
Amel dia terlihat begitu emosi mendengar Angga yang akan pergi dari kota ini, bahkan tanpa dia sadari dia sudah terlalu masuk ke dalam urusan pribadi pemuda di hadapannya itu.
Dia masih kekeh dengan keinginan agar Angga membatalkan rencananya, sedangkan Angga dia seharusnya bahagia bukan karena Amel seperti ini, menginginkan dirinya untuk tidak pergi jauh dari pandangan netranya.
Tapi perbedaan yang ada di antara mereka tidak bisa mereka hiraukan begitu saja bukan Amel juga rupa nya dia sudah lupa dengan statusnya yang akan menjadi seorang istri.
Sikapnya menunjukkan bahwa dia memiliki rasa yang entah dia sendiri tidak bisa menjabarkannya.
"Alasan apa yang mengharuskan saya memenuhi keinginan Ibu?"
Deg
Amel membeku mendengar pertanyaan yang di lontarkan Angga, ada apa dengan dirinya dan benar atas dasar apa dia menginginkan Angga tetap disini.
Bukankah mereka tidak sedekat itu lalu kenapa dia begitu emosi saat mendengar ucapan Angga.
Atau mungkin dia telah jatuh cinta pada siswa ya sendiri, seorang siswa yang selalu menjadi sasaran emosinya saat tengah bersama mengerjakan tugas yang akan dilombakan.
Mana mungkin
Bisa-bisanya dia berfikir bahwa dia jatuh cinta pada Angga, lalu pernikahan yang akan dijalaninya, apakah hanya sebuah bentuk dari rasa baktinya pada kedua orang tuanya.
Dia sadar betul bahwa mereka, dia dan Bobby tidak saling mencintai mereka menikah hanya untuk memperkuat posisi orang tua mereka di dunia yang mereka sendiri enggan untuk melanjutkannya. Dunia bisnis, dunia yang mereka anggap akan menghabiskan semua waktu yang mereka miliki.
Tapi mereka juga tidak bisa mundur bukan mereka sama-sama tidak ingin menghancurkan hati orang yang telah mencintai mereka dengan segenap jiwanya.
"Bu" panggil Angga
"Ah iya"
"Kenapa?, kenapa saya harus tetap di sini?" tanya Angga lagi
"Ituu, saya hanya takut kamu salah pergaulan di sana saat tidak ada yang mengawasi kamu " jawab nya terbata, ada hal lain yang tak mungkin dia katakan pada Angga cukup itu hanya dia saja yang merasakannya.
"Ibu tenang saja saya bisa menjaga diri saya sendiri"
"Ah iya maaf saya jika terlalu ikut campur urusan pribadi kamu" pinta Amel dengan senyum yang terpatri indah di bibirnya.
"Lupakan saja Bu, saya tidak apa"
"Oiya Bu setelah ujian nanti apa ibu akan mengambil cuti"
"Tidak saya hanya akan cuti selama seminggu"
"kenapa memangnya" tanya Amel
"Tidak hanya ingin tau saja"
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Amel mengalihkan bahan pembicaraan tenteng pernikahannya itu.
__ADS_1
"Pulang mungkin saya tidak ada acara hari ini" katanya padahal dia ingin sekali mengajak Amel pergi jalan-jalan berdua, sebelum janur kuning melengkung yang membuatnya tidak leluasa untuk bisa lagi bersama dengannya lagi.
"Kamu keberatan tidak jika menemani saya berbelanja hari ini" seru nya pada Angga
"Boleh Bu"
"Angga kamu jangan panggil saya ibu jika sedang berada di luar jam sekolah, saya seperti ibu muda yang sudah punya anak sebesar kamu" protesnya sambil memanyunkan bibirnya ke depan.
Angga terkekeh geli melihat tingkah Amel yang sepertinya tengah merajuk padanya, ya biarkan sajalah toh kapan lagi dia bisa sedekat ini dengan wanita pujaannya.
"Saya harus memanggil apa kalau begitu" ucapnya masih dengan nada formal.
