
Malam ini adalah malam yang sangat di harapkan oleh salah satu anak manusia yang telah lama menantikan waktu untuk menghabiskan waktu bersama dengan wanitanya.
Namun agaknya dia sedikit menyesal, tadi harusnya dia tidak mengajak seseorang yang di anggap nya teman kencannya itu untuk makan di sana.
Tapi apa mau dikata semua sudah terlanjur bukan, dia tidak punya kuasa untuk memundurkan waktu beberapa jam ataupun beberapa menit yang lalu, untuk dirinya membawa pergi wanitanya dari tempat yang mereka tempat saat ini.
Harusnya makan malam ini akan menjadi kenangan yang akan selalu dia ingat sampai kapan pun. semua itu karena ada dua manusia yang tidak ingin dia lihat sampai hari esok.
Angga sebisa mungkin bersikap tenang berada di antara mereka, ada rahasia dalam dirinya yang bisa saja tiba-tiba terkuak tanpa di sengaja.
Apalagi ada dua wanita di sana yang bisa saja langsung akrab jika sudah berbicara tentang rahasia laki-laki. seperti saat ini dia hanya bisa menahan nafasnya saat wanita di depannya itu mencoba mengintrogasi Asisten pribadinya itu.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Amel
"Silahkan apa yang ingin anda tanyakan pada saya"
"Apakah Angga benar-benar akan berkuliah di Yogyakarta" tanya wanita itu yang yang tak lain dia adalah Amel. Mendengar itu Angga sedikit bernafas lega dari ketegangan yang tengah ia rasakan.
"Iya, kemarin dia sudah membicarakan soal keinginannya untuk kuliah di sana."
"Alasan apa yang membuat memiliki berkuliah di sana?" tanyanya sekali lagi
"Saya tidak tahu untuk alasannya itu silakan anda tanyakan langsung saja pada dia" jawab Hendra
"Saya pikir dia lebih baik kuliah di sini saja agar dekat dengan orang tuanya"
Tunggu ini, kelihatan sedikit ada ego di sini, dia memang Gurunya tapi bukankah dia tidak punya hak untuk menentukan dimana anak didiknya melanjutkan kuliahnya.
Apa yang sebenarnya terjadi, sesuatu yang mungkin tidak di ketahui olehnya, dan tatapan keduanya seperti bukan lagi tatapan antara guru dan murid.
Satu lagi jangan lupakan tentang apa yang tadi di katakan oleh Yani kekasihnya, saat Yani memergoki mereka beradegan mesra di sana, rupanya dia harus mempercayai apa yang di dengarnya dari mulut sang kekasih, setelah apa yang dia lihat dan dengar saat ini.
"Mungkin dia ingin memiliki pengalaman hidup di tempat yang berbeda" jawab Hendra yang sepertinya dia akan mencoba memancing pertanyaan yang menjurus ke hal yang lebih pribadi.
"Atau mungkin ingin mencari jodohnya di sana" kata Hendra seakan memancing perasaan kedua manusia yang tidak menyadari perasaan yang mereka miliki.
__ADS_1
Angga menjatuhkan sendok yang ia pegang, mendengar ucapan ngawur Asisten pribadinya itu, sementara Amel dia menatap dingin ke arah Angga, entah mengapa hatinya begitu sakit kala mendengar kata yang terucap dari mulut Hendra.
"Bukannya Angga sudah punya pacar ya?"
Duuar.
Yani seakan dia menambahkan Bahan bakar pada api yang mulai membakar hati wanita yang duduk di sampingnya. Angga yang mendengar itu menatap nyalang kepada Yani.
Dia bahkan tidak pernah mengatakan apapun padanya tapi kenapa dia punya kesimpulan seperti itu.
"Ooohhh, apa pacarnya orang Yogyakarta?"
"Lho bukankah kamu pacarnya Angga?" tanya Yani yang masih bingung dengan status dua orang yang tak sengaja ia temui.
