
Mereka berdua Azzam dan juga Aldi saat ini tengah menikmati makanan yang mereka pesan tadi. Azzam tampak begitu hikmat menyantap nasi di piringnya sedangkan Aldi dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang seharusnya tidak ada di otaknya itu tiba-tiba terlintas begitu saja, mengenai apa yang tengah di lakukan oleh dua orang yang kini sedang ada di Bengkel.
Bukan kah sama seperti orang kebanyakan yang ke datang, menyerviskan kendaraannya, seperti yang sedang guru dan teman nya lakukan yaitu mengambil mobil yang telah selesai di kerjakan.
Tapi kenapa di memikirkan hal yang lain seperti kencan begitu, kencan antara guru dan siswa paling pintar di mapelnya.
ooohh ****
Aldi lalu menggeleng kepalanya untuk menghapus pikiran nakal yang tengah bersarang di kepalanya.
Sedangkan orang yang di pikirkan oleh Aldi, kini juga tengah makan siang di sebuah restoran cepat saji setelah keluar dari Bengkel tadi.
Amel memaksa Angga supaya dia mau menemani dia makan siang sebagai permintaan maafnya karena telah salah menuduh muridnya sendiri.
Angga yang tadinya ingin mengajak Amel makan siang pun masih mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakannya tapi sepertinya alam sedang berpihak padanya, karena dengan sendirinya Amel yang memintanya untuk makan siang dengannya
Angga yang memang berharap bisa makan bersama Amel pun, tidak bisa mengabaikan ajakannya bukan. Dia merasa menjadi pria paling beruntung hari ini bisa makan berdua saja dengan gadis yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
Angga saat ini dia tidak ingin merusak suasana hatinya dengan memikirkan hal itu. dia ingin setidaknya punya dua kenangan indah bersama Amel.
Mereka makan dalam situasi canggung sebab kesalahpahaman yang sempat terjadi. Namun akhirnya Amel membuka obrolan kembali untuk mencairkan suasana yang dirasa sangat membosankan jika hanya makan dalam diam.
"Angga" panggilnya
"Iya Bu, kenapa?" Angga sebenarnya sudah tidak tahan lagi dengan panggilan itu tapi ya dia cukup sadar diri untuk tidak berbuat seenaknya pada guru nya itu.
Sedangkan Amel dia menatap dalam pada anak muridnya yang duduk berhadapan dengan dirinya.
Dia terus menatap Angga tanpa mengalihkan pandangannya, Amel merasa dari awal sejak dia mengajar di kelas 12 itu, dia merasa pernah bertemu dengan salah satu muridnya itu tapi di mana.
Seakan ada sesuatu di sana, di mata pemuda yang kini juga tengah menatap balik ke arah nya. Ada emosi yang memuncak kala dia berhadapan dengannya.
Mata itu, sebenarnya mengingatkan dia akan seorang anak kecil yang dulu berjanji akan menikahinya, sungguh dia merasa heran dengan dirinya sendiri, padahal dia sudah bertunangan tapi masih mengharapkan ADIK KECIL yang ditemuinya di tengah hujan.
__ADS_1
tapi itu dulu, sudah sangat lama sekali apa mungkin dia masih mengingat akan kenangan di bawah guyuran hujan.
Amel larut dalam kenangan masa itu sehingga dia mengabaikan kan Angga yang memanggilnya dari tadi.
"Bu, Bu Amel"
"Bu" panggil Angga lagi
Tapi orang yang di panggilnya itu seperti tengah berada dalam kilasan masa lalu yang cukup lama hingga dia masih tidak merespon panggilan darinya.
Angga yang merasa di abaikan pun memberanikan diri menepuk lembut tangan Gurunya itu untuk menyadarkannya dari lamunan. Tepukan lembut yang Angga berikan rup nya masih gagal membawa kembali Amel yang masih larut dalam memorinya.
Dan Angga, dia tidak menyerah dia pun menepuk tangan guru nya dengan cukup keras hingga membuat Amel tersadar dari lamunannya.