"Entah" katanya sambil mengidikkan bahunya
"Tante bagaimana?" kata nya dengan wajah sedikit menggoda
" kamu mah nyebelin ntar di kira orang aku Tante girang lagi" ucapnya dengan nada sedikit manja, ada sedikit rasa nyaman saat dia bisa sedekat ini dengan muridnya.
"Kalau kakak saja bagaimana?" tawar Amel
"Gak mau" kini giliran Angga yang menolak panggilan tersebut.
"Terserah kamu mau panggil aku apa yang pasti jangan Tante emang tua banget ya aku" jawab Amel yang sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi.
"Bener nih terserah saya?" kata Angga memastikan
"Iya"
"Apa sih"
"Janji dulu"
"Iya, iya janji aku gak marah"
"Eem bagaimana kalau bebby " ucapnya sambil menatap tepat ke mata Amel yang ada dekat dengannya.
Amel dia tersipu malu mendengar panggilan yang akan Angga semat kan untuk dirinya ya hanya dirinya mungkin, pipinya terasa panas dan juga memerah karena gombalan dari muridnya itu.
"Kamu bercanda kan?"
"Enggak"
"Bagaimana mau ku panggil bebby?"
Deg.
Sekali lagi, Amel membatu di sana, panggilan itu mengingat kan dia pada seseorang yang dia tunggu selama ini,menunggu waktu saat sang pangeran menjemputnya.
Apakah dia masih......
__ADS_1
Amel menggeleng kepala saat itu juga tanda dia tidak mengizinkan Angga memanggil seperti itu.
"Bisakah panggilan lain saja?" ucap Amel dengan perasan ragu
"kenapa?"
"Ituuu..."
Aelum sempat Amel menjawab Angga sudah berbicara kembali.
"Maaf jika saya lancang ingin memanggil ibu dengan kata seperti itu" ucap Angga menyadarkan bahwa Amel tidak menyukai panggilan darinya.
Mungkin calon suaminya memanggil seperti itu, ya wajar bukan mereka adalah pasangan yang akan segera menikah dirinya saja yang tidak sadar akan posisinya saat ini.
Sebenarnya, tadi ada maksud tersendiri dari Angga, kenapa dia menyebutkan kata itu, dia ingin mengingatkan pada Amel bahwa dirinyalah laki-laki yang bersamanya di bawah guyuran hujan di emperan sebuah toko waktu itu.
Dia ingin melepaskan beban yang selama ini dia tanggung, dia merasa cukup untuk menyembunyikan tentang dirinya pada Amel.
Enam tahun dia menyimpan rasa itu rasa yang sudah dia coba kubur dalam dalam agar tidak semakin besar, tapi nyatanya semakin hari rasa itu semakin membuncah dan dia semakin kesakitan kala mendengar pernikahan orang yang menemani hari harinya.
Angga ingin Gurunya itu tahu bahwa dirinya adalah adik kecil yang dia suruh datang saat sudah dewasa dan menikahinya.
Lalu sekarang saat di sudah menemukannya, kenapa dia malah meninggalkan dirinya meninggalkan dia dengan rasa cinta yang begitu besar, harus kah dia mengubur rasa yang bahkan Amel sendiri yang memintanya.
Apakah semudah itu Amel melupakan janjinya atau mungkin ucapannya hanyalah ucapan penghibur kala mereka tengah terjebak dalam derasnya hujan kala itu.
Angga bingung apa yang harus dia lakukan.
"Baiklah kalau begitu saya panggil kakak saja sesuai dengan permintaan ibu"
"Mungkin itu lebih baik"
"Tapi bisakah juga jangan terlalu formal santai saja anggap saya sebagai kakak kamu"
"Iya kak"
"Nah gitu dong"
"Nanti kakak belikan kamu es krim deh"
"Aku bukan anak kecil lagi kak" kata itu ah mungkin saja hanya kata itu yang lintas di pikirkan Angga
Hahahaha
Amel tertawa mendengar Angga yang menggerutu.
Mereka kemudian pergi dari sana karena acara makan siang mereka telah selesai dan mereka kini beranjak ke stan es krim yang ada di sana.
Mereka berjalan berdampingan setelah mendapatkan eskrim di tangannya.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu bahwa mereka berdua adalah seorang Guru dan murid mereka malah terlihat seperti pasang muda mudi lainnya.