
Angga mengayunkan langkah kakinya masuk ke dalam salah satu tenda yang ada di sana.
Dia pun menghampiri sang penjual makanan yang ada di sana lalu memesan menu makan malam mereka.
"Nasi gorengnya dua porsi ya bang sama sate ayam nya 20 biji"
"Mau bungkus apa makan di sini mas?"
"Makan disini saja bang."
"Mau minum apa mas?" tanya sang penjual dengan ramah.
"Ada jus mangga bang?"
"Ada bang mau satu atau dua?"
"Dua bang, saya tinggal dulu ya?" pamit Angga kemudian pergi ke tenda di sebelah yang menjual martabak.
Tadi Amel katanya ingin makan nasi goreng dengan martabak bukan, maka dari itu dia pun memesannya sekaligus supaya nanti bisa langsung makan tanpa menunggu salah satunya.
Angga pun menghampiri Amel yang masih diam di dalam mobil posisinya masih sama seperti saat dia turun dari mobil tadi.
"Kenapa belum turun kak?"
Amel menoleh ke arah Angga, menatapnya sejenak lalu memalingkan wajahnya kembali dan turun dari mobil lalu menutup pintu mobil dengan sedikit keras.
Entah apa yang ada di pikiran guru fisika itu kenapa tiba-tiba dia merasa marah pada Angga. Dia seperti seorang pacar atau mungin istri yang sedang marah pada pasangannya.
Sedangkan Angga terdiam di sana, bingung dengan sikap Gurunya yang tengah merajuk padanya. Tapi apa salahnya, apa karena dia meninggalkannya tadi di mobil atau mungkin juga karena dia memesan makanan tanpa menunggu dirinya.
Bukankah tadi dia sudah mengatakan apa yang dia ingin makan apa, dan tadi saat turun dia juga sudah mengajaknya bukan.
Lalu di mana lagi salah nya?.
Angga menggeleng dengan senyum yang mengembang di bibirnya melihat tingkah amel yang tiba-tiba menjadi manja padanya satu hari ini.
Tak mau membuat Amel tambah merajuk dia pun menghampiri Amel, dan dengan segala kelancangannya Angga menggandeng tangan Amel yang berdiri tak jauh dari mobil yang ia parkir di sana. Lalu mereka masuk ke dalam mencari tempat duduk yang masih kosong, Amel menarik lembut tangannya yang tengah bertaut dengan tangan Angga sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang kosong dengan satu tangannya yang lain.
Angga menoleh ke arah Amel dan mengikutinya duduk di salah satu bangku setelahnya Amel duduk di sana.
Namun tidak dengan Angga dia ingin mengambil pesanan martabak yang tadi telah ia pesan sebelumnya.
"Mau kemana?" tanya Amel tanpa melepas tangannya
"Ke tenda sebelah mau ambil martabak" jawab Angga masih dengan senyum manisnya.
" jangan lama-lama."
"Iya"
Genggaman tangan mereka pun terlepas namun lagi lagi Angga berbuat sesuatu yang membuat Amel merasakan getaran yang tak bisa di hatinya saat tangan Angga mengelus kepalanya dengan sayang.
Kurang ajar memang anak muridnya itu, tapi dia tidak merasa keberatan sama sekali maleh dia menikmati belaian tangan Angga di kepalanya.
__ADS_1
" Tunggu di sini jangan kemana-mana" kata Angga masih dengan tangan kurang ajarnya masih berada di kepala Amel.
Angga tampaknya sudah tidak peduli dengan tanggapan orang lain jika dirinya kedapatan jalan berdua dengan gurunya sendiri.
Dia berjalan meninggalkan Amel di sana untuk mengambil pesanan martabak nya saat sudah sampai di sana ternyata martabaknya sudah siap, lalu membayarnya membawa martabak itu ke hadapan Amel yang tengah menunggu dirinya.
Semua pesanan mereka tertata rapi di meja, tanpa membuang waktu mereka lalu menyantap makanan tersebut satu persatu.