"Iya Angga kenapa?" tanyanya
"Ibu tadi memanggil saya tapi saat saya jawab ibu malah melamun" jawab Angga sambil tersenyum
"Oh itu, ibu mau minta maaf sama kamu, tadi ibu sudah menuduh kamu"
"Iya Bu gak papa."
"Tanyakan saja Bu" jawab Angga sambil menaruh kembali minuman yang tadi di pesannya.
"Kamu mau melanjutkan kuliah di mana?"
"Pinginnya sih di Yogyakarta Bu."
"Kenapa kamu memilih Yogya untuk studymu"
"Saaya rasa di sana saya akan merasa lebih fokus pada kuliah saya dan saya menyukai suasana di pedesaan" jawab Angga lagi
"Kenapa tidak di sini saja, di sini banyak universitas terkemuka yang setara dengan yang ada di sana" kata Amel mengemukakan pendapatnya
"kalau kamu di sana kamu tinggal di mana, sama siapa, dan tidak ada yang mengawasi kamu kalau kuliah di sana Angga" ucapnya seakan dia tidak rela di tinggal oleh siswanya itu.
__ADS_1
Angga dia terlihat bingung dengan ucapan Gurunya, dia merasa seakan Bu Amel menginginkan dia, ah tidak, dia seperti menyuruh nya untuk melanjutkan pendidikannya di sini.
Tapi bagaimana dia bisa melanjutkan kuliahnya di sini, sedangkan pilihannya untuk berkuliah di tempat yang jauh adalah untuk menjauhi dirinya.
Cukup kemarin saja dia merasakan sakit hati
saat melihat wanita itu bersama calon suaminya, bagaimana jika nanti dia melihatnya berada di pelaminan bersama suaminya, itu seakan menaburkan garam pada luka yang belum sembuh bukan?.
Lama dia terdiam lalu dia menjawab kembali apa yang menjadi keinginan Guru cantiknya.
"Saya ingin belajar hidup mandiri Bu" ucap nya sambil menunduk kepalanya, tak sanggup dia berlama-lama menatap mata yang selalu bermain main di pelupuk matanya saat ia ingin tidur mengarungi mimpi.
"Kenapa tidak di sini saja sih" ucapnya denga sedikit paksaan dan sedikit manja di nada bicaranya.
"Kamu gak kasian sama orang tuamu kalau kamu pergi jauh"
"Mereka malah menginginkan saya kuliah di luar negri Bu!" jawab nya lirih
"TIDAK BOLEH" ucapnya dengan nada sedikit membentak.
Apakah Amel lupa ataudia tidak menyadari bahwa dia bukan siapa-siapanya Angga kenapa dia seolah tidak ingin di tinggal jauh oleh murid nya itu.
Bukankah hubungan mereka hanya sebagai Guru dan murid saja, lalu apa hak dia melarang Angga untuk kuliah di tempat yang jauh.
apa yang sebenarnya terjadi pada hati Amel dia berlaku seperti seorang kekasih yang tidak ingin di tinggal jauh oleh Angga.
sedangkan Angga dia semakin bingung dengan sikap posesif yang tiba-tiba di tunjukkan oleh Amel.
Apakah Gurunya itu sudah menyadari siapa dirinya tapi apakah itu mungkin sedangkan hanya dia yang tau nama salah satu di antara mereka karena saat dulu dia sama sekali tidak menyebutkan namanya.
tidak itu tidak mungkin.
Angga masih diam memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di sini, apa yang tengah di ras kan Amel, apakah mereka memiliki ikatan yang kuat hingga tanpa mereka sadari mereka saling menginginkan.
Amel yang sedari tadi mencecar Angga dengan kata-kata yang tidak seharusnya dia ucapkan masih bergelut dengan pikirannya sendiri dia mencoba menelusuri apa yang tengah ia rasakan, perasaan apa yang kini tiba-tiba datang di dalam hatinya.
__ADS_1
Hingga sebuah kata yang keluar dari mulut Angga menyadarkan kekeliruannya.
"Alasan apa yang mengharuskan saya memenuhi keinginan Ibu"