
Malam begitu sunyi, senyap,tak ada suara yang bisa di tangkap oleh indera pendengaran Amel malam ini, meski pun sang kakak berada tepat di sebelah nya.
Setelah tadi dia menanyakan tentang apa yang sebenarnya tidak dia ketahui. Tapi kakak nya itu hanya diam mungkin dia juga tidak tahu apa-apa.
"Kak"
"Apa?"
"Apa kakak sudah punya pacar sekarang?"
Tanya Amel yang mungkin sedikit konyol, bagaimana seorang adik yang akan menikah menanyai kakak nya seperti itu, bukan kah harus nya kebalikannya.
"Memang nya kenapa" kata Riska
"Jawab saja"
"Pernah lah"
"Oiya apa yang kakak rasakan?"
Riska salah tingkah mendengar ucapan adiknya itu, pikiran teringat pada satu pria yang pernah menjadi idola nya saat masih menempuh studi nya dulu.
"kak"
"Apa sih!"
"Gimana rasa nya jatuh cinta?" tanya Amel lagi dia sudah seperti anak kecil yang ingin di belikan es krim saja oleh kakak nya sungguh menggelikan bukan.
"Ya seperti ingin selalu bersama nya rindu saat tak jumpa dan gelisah saat tak terdengar kabar....???"
Tunggu
Jangan bilang kalau Amel sudah jatuh cinta pada tunangan, tapi bukan kah itu hal yang wajar jika Amel jatuh cinta lalu di mana salah nya...
Tapi tadi Amel seakan menolak rencana itu bukan apa jangan-jangan.....
Riska menoleh kearah Amel dengan mata yang menyipit seakan menelisik sesuatu yang tengah di simpan oleh amel.
"Jangan bilang kamu punya pacar?" teriak Riska.
Amel terkesiap di sana, bagaimana bisa kakak nya itu menebak tepat apa yang dia rasakan, tapi apa mungkin dia jatuh cinta pada muridnya itu.
__ADS_1
Riska terus menatap adik nya yang salah tingkah dengan ucapan.
"Jawab kakak?"
"Amel"
"Iiiiyaa, kak apa?", tanya sedikit terbata mungkin juga takut kan siapa yang tidak takut coba, saat di sudah punya tunangan tapi ini malah jatuh cinta lada orang lain dan sialnya lagi dia adalah muridnya sendiri.
"Kamu punya pacar"
"Kak kita ke kamar terlalu berbahaya jika kita membahas masalah ini di sini" kata Amel lalu menyeret kakaknya itu ke tangga yang menuju ke kamar mereka.
Namun langkah Amel harus terhenti saat mendengar kakak nya bersuara.
"Apa kau tidak ingin mengajakku makan malam aku bahkan hanya makan roti tadi siang?" kata Riska dia rasa cacing di perutnya itu sudah mulai berdemo untuk minta makan.
"Kita makan di luar saja bagaimana?"
"Terserah mu saja!"
"Baik lah ayo!"
Mereka berdua keluar dari rumah dua lantai tersebut, rumah yang selama ini menjadi tempat mereka pulang dan berkumpul bersama keluarga tercintanya.
Cukup jauh Amel melajukan mobil nya membuat Riska bertanya dalam hati kenapa hanya ingin makