MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Sifat sebenarnya


__ADS_3

Sepi, kata itu lah yang terlintas di benak Amel yang baru saja membuka matanya, tunggu ini di mana?, kenapa dia ada di sebuah kamar yang sangat asing, mata indah itu menelusuri setiap benda yang ada di dalam kamar tersebut.


Ah iya, dia baru ingat bukankah kemarin malam dia ngotot untuk tidur bersama dengan salah satu siswanya, aduh bagaimana ini bisa-bisanya dia melakukan hal konyol seperti itu.


Tapi percayalah semua itu dia lakukan dengan kesadaran penuh tanpa paksaan bahkan dia lah yang memaksa Angga disini. memaksakan tubuh itu untuk terus memeluk sepanjang malam.


Tunggu dimana Angga sekarang, dimana tubuh yang semalam memeluk nya itu, sadar akan Angga yang tidak lagi ada di pelukannya pun membangkitkan rasa penasarannya akan kemana perginya laki-laki itu.


Saat ini hari masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah atau mungkin dirinya yang terlambat bangun, mana mungkin seperti itu, Amel pun mengambil ponselnya yang terletak di laci samping tempat tidur mereka dan Melihat jam yang ada di sana.


Waktu masih menunjukkan pukul 06.15 lalu kemana perginya Angga, apa di pulang setelah dirinya tertidur tadi malam, semalam, pipi Amel bersemu merah saat mengingat bahwa semalam mereka tengah ngobrol di sofa lalu dia menaruh kepalanya di atas pundak Angga dan setelah dia tidak mengingat apapun lagi.


Saat bangun tadi buka nya dia ada di kamar berarti Angga menggendong nya masuk ke dalam kamar, dia bahkan sampai tersenyum membayangkan saat diri nya berada dalam gendongan Angga, siswa paling pintar di mapelnya.


Amel yang sudah selesai bebersih pun berjalan menuju dapur, mencari sosok yang kini selalu memenuhi pikiran nya itu, raut kecewa terlihat dari wajah Amel saat tak mendapati seseorang yang dia cari di dapur.


Dia lantas menduduki bokongnya di kursi sambil menatap ke arah pintu dengan pandangan kosong lalu berkata.


"Dia meninggalkan ku sendirian disini" entah mengapa air matanya tiba-tiba mengalir dari sudut pipinya, dia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri, dia marah akan dirinya yang tidak bisa menahan diri lagi saat bersama dengan siswanya itu.


Amel bingung dengan hatinya kenapa dia menjadi wanita yang sepertinya tengah mengejar cinta seorang siswanya sendiri bahkan dengan mudahnya dia merendahkan martabatnya sendiri hanya karena cinta yang tak kan pernah terucap.


Dia menangis di sana menangisi dirinya yang tidak pernah merasa di sayang oleh lelaki manapun. Tentang ayah yang selalu berlaku tidak adil pada nya dan juga tentang Pamannya yang sepertinya tidak melihatnya.

__ADS_1


Dan Bobby entahlah dia merasa tidak nyaman saat berada di samping nya, sangat berbeda dengan saat dia bersama dengan siswanya, Angga.


Air matanya terus mengalir membuatnya tidak menyadari bahwa ada langkah kaki yang kini tengah berjalan ke arah tempat duduk nya, suara pintu terbuka tadi pun tidak bisa mengalihkan dunianya.


Elusan lancang dari tangan Angga menyadarkan Amel dari tangisan nya, menoleh kearah sang pemilik tangan yang tengah mengelus rambutnya, dia terpaku di sana, pikiran buruknya tentang dirinya yang di tinggal sendiri di sana pun menguap begitu saja.


"Kenapa nangis heem?" tangan itu kini telah berpindah ke arah pipi dan menghapus air mata yang mengalir di sana.


Amel bangkit dari tempat nya duduk, lalu memeluk erat tubuh yang ada di depan nya kini, masih dengan segukan yang masih terdengar dari mulutnya.


"Ada apa?" tanya Angga lagi.


"Kok pagi-pagi udah nangis aja?"


Angga ingin melihat wajah yang tengah menangis dalam dekapan hangatnya itu, Angga sedikit bingung kenapa Amel berubah menjadi wanita yang sangat manja saat berdua saja dengan nya.


Sungguh Angga merasa bahagia saat ini , saat melihat Amel menunjukkan pada nya sikap yang selama ini tidak dia tunjukkan pada siapapun, dan hanya pada nya dan hanya dia saja Amel menjadi dirinya sendiri dan mengekspresikan diri tanpa harus menjada imagenya.


"Kamu dari mana?" tanyanya dengan suara yang lirih.


"Dari bawah tadi, beli sarapan!"


"Makan dulu ya"

__ADS_1


Angga pun berniat melepaskan pelukan nya tapi Amel malah semakin erat memeluknya, Angga menyengitkan alisnya melihat tingkah menggemaskan gurunya itu, sebenarnya apa yang di inginkan olehnya.


"kita makan dulu ya, nanti kita terlambat"


Tak ada jawaban di sana, Amel malah berulah di sana dia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Angga yang sepertinya masih alami tanpa bau parfum ataupun sabun.


Angga membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Amel pada dirinya, dia hanya pasrah saja walaupun ingin sekali dia menyeret guru nya itu di bawah kukungan nya dan mendesah hebat karena ulah nya lagi yang sudah membangkitkan gairahnya pagi ini.


"Aaahhh" ******* halus lolos begitu saja dari mulut Angga, siapa lagi pelakunya kalau bukan Amel dia mengendus-endus dada Angga dengan hidung dan sesekali mengusapkannya di sana.


Mendengar suara ******* Angga membuat Amel mendongak keatas melihat wajah Angga yang sudah sedikit terbakar gairahnya, merasa di permainkan oleh Amel, Angga pun menunduk lalu berkata.


" Sudah main-main nya, kalau masih mau terus menggoda ku jangan salahkan aku jika saat ini aku menarik mu ke kamar lalu membuat mu mendesah lebat dan tidak bisa jalan selama 2 hari." geram Angga


Amel bukannya takut dia malah mengalungkan tangannya ke leher Angga dan mencium leher lalu menghisapnya kuat-kuat dia meninggal satu jejak merah di sana.


Melihat hasil karya pertamanya, di tersenyum malu dan menjauh dari tempat Angga berdiri.


"Ayo kita sarapan." ajaknya, dia tidak merasa bersalah sedikitpun pada siswanya itu,


Sedangkan Angga dia mengeram kesal tapi apa boleh buat dia tidak bisa marah ataupun menghukum guru yang sudah melakukan pelecehan terindah pada dirinya, ingin marah dan melampiaskan pun tak tega, bukankah baru saja wanita itu menangis hanya karena di tinggal sebentar oleh dirinya, sungguh wanita cengeng yang pura-pura tegas bukan.


"Aku akan membalas apa yang kamu lakukan hari ini, tunggu saja jika ada sudah waktunya aku tak akan membiarkan mu memakai baju mu walau sedetik pun" batin Angga sambil menahan gejolak yang ada di ujung puncak senjata nya.

__ADS_1


Angga menghelakan nafas untuk meredakan nafsu bercinta akibat ulah yang di lakukan Amel tadi, saat sudah menguasai dirinya dia pun duduk di sebelah Amel.


Namun rupanya cobaan dirinya tidak berakhir sampai di situ, Angga kembali mengeram saat tiba-tiba......


__ADS_2