, dia tak mungkin mencintai muridnya sendiri.
Apa lagi tadi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Amel menyambut hangat setiap perlakuan manis yang di berikan tunangannya itu.
Mengingat hal itu hati Angga yang tadinya sedikit tenang kembali bergemuruh, sakit yang di rasanya seakan menikam jantungnya.
Azzam yang tengah menatap Angga pun menyadari perubahan raut muka Angga, dia pun menyenggol Aldi yang duduk tepat di sebelahnya.
Merasa ada yang menyenggolnya Aldi menghentikan nyanyiannya dan menatap ke arah Azzam, Azzam pun menunjuk ke arah Angga dengan dagunya, mata Aldi mengikuti arah yang di tunjuk Azzam, dia pun menyadari bahwa Angga kembali murung.
Niatnya tadi ingin membuat Angga lupa tentang Bu Guru cantik idaman hati Angga pun nyatanya gagal, Angga bukannya lupa tapi malah mengingat kembali detail kejadian di depan Butik.
Aldi pun berjalan ke tempat Angga duduk lalu merangkul sahabatnya itu
"Udah lah sob, lupain dia"
"Kita tahu ini berat, tapi ya mau gimana lagi dia punya orang, guru kita lagi" lanjut Aldi
"Kita gak mau loe terus terusan kayak gini" Azzam pun menimpali
"loe pertama kalinya hilang kendali dan itu membahayakan nyawa loe"
"Loe gak kasian sama Tante"
"Kalo loe kayak gini, inget loe hidup bukan hanya tentang dia ada nyokap lu yang harus loe bahagiain"
"Dia yang udah susah payah ngelairin loe dan ngebesarin loe, masak loe tega buat dia kecewa" kata Aldi sok bijak
"Kalo loe gak bisa buat dia bangga, setidak nya jangan buat dia kecewa apa lagi ini masalah perempuan, malu maluin lah"
"Lagian juga jodoh orang gak ada yang tau kan siapa tau ntar dia jadi bini loe gak ada yang tau kan"
"Mungkin Bu Amel masih di pinjem sama jodohnya yang sekarang" celetuk Azzam
Sontak Angga dan Aldi membulat kan mata nya kaget mendengar ucapan Azzam itu. Bagaimana dia yang biasa nya pendiam dan tidak banyak bicara bisa mengatakan hal yang menggelikan seperti itu.
Sebuah bantal mendarat tepat di muka Azzam dan Aldi lah pelakunya, dia tidak sempat menghindar karena dia tengah memainkan ponselnya.
Buuukkk
"Kalo ngomong di filter Napa"
"Emang Bu Amel barang pakek di pinjem segala" geram Angga mendengar ucapan Angga
__ADS_1
"Ya kali aja siapa tau dia jodoh loe yang tertunda "
hahhahahaha
tawa kedua teman laknat Angga terdengar memenuhi apartemen nya
"gue setuju dengan loe zam"
"Sialan, kalian"
"kalian nyumpahin Bu Amel Jadi janda gitu"
"Kita kan gak bilang kayak yang loe maksud ngga" jawab Aldi masih dengan gelak tawanya
"Ya tapi sama aja bajingan" geram Angga pada mereka.
"Udah Bu Amel ini yang di omongin dari tadi mending main game" kata Azzam
"Jadi kita tadi ngibah ya" tanya Aldi
"Iya loe kayak emak emak komplek suka nya ngibahin tetangga" jawab Angga sambil meminum soft drinknya.
" let's go " kata Angga
"Beli cemilan dululah biar enak Mabar nya nanti"
"Diih kok gue"
"Terus siapa?, lu gak ada niatan nyuruh gue yang pergi kan " kata Angga sambil melirik ke arah Aldi
" aahhh payah loe pada, gak asik, masak gue lagi gue lagi" gerutunya sambil berjalan ke arah pintu lalu pergi membeli cemilan yang cocok untuk mereka makan saat Mabar nanti.
