
Dingin malam ini tidak begitu terasa bagi dua orang yang saling berbagi kehangatan lewat pelukan di dalam sebuah kamar Apartemen.
Mereka seakan melupakan semua norma yang ada, kini mereka berada dalam stu selimut yang sama di tengah guyuran hujan yang belum juga berhenti.
Wanita yang selama ini selalu menjunjung tinggi harga diri wanita itu ternyata kini malah dia sendiri yang melanggarnya.
Pesona anak muridnya ini memang tidak di elakkan, begitu saja sungguh menggetarkan setiap jiwa yang melihatnya, begitu juga dengan dirinya.
Lama mereka saling memeluk tanpa terjadi hal yang tidak mereka ingin meski pun si pria berusaha mati-matian untuk meredam hasratnya saat di depan matanya ada wanita yang sangat ingin dia jadikan ibu dari anak-anaknya kelak.
"Kak"
"Panggil nama ku saja!"
"Kenapa berubah lagi?" tanya Angga.
"Kamu gak mau?" jawab nya dengan bibir yang sudah maju beberapa senti dari bibir asli nya.
"Kan cuman tanya" jawab Angga dengan kesabaran tingkat dewa nya meladeni wanita yang super ngambekan itu, tapi sialnya wanita itu adalah orang yang paling dia inginkan.
"Ada apa, apa kamu mengalami sesuatu yang aku tidak ketahui"
Amel menatap lekat wajah pemuda yang sedang memeluknya itu, lalu menghembuskan nafasnya dan berkata.
"Entah aku juga bingung harus menceritakannya dari mana!" terdengar helaan nafas dari mulut Amel
"Maksud nya"
"Aku sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini tapi aku juga tidak bisa menentang keinginan Ayah ku"
"Apa kamu tahu bahwa aku sama sekali tidak mencintai calon suami ku itu"
"Kenapa bukan kah kamu sangat mencintai pak Bobby?" tanya Angga.
Amel menggeleng kepala,
__ADS_1
"Aku hanya mencintai satu orang dan itu bukan dia" curhat nya
"Lalu siapa Pria beruntung yang bisa di cinta oleh mu?"
Mendengar itu Amel tak menjawab pertanyaan yang diberikan Angga padanya dia malah menenggelamkan kepalanya di dada bidang pemuda yang kini menundukkan kepalanya, membuat bibir pemuda itu menempel di puncak kepalanya.
Angga mendengus kesal lantaran pertanyaan nya tidak d jawab oleh malah wanita itu, malah kini dia tengah tertidur dengan posisi memeluk dirinya dengan begitu erat.
Waktu sudah lewat tengah malam, Angga pun mengangkat wanita yang kini sedang tertidur itu lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang milik nya, diapun ikut naik ke tempat tidur yang yang ada di sebelah wanita yang tadi ia baringkan, menarik tubuh Amel masuk kedalam pelukannya.
Tapi Angga dia masih terjaga hingga kini, Entah kemana perginya rasa kantuk itu, dia sudah mencobanya berulang kali tapi mata nya masih enggan membawanya mengarungi mimpi.
Dia pun mengarah kan pandangannya kearah dada dimana wanita yang tak lain adalah guru nya itu tengah tertidur dengan lelapnya. Apakah Amel sebegitu percaya pada nya hingga dia merasa aman-aman saja saat tidur dalam dekapan laki-laki yang usianya lebih muda darinya.
Dikecupnya kening itu berulang kali, dia merasakan getaran di dalam hati nya saat bibirnya menyentuh kulit Amel.
Angga berusaha melepaskan pelukan Amel, ada panggilan alam yang tidak bisa dia hiraukan dan harus segera di tuntaskan kali tidak bisa-bisa kasur nya basah karena ulahnya.
Namun semakin dia mencoba melepaskan diri dari Amel pelukan itu semakin erat pula bahkan Amel setengah badan Amel berada di atas tubuhnya.
Dia mencoba sekuat tenaga agar tidak sampai melakukan hal yang memalukan di depan pujaan itu, sebenarnya cobaan terberat nya saat ini adalah salah satu dari benda kembar milik Amel menempel tepat di dadanya dan itu membuat nya berpikir yang tidak-tidak.