Angga mengambil sate yang ada di depannya, tangannya terulur ke arah Amel yang tengah menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Amel terteguh sebentar lalu membuka mulutnya menggigit potongan daging yang di sodorkan Angga padanya.
Dia mengunyahnya dengan senyum yang merekah di bibir tipisnya. Dia merasa semakin jauh terjatuh dalam pesona murid nya itu.
"Enak?" tanya Angga sambil menggigit sate yang sama dengan yang Amel makan.
Amel hanya mengangguk, mulutnya penuh dengan makanan, membuat tidak bisa bersua.
"Kenapa kamu makan sate bekasku angga?" tanya Amel.
"Emang kenapa?"
"Kamu gak jijik"
"Enggak tu biasa aja"
jawab Angga dengan santainya, memang apa masalahnya jika dia makan bekas bibirnya Amel. Apa dengan makan bekas bibir Amel itu artinya mereka tengah berciuman.
Tentu tidak bukan.
"Kamu juga sering seperti itu pada wanita wanita mu ngga?"
Angga yang tengah makan martabak pun tersedak mendengar pertanyaan frontal dari mulut Amel, bisa bisa nya Amel menuduh nya seperti itu.
"Kenapa tanya mu seperti itu kak?"
"Ya siapa tahu kan kamu memang romantis gitu ke semua orang."
gue cuman mau kalo itu elu mel.kata Angga dalam hati.
"Enggak pernah ini yang pertama kalinya"
"Sama pacarmu tidak pernah" tanya Amel yang masih tidak percaya dengan apa yang Angga ucapkan.
Angga diam dia tak mau menyahuti pertanyaan Amel yang dari tadi tengah menggorek tentang hubungan asmaranya.
Amel yang merasa di acuhkan pun menatap ke arah Angga yang tengah makan dengan begitu lahap.
"Angga"
"Angga"
" iihhh kamu di panggil gak mau jawab sih!" kesal Amel dengan bibir yang sudah maju beberapa sentimeter ke depan.
__ADS_1
sedangkan Angga yang melihat itu terkekeh geli melihat Amel yang seperti begitu lepas saat tidak dalam lingkungan sekolah.
Dia menjadi dirinya sendiri yang ternyata sangat manja pada orang yang membuatnya nyaman. Mungkin dia lupa bahwa dia adalah seorang guru dari pemuda yang ada di depannya.
Nyatanya Amel malah bersikap layaknya seorang kekasih ingin menarik perhatian pacarnya.
"Aku gak pernah pacaran" katanya setelah lama mereka terdiam
"Oya"
"Aku pernah bilang bukan kalau aku sedang menunggu seseorang sejak lama"
"Jadi kamu belum pernah pacaran karena nunggu in dia gitu!"
"Iya dong aku kan tipe cowok setia"
" kalau suatu hari nanti kalian bertemu lagi apa yang akan kamu lakukan padanya"
"Menikahinya mungkin" jawab Angga santai sambil makan makanannya yang sudah sedikit dingin karena obrolan mereka
"Kalau dia gak mau bagaimana?"
"Harus mau dong."
"pemaksaan itu namanya"
"Mana ada orang dia sendiri yang minta aku nikahin" ucapnya tanpa ada yang mendengar ucapannya.
"Biarin"
"Kalau dia udah nikah gimana?"
"Ku minta sama suaminya, HAHAHHAHAH."
"Gila kamu" kata Amel dengan suara sedikitpun berbisik takut ada yang mendengar ucapannya
"Kamu sendiri gimana?"
"Apa pak Bobby pacar pertama sekaligus suami pertama ibu." tanya Angga sambil menatap ke arah Amel.
"Bukan"
"Lalu siapa"
"Kamu gak perlu tau"
"Yaaa aku kan jadi penasaran"
""Dia mungkin sudah lupa sama aku"
"Kamu gak ngangen in mungkin jadi di lupain sama dia"
Tapi saat Amel mau menyahuti ucapan Angga ada suara cewek yang tengah memanggil.
__ADS_1
"Angga kamu kok ada di sini"