MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Bimbang


__ADS_3

Siapa pun itu jika kesungguhan nya di ragukan pasti akan sangat kecewa, begitu juga dengan Angga, dia sangat kecewa dengan apa yang di dengarnya saat ini.


Kesungguhan dan kesetiaan nya hanya di anggap lelucon oleh Amel, tapi bukan kah Amel tidak tau jika anak kecil yang dulu pernah berjanji pada nya adalah pria yang kini ada di depan nya.


Mungkin jika Amel mengetahui bahwa dia orangnya maka dia akan memeluk sang pemilik raga itu dan enggan untuk melepasnya.


Namun egonya yang cukup tinggi membuat nya tidak mau membuka rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun kecuali Fiona, kakak perempuannya.


Tak terkecuali semua teman dan juga Assisten pribadinya, lalu haruskah dia marah, haruskah dia kecewa akan kenyataan bahwa Amel meragukan janjinya.


Apakah mungkin dia harus melupakan tentang janjinya itu atau mengakui tentang kebenaran yang ada.


Rasa kecewa membuat nya terdiam dengan tangan yang berada di dalam genggaman tangan Amel, sejak tadi Angga tidak menjawab panggilan dari Amel.


Membuat Amel memberanikan diri untuk memegang tangan pria yang kini menjadi tempat paling nyaman untuk nya mendapatkan perlindungan.


"Angga''


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu"


Kata itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulutnya membuat Amel mengerutkan keningnya seakan bertanya.


"Sama seperti dulu, apa?"


"Apanya kak?" tanya Amel


"Itu yang kamu bilang katanya aku masih sama seperti yang dulu itu, apa maksudnya" mendapati pertanyaan seperti itu Angga langsung gelagapan namun dia berusaha tetap tenang agar Amel tidak mencurigai bahwa dirinya lah orangnya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"HAAH"


"Kapan kita pernah bertemu sebelumnya, bukankah pertama kita ketemu waktu kakak pertama kali mengajar di kelas waktu itu?"


"Tapi sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya Angga"

__ADS_1


"Kapan?" tanyanya dengan raut wajah yang seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.


Sungguh akting mu sangat luar biasa Angga mungkin setelah ini kamu daftar saja sebagai artis pemeran drama saja, lebih cocok dengan karaktermu yang sedikit,,, menipu.


"Entahlah aku juga tidak yakin!"


"Tapi saat tadi mau pakaikan kalung ini aku merasa bahwa kamu lah pemilik kalung ini!" Angga membatu di sana haruskah dia mengatakan kejujuran ini haruskah sekarang dengan keadaan yang sudah berbeda.


Sebisa mungkin Angga mencoba tenang saat tebakan Amel yang tepat mengenai sasaran nya, tapi jika Amel tau bahwa dia orang yang di tunggu nya itu apakah dia akan bahagia.


Bukankah tadi dia meragukan tentang dirinya Angga bimbang di sana antara ingin mengatakan atau tetap membawa rahasia ini sampai di kehidupan selanjutnya.


Amel yang sudah tak tahan lagi menahan rasa kantuknya pun menyandarkan kepalanya di pundak pria yang kini sedang dilanda kebingungan akan pilihan yang harus ia pilih.


Dengan memerlukan lengan kekar pemuda itu dia pun hampir terlelap jika saja Angga tidak menyuruh nya untuk pindah ke kamarnya.


"Tidurlah di kamar kak, jangan tidur seperti itu nanti badan Kakak sakit semua!" perintahnya pada Amel.


"Lalu kamu tidur dimana?"


"Ya udah aku pulang aja lah" katanya sambil menghentakkan kakinya lalu beranjak dari sana dengan gerakan kasar nya.


"Kenapa pulang udah tengah malam nanti kalau kakak kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Angga yang panik saat melihat wanitanya tiba-tiba ngambek tanpa dia tau penyebabnya.