"Saya Gurunya Angga"
"Gurunya yang benar saja, masak seorang Guru mau jalan berdua dengan muridnya apalagi dia sedang sakit" kata Yani menjelaskan.
"Kecelakaan, dari tadi kalian mengatakan bahwa Angga kecelakaan tapi saat saya bertanya kalian malah mengalihkan perhatian saya" kata Amel yang terdengar meninggikan suaranya.
"Benar kemarin kamu kecelakaan setelah mengantar saya?"
mendapati pertanyaan seperti itu Angga menghelakan nafas lalu ia pun menjawab pertanyaan itu dengan sedikit malas.
"Iya"
mendapati jawaban yang sebenarnya tidak ingin dia dengar tersebut, membuat Amel sangat panik lalu memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana bisa kamu kecelakaan?"
"Apa lukanya parah?"
"Kamu gak papa kan Angga?"
"Mana yang luka aku ingin lihat?"
__ADS_1
Wajah panik itu terlihat begitu menggoda di mata Angga, apa lagi kini Amel telah berdiri tepat di sampingnya sambil memegang kedua yang menyuruhnya berdiri, tangan itu beralih pada jaket yang ia kenakan dan akan di buka olehnya.
Tanpa Amel sadari tindakannya itu membuat dua orang yang ada di sana menjadi bingung dengan sikapnya, apa lagi Yani mulutnya sudah gatal jika untuk melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ia tahan.
"Sebenarnya kalian ini pacaran atau bagaimana sih, cara kalian berdua bersikap itu bukan layak nya guru pada murid dan begitu pula sebaliknya"
Mendengar itu Amel menghentikan gerakannya yang tadi spontan dia lakukan, lalu menoleh kearah Yani yang menatapnya dengan wajah penuh keingintahuan.
"Kenapa tidak menjawabnya"
"Kalian beneran pacaran ya?" tanya Yani lagi
"Eh tidak hubungan kami hanya sebatas Guru dan murid saja" jawab Amel setelah menguasai keadaan, ia membuang pandangannya ke arah lain.
Dia teramat malu untuk menatap wajah mereka semua yang ada di sana, sedangkan Angga dia merasa biasa saja supaya Amel tidak merasa malu dengan tindakan spontan yang dia lakukan.
"Aku lapar?, bisakah kita makan sekarang?" kata Hendra saat seorang pelayan datang membawa makanan yang tadi dia pesan.
Pertanyaan Hendra itu seakan menjadi kata penyelamatan buat mereka yang tengah terpojok dengan situasi yang mereka ciptakan sendiri.
Tanpa menjawab, kedua orang itu langsung menyuapkan nasi yang ada di piring mereka untuk menghilangkan rasa gugup yang ada, juga menghindari pertanyaan yang mungkin saja akan terlontar kembali.
Tak lagi ada suara yang terdengar dari empat orang yang kini tengah menikmati makan malam itu, hanya ada kecanggungan yang terlihat. Baik Angga ataupun Amel mereka tidak lagi merasakan nikmat makanan yang santap, nafsu makan mereka telah menguap begitu saja.
Hanya Hendra dan Yani saja yang tampak menikmati makan malam itu, mereka seakan tidak tau atau mungkin pura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan kedua orang yang ada di sana.
Angga yang melihat Amel tidak menghabiskan nasi gorengnya pun bertanya.
"Kenapa nasinya tidak di habiskan kak?" tanya Angga yang sepertinya lupa dengan kedua pasang telinga yang ada di sampingnya.
KAK
apa mereka tidak salah dengar Angga memanggil Gurunya dengan sebutan "kak". Hendra dan Yani pun saling menatap satu sama lain tapi enggan mengomentari apa yang mereka dengar.
Mereka berdua berfikir bahwa ada yang salah dengan pendengaran masing-masing, tapi apa yang mereka lihat saat ini membuat jiwa kepo dari seorang Yani tidak bisa lagi dia tahan.
__ADS_1
"Kalian ini pacaran ya?"