*****
keesokan harinya mereka terbangun karena mendengar suara berisik dari arah pintu, rupanya ada orang yang memencet bel.
Dengan langkah gontai Angga berjalan menuju pintu dengan menahan rasa sakit yang masih menjalar di lututnya. Setelah sampai di depan pintu dia pun membuka pintu apartemennya.
"Selamat pagi bos" sapa seorang pria yang tengah berdiri di belakang pintu
"Selamat pagi, kamu siapa?"
"Saya Jepri bos, kemarin bos Hendra menyuruh saya datang kemari pagi pagi untuk memberikan kunci mobil" tangannya terulur ke arah Angga dengan kunci mobil di tangannya.
Angga baru ingat semalam dia mendapat pesan singkat dari asistennya itu bahwa dia harus pulang ke rumah dengan mobil tersebut.
__ADS_1
"Oh ya terima kasih" ucapnya
"Sama sama bos,kalo begitu saya pamit" pamit Jefri pada bosnya
"Kamu pulang sama siapa?"
"Saya sama Andi bos, dia di bawah."
"Tunggu sebentar" Angga berlalu dari sana dia berjalan ke arah tasnya lalu mengambil dompet lalu kembali di depan anak buahnya tadi.
"Tolong belikan kami sarapan sekalian kamu dan Andi" katanya sambil menyodorkan uang dua lembar dengan gambar dua bapak ke arah Jefri
" waduh, terima kasih bos " kata nya sambil tersenyum cerah seperti matahari pagi karena mendapatkan jatah sarapan dari sang bos besar
"Sama sama"
Jefri pun berlalu untuk membeli sarapan sesuai perintah dari angga, dan Angga pun menutup pintu apartemen, Angga melirik ke arah jam dinding apartemennya.
"jam 8" gumamnya
Angga bergegas mandi dan berganti baju santai nya di lemari kamarnya, memakainya lalu keluar dari kamarnya, dia harus membangunkan kedua bayinya itu.
"Wooyyy, bangun" teriaknya
"Bangun"
Tak ada sahutan dari keduanya, mungkin mereka masih mengantuk, semalam entah jam berapa mereka tertidur karena keasikan mabar.
Lagian hari ini hari Minggu dia tidak ingin pergi kemana pun, malas untuk keluar rumah saat suasana hatinya tengah buruk seperti ini. dia pun membiarkan kedua kembali tidur tanpa mengusiknya lagi.
Para orang tua tidak ada yang mencari mereka, semalam mereka mengirimkan pesan bahwa mereka akan tidur di apartemen Hendra. Dan mereka mengenal siapa Hendra jadi mereka tidak khawatir walau anak mereka tidak pulang ke rumah masing-masing.
Angga berjalan menuju balkon apartemennya, dia berdiri di sana kedua tangannya bertumpu pada pinggiran tembok sambil menengadah kepalanya ke atas.
pikirannya melayang pada momen di mana dia pertama kali jatuh cinta pada guru cantiknya.
flashback on
Angga yang saat itu masih kelas 6 di sekolah dasar, dia terlihat meringkuk kedinginan di depan sebuah ruko yang tak jauh dari taman bermain, saat itu ada seorang gadis berseragam SMA menghampiri dirinya lalu melepas jaketnya dan memakaikan pada Angga kecil, wangi dari minyak wangi yang ada di jaket tersebut menguar di indera penciuman dia sampai memejamkan mata menghirup harum wangi ada di jaket tersebut, Angga yang kebingungan dengan itu lantas berbicara.
" kenapa kakak memberikan jaketmu padaku nanti kalau Kakak kedinginan bagaimana " tanyanya gadis SMA tersebut.
"Tidak apa aku tidak kedinginan, pakailah" katanya sambil tersenyum
Angga kecil terpesona dengan senyuman itu hingga
__ADS_1
DAAR