Jangan lupakan juga kaki nya kiri berada tepat di senjata nya yang sedari tadi ingin ke luar dari sarang nya itu, sebisa mungkin dia menghilangkan pikiran kotornya itu.
Pikiran yang bertujuh pada bagian yang menempel rekat pada pahanya itu.
Dia memang mencintainya tapi dia tidak mau memanfaatkan keadaan dengan menyentuh Amel, jika saja Angga mau mengambil sesuatu itu pasti nya langkah untuk mendapatkan Amel semakin nyata tapi dia tidak ingin memiliki Amel menggunakan cara licik seperti itu.
Dia ingin mereka sama-sama menginginkan dan sama-sama halal dalam ikatan pernikahan, namun sepertinya itu hanya akan ada dalam khayalan Angga saja, mereka tidak mungkin bersatu bukan.
Pernikahan Amel sudah ada di depan mata setidak biarkan dia bisa memeluk tubuh ini walau hanya sementara saja.
Dalam hatinya Angga ingin memperjuangkan cintanya pada Amel, apalagi tadi dia mendengar sendiri bahwa Amel tidak mencintai tunangannya itu.
Tapi apa dia mau menerima dirinya yang tak lain adalah siswanya sendiri, sedangkan Amel juga meragukan dirinya, meragukan janjinya yang ingin sekali dia wujudkan.
__ADS_1
Sekali lagi Angga bimbang dengan pilihan, akan banyak orang yang menentang keinginan untuk bersatu dengan wanita pujaannya itu.
Papanya belum tentu mau merestuinya menikah di usianya yang baru berusia 18 tahun dan papanya Amel mungkin juga meragukan dirinya yang masih duduk di bangku SMA.
Walau kenyataannya di bisa bahkan mampu menghidupi keluarganya sendiri tanpa bantuan siapa pun meski Amel juga tidak bekerja, ada banyak rintangan yang akan mereka hadapi nanti nya.
Apalagi jika harus menentang kedua keluarga, pikiran Angga berkecamuk memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, yang akhirnya mengantarkan dia berkelana menyusul sang bidadari ke dalam mimpi terindah nya.
***
Fajar menyingsing di ufuk timur membangunkan semua makhluk untuk bersiap menghadapi hari.
Angga terbangun dari tidur nya lebih awal dari Amel yang masih setia terlelap dalam pelukan nya. Perlahan dia menyingkirkan tangan Amel dari dadanya, kemudian dia mengangkat kepala Amel dengan sangat hati-hati dia tidak ingin membangunkan wanita itu, menaruh kembali keatas bantal nya.
Dia lalu duduk dan kembali mengangkat kaki Amel, menaruh nya pada guling yang ada di belakang tubuh nya lalu menaruh nya di depan Amel sebagai ganti tubuhnya.
Berjalan ke kamar mandi, menuntaskan hajatnya yang tertahan sejak tadi malam dengan senyum penuh kelegaan.
Angga kembali masuk ke kamar di sana di tempat tidurnya masih ada Amel yang terlelap dengan begitu damai nya.
Senyum Angga kembali mengembang kala mengingat bahwa semalam mereka tidur bersama dengan posisi Amel yang memeluk erat dirinya.
Boleh kah.
Bolehkah dia berharap Amel akan memeluknya sepanjang malam-malam nya, bolehkah hanya dia yang menjadi pria satu satunya yang memiliki Amel.
Lama dia larut dalam angan nya akan kehidupan masa depan bersama Amel membuatnya kembali tersadar ketika bunyi alarm yang ada di ponselnya berbunyi.
Waktu menunjukkan pukul 06.00 dia pun berlalu dari sana, mencuci muka dan menggosok gigi, mengambil dompetnya dan bergegas keluar dari unitnya, tak lupa dia mencuri kecupan di kening Amel terlebih dahulu.
10 menit setelah kepergian Angga, Amel pun terbangun, mendudukkan tubuhnya lalu menatap sekeliling yang tampak begitu asing bagi nya.
Cukup lama dia mengingat, akhirnya dia sadar bahwa dia tengah berada di kamar siswanya itu.
"Dia meninggalkan ku sendirian di sini"
__ADS_1