"Memang apa kamu peduli kalau aku kenapa-kenapa hu?"


"Pasti lah Kak aku peduli biar bagaimanapun kakak adalah guru cantik kesayangan ku"


"Guru ya, oke baik lah''


"Aku pulang saja, tak baik jika seorang guru dan muridnya sendiri berada dalam satu Apartemen yang sama di tengah malam seperti ini" lanjut amel sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar.


Ada rasa nyeri di relung nya saat Angga hanya menganggap dirinya hanya sebatas itu, tapi bukankan semua itu benar adanya, lantas dia ingin Angga menganggap dirinya apa.


Pacar bukan,

__ADS_1


Kekasihnya juga bukan,


Ah iya apa Amel ingin Angga menganggap dirinya sebagai selingkuhan nya.


Oh no jangan sampai dia lupa akan dirinya sendiri, bukan kah dia calon istri dari dosen muda yang sangat di gilai oleh para mahasiswa bimbingannya.


"Kak tunggu!" Angga langsung menarik tangan amel saat dia akan membuka pintu.


"Tadi katanya tidak mau pulang terus sekarang kenapa tiba-tiba berubah"


"Gak papa lebih baik aku pulang toh sama saja bukan, sama-sama tidur sendiri"


Sial mulut ku ini kenapa bisa ngomong seperti itu, bodoh kau Amel, lihat dia menatapmu seperti itu, kemana harga diri mu Amel. batin Amel merutuk dirinya sendiri bisa-bisanya dia berkata seperti wanita kesepian yang haus akan pelukan laki-laki.


Sedangkan Angga langsung mengulum senyum nya lalu menarik tubuhnya Amel ke dalam pelukan nya.


"Baik lah ayo aku temani kakak ku ini tidur" kata Angga seolah apa yang akan mereka lakukan itu bukan lah kesalahan fatal yang bisa saja membuat keduanya langsung di nikahkan saat itu juga lalu apa yang mereka lakukan di ketahui oleh orang lain.


Amel yang terlanjur kesal dengan ucapan Angga yang hanya menganggap dirinya sebagai gurunya pun berontak dari pelukan siswanya itu.


"Gak aku mau pulang saja" ucapnya dengan nada yang sedikit membentak.


"Di luar hujan kak" kata Angga tanpa melepaskan pelukan mereka dia malah semakin erat memeluk wanita yang kini tengah berusaha melepaskan diri darinya.


"Biarkan saja mau hujan badai sekalipun" jawab Amel yang masih terus menggerakkan tubuhnya dalam pelukan Angga.


"Diamlah kak kalau kakak tidak mau kehilangan apa yang seharusnya kakak berikan pada suamimu itu" ketusnya pada Amel yang seketika itu diam mematung.


Dia cukup faham dengan apa yang di katakan Angga, biar bagaimanapun pemuda itu sudah memasuki masa remaja lanjut yang sudah memiliki nafsu pada lawan jenisnya.


Apa lagi dari tadi tubuh mereka yang menempel satu sama lain pastinya akan sangat tidak aman bagi Amel jika terus bergerak di sana, mendapati amel yang tiba-tiba terdiam pun membuat Angga menarik sudut bibirnya lalu mendaratkan kecupan singkat di kepala wanita yang baru saja tadi dia sebut sebagai gurunya.


Namun apa yang dia lakukan pada gurunya itu bukan kan sebuah tindakan paling lancang yang pernah terjadi antara guru dan muridnya, mana ada seorang murid dengan berani nya memeluk dan mencium puncak kepala gurunya sendiri.


Rupanya wanita yang merupakan gurunya itu juga tidak keberatan atas apa yang di lakukan siswanya itu pada dirinya yang nota Ben harus di hormati oleh semua muridnya.

__ADS_1


Tapi agaknya Angga mendapatkan izin khusus yang itu hanya berlaku untuk nya.


__ADS_2