
Hujan turun membasahi bumi menghantarkan hawa dingin, di tengah gelapnya malam, kebanyakan dari mereka telah terlelap di dalam selimut, mengistirahatkan tubuh, jiwa, dan otak yang seharian ini sudah bekerja kerja.
Namun masih ada segelintir orang yang masih melakukan aktivitas mereka, aktivitas yang hanya bisa mereka lakukan saat malam hari tentunya.
Di antara banyaknya orang yang masih terjaga itu, ada dua anak manusia yang terjebak di dalam mobil, posisi mereka masih sama seperti beberapa menit yang lalu.
Pelukan mereka bukannya terlepas malah semakin erat, entah apa yang mereka pikirkan seakan tidak akan pernah lagi bisa untuk memeluk satu sama lain.
Masih di tengah kebingungan yang ada di dalam hatinya, pria itu terus merengkuh tubuh Amel yang menangis hebat dalam pelukannya.
Siapa?
Siapa yang melakukan hal yang menyakitkan itu pada wanitanya, dunia Angga seakan runtuh kala di Melihat Amel begitu rapuh, seakan dia memperlihatkan bahwa dia tidak hatinya tidak setegar yang biasa dia lihat.
Isak tangis masih terdengar walaupun tidak seperti awal tadi, dalam posisi berpelukan Angga mencoba bertanya, apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa kak?"
"Kenapa kakak menangis?"
Amel menggeleng, dia tidak mau menjawab pertanyaan Angga dia masih tetap berada dalam pelukan hangat siswanya itu.
Melihat itu Angga pun terdiam kembali sambil terus merengkuh Amel dalam dekapannya sambil mengelus rambutnya, sebenarnya Angga ingin sekali mengecup kening yang kini tepat berada di depan bibirnya.
Namun agaknya dia masih punya sedikit kewarasan untuk tidak melakukan hal itu pada wanita yang kini sedang tidak baik-baik saja.
Angga membiarkan Amel menumpahkan semua emosi yang selama ini mungkin membelenggunya, dengan tetap memeluknya di tengah lebatnya hujan sampai dia merasa lega, detik kemudian Amel mendongak ke atas lalu berkata
"Aku tidak ingin pulang malam ini, aku masih ingin memelukmu sepanjang malam" suaranya masih terdengar lirih sebab air matanya masih mengalir di pipi indahnya
Apa yang Amel katakan itu justru membuatnya terdiam, bukan tidak mau mengabulkan permintaan itu tapi dia takut dengan dirinya sendiri, takut jika ia melupakan tentang siapa mereka ini.
Sedangkan Amel yang tidak mendapatkan respon dari Angga pun melerai pelukan mereka lalu..
__ADS_1
"Maafkan aku jika permintaanku berlebihan, aku yang tidak sadar diri meminta hal memalukan seperti itu"
" Akk,,,,akkuuuu hanya ingin melupakan semua yang aku rasakan sebelum aku....!" kata Amel lagi dengan surat serak yang dia tahan.
Memalukan memang bagaimana dia menginginkan Angga tetap memeluknya, seharusnya dia bisa meminta itu pada Bobby, tunangannya bukan, lalu kenapa harus Angga.
Melihat Amel yang kembali menangis Angga langsung menariknya dalam pelukan hangatnya, dia tidak ingin pujaan hatinya menangis, hatinya bagai tertusuk ribuan duri kala melihat air mata mengalir dari mata indahnya.
Entah beban apa yang selama ini Amel tanggung sendiri, apa ini ada hubungannya dengan Bobby, jika iya maka dia tidak akan segan-segan lagi untuk merebut wanita yang kini ada dalam pelukannya.
Saat Amel sudah kembali tenang Angga melerai pelukan mereka dia menatapnya, lalu menghapus air mata yang ada di pipi Amel.
"Kita pulang ke Apartemenku saja ya?" tanyanya sambil mengelus pipi Amel.
Amel mengangguk mendengar ucapan Angga dia tidak ingin pulang malam ini, biarlah apapun resikonya dia tidak mau memikirkan itu sekarang, yang dia inginkan saat ini dia hanya ingin tetap memeluk hangat tubuh pemuda yang ada di depannya itu.
Entah mendapatkan keberanian dari mana, Angga tiba-tiba mengecup kening Amel, mendapatkan perlakuan seperti itu Amel bukannya marah dia malah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Amel terlalu pandai menyembunyikan rasa tidak bahagianya, membuat semua orang berpikir bahwa dia sangat bahagia menjalani hidupnya.
Bagaimana tidak, dia terlahir dari keluarga yang cukup berada, Ayahnya seorang Aspri sekaligus tangan kanan sang calon mertua, prestasi yang membanggakan , dan di usia muda dia sudah menjadi seorang PNS, walaupun itu sangat jauh dari keinginan Ayahnya yang menginginkan menjadi seperti dirinya.
Jangan lupakan juga mengenai calon suami dan keluarganya, sang calon suami yang merupakan seorang dosen di universitas terkemuka di London dengan segudang prestasi yang di dapatkan.
Sedangkan calon mertuanya adalah seorang Presdir di perusahaan yang bergerak di bidang real estate, yang semuanya itu bisa dia nikmati saat dia menjabat sebagai menantu di keluarga Brahmana.
Angga menoleh kesamping yang mana ada sosok wanita cantik yang tengah menatap jalanan malam dengan tatapan kosong pun membuat Angga langsung menarik tangan Amel dalam genggaman tangannya, seakan dia berkata semua akan baik-baik saja.
Kini, kedua tangannya disibukan dengan dua kegiatan berbeda, satu tangan nya mengemudikan mobil yang akan membawa mereka ke tempat yang mereka tuju.
Sedangkan tangan satunya lagi menggenggam tangan Amel dengan sesekali memberikan kecupan manis yang membuat Amel merasa sangat diinginkan.
Hal kecil yang tidak akan mungkin dia dapatkan dari Bobby, bukan Bobby yang terlalu kaku tapi dia yang merasa enggan bersentuhan dengan tunangannya itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun sampai di Apartemen, Angga langsung memarkirkan mobilnya di Basement lalu mengajak Amel turun dari sana.
Membukakan pintu untuk wanita itu lalu menggandengnya menuju lantai 10 tempat unitnya berada, masuk ke dalam lift pun dia genggaman tangan itu masih bertaut di sana sesekali pemuda itu mendarat kecupan kecupan singkat di sana.
Sepertinya Amel juga tidak keberatan atas apa yang di lakukan siswanya itu dia malah menerima semua perlakuan siswanya itu.
Pintu lift terbuka tepat di lantai sepuluh butuh beberapa langkah lagi untuk mereka sampai di unit Angga tersebut.
Setelah memasukkan beberapa angka yang merupakan rangkaian password itu, pintu pun terbuka dan merasa berdua masuk kedalam.
Angga meraba stopkontak yang ada di samping pintu, menghidupkan lampu, ruang tamu Apartemen yang tadinya gelap menjadi kini terang.
"Ayo masuk kak, maaf Apartemennya hanya seperti ini" kata Angga
"Tidak masalah"
"Tempatnya terlihat sangat nyaman!" jawab Amel dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Kakak mau mandi dulu atau mau apa?" tanya Angga
"Percuma juga mandi kalau gak ganti baju, aku kan tadi gak bawa baju"
"Pakai bajuku saja kalau Kakak mau."
"Emangnya boleh?"
"Boleh ambil saja di lemari"
"Kamu gak mau mandi juga?"
Angga mengerutkan keningnya mendengar ucapan Amel tersebut, apa dia ingin mereka mandi bersama?.
"Mandi bersama.....?"
__ADS_1