
Seseorang bisa saja bukan melakukan hal yang kadang tidak di sadari oleh mereka, karena sudah terbiasa atau juga refleks yang menyebabkan mereka melakukan sesuatu yang memancing pendapat berbeda dari orang yang melihat atau mendengar ucapannya.
Seperti apa yang kini terjadi pada Angga refleks dari ucapan yang dia ucapan membuat dua orang di sampingnya menilai ada hubungan lain di antara mereka.
Bukan hanya tentang panggilan yang ia sematkan untuk guru yang kini juga menjadi teman kencannya itu. Tindakan yang dia lakukan seakan menguatkan praduga yang bersarang di kepala Hendra dan Yani.
Biasanya orang yang tidak mempunyai hubungan apapun tidak akan mau atau bahkan mungkin akan merasa engan untuk makan satu piring menggunakan sendok yang sama dengan orang lain.
Tapi tidak dengan Angga dia menghabiskan sisa nasi yang ada si piring Amel. Bukan dua orang saja yang sebenarnya kaget melihat itu, Amel juga begitu dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Namun dia juga tidak bisa menghentikan apa yang Angga lakukan sehingga dia hanya bisa menahan nafasnya kala Yani kembali berucap.
"Kalian berdua pacaran ya?"
Ting
sendok makan yang ada di tangan Angga langsung jatuh dari tangannya, saat mendengar kalimat yang di ucapakan Yani. Lalu dia pun menatap Amel yang salah tingkah mendapat pertanyaan yang sedari tadi ia hindari.
"Saya sudah bertunangan"
Jawab Amel sambil menunjuk cincin tunangan yang ada di jari manisnya.
"Jadi kalian sudah tunangan?"
" Tapi kapan kok aku gak di ajak sih mas?" tanya Yani dengan nada yang sedikit merajuk.
"Lha di ajak kemana, orang aku gak kemana-mana?" jawab Hendra yang merasa bingung dengan pertanyaan dari kekasihnya itu.
"Itu Bos kamu, tunangan kok aku gak di ajakin ke sana, kamu malu ya bawa aku ke sana?" jawab Yani dengan nada kecewa.
"Bos ku yang mana?" tanya Hendra
"Emangnya Bos kamu ada berapa sih, Mas?"
"Maksud kamu itu siapa sih yang tunangan?"
"Angga udah tunangan mas masak kamu gak tau?" jawab Yani dengan bibir yang sudah ia majukan beberapa senti.
"HAAH, Angga tunangan kok aku gak di kasih tau?"
jawab Hendra yang terkejut mendengar ucapan Yani. Hendra lalu menatap ke arah Angga.
"Kamu tunangan kok gak bilang-bilang!" tanya Hendra dengan kesal.
"Siapa yang tunangan?" jawab Angga enggan menanggapi pertanyaan itu.
"kamu?" teriak pasangan kekasih itu dengan suara yang cukup keras membuat semua orang menatap kearah mereka.
__ADS_1
"Lha kapan aku tunangannya"
"Orang yang bilang sudah tunangan Bu Amel kok jadi aku?"
"Saya memang sudah bertunangan tapi tidak dengan Angga" jelas Amel yang sedari tadi menutup mulutnya.
"Udah jelas belum?"
"Jadi orang jangan sukanya main tuduh aja."
"Kalian itu yang harusnya cepetan nikah jangan cuman pacaran aja tapi g cepet di halalin ntar di ambil orang baru tau rasa lalu buatin aku ponakan yang lucu juga, jangan lupa"
jawab Angga lengkap dengan sindiran.
"Modalnya masih kurang bos" kata Yani mencari alasan sebab dia juga masih ingin menikmati masa mudanya.
"nikah tinggal nikah aja kenapa musti butuh modal"
"Orang tinggal datang ke KUA siapin cincin sama mahar , udah Sah" jawab Angga Pengan pemikiran dangkalnya.
"Gak semudah yang di omongin, kalo cuman ngomong sih, ponakan ku juga bisa" kata Yani saat mendengar ucapan Angga yang menggampangkan soal pernikahan.
"Kalo bisa praktikin ntar gue ikutin, iya gak yank" kata Hendra
"Bener itu coba aja kalo bisa, kita mah anak buah bisanya cuman ngikutin atasan" jawab Yani sambil terkikik melihat wajah Angga yang memerah.
"Kamu sudah punya gebetan, Angga'' tanya Amel yang sedari tadi hanya memperhatikan perdebatan tiga orang di depannya.
"Enggak"
"Ngaku aja Bos" kata Yani
"Sudahlah kita pulang saja Bu sudah jam 10 malam"
"Jam 10"
"Jangan bercanda kamu Angga'' kata Amel yang kaget sambil melirik jam yang ada di tangannya.
Dan benar saja sekarang sudah jam 10, dia pun langsung berdiri di ikuti oleh Angga yang mengekor di belakangnya. Tak lupa dia mengeluarkan kartunya pasa Hendra untuk membayar makanan yang tadi mereka makan.
Termasuk makanan yang juga di pesan oleh Hendra dan Yani.
Amel masuk ke dalam mobil di susul Angga yang juga masuk dan duduk di balik kursi kemudi, tak ada obrolan yang ingin mereka bahas sampai mobil yang mereka kendarai telah berlalu dari warung makan.
mobil terus melaju ke arah Bengkel di mana Angga meninggalkan motornya di sana, namun saat di pertigaan jalan Amel meminta Angga untuk menepikan mobilnya.
Tanpa bertanya Angga langsung menepikan mobilnya sesuai dengan apa di perintahkan oleh gurunya.
__ADS_1
Lama mereka saling diam tanpa ada kata yang terucap dari bibir keduanya, akhir Angga pun bersuara.
"Kenapa meminta berhenti disini Bu"
"Bu" kata Amel saat mendengar panggilan yang di tujukan oleh Angga membuat Amel langsung menoleh pada Angga.
"Kenapa?" kata Amel
Angga bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Amel dia yang meminta berhenti tapi dia juga yabg bertanya kenapa.
Apa apa sebenarnya ini.
"Apa maksud Ibu, eh kakak"
"Sebegitu mudahkan kamu melupakan permintaan ku tadi Angga'' ucap Amel masih dengan mata yang menatap lurus.
"Maafkan aku kak, aku sudah terbiasa memanggil Ibu padamu"
"Iya aku tahu itu"
"Angga"
"Bolehkan aku meminta tolong"
"Minta tolong apa kak?"
Amel terdiam sejenak memikirkan apa yang sedang ia rasakan saat ini, dia bingung dengan hatinya sendiri, dengan perasaan yang ada, tentunya dengan janji yang masih dia ingat.
"Bolehkah aku memelukmu satu kali saja"
Permintaan yang di iringi dengan deraian air mata itu sungguh menyayat hati untuk pria yang ada di sampingnya.
Pria yang mencintai dirinya dalam diamnya itu lalu menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
Tangis yang sedari tadi dia tahan kini akhirnya tidak dapat dia bendung lagi, dia menangis dalam dekapan hangat seseorang yang sebenarnya sedang dia tunggu.
Amel tidak lagi bisa menahan emosi dan air mata yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun, tapi saat ini dia menangis dalam pelukan murid yang dia inginkan untuk jadi suaminya.
Air matanya mengalir deras dan membasahi kaos yang di gunakan oleh orang yang kini tengah memeluknya dengan segenap jiwanya.
Angga pun merasakan sakit melihat wanitanya menangis dalam pelukannya.
Apa yang membuat menangis begitu pilu hingga dia sepertinya enggan melepas pelukannya.
Siapa.
Siapa yang membuat wanitanya menangis.
__ADS_1
Apa yang tengah di rasakan pujaan hatinya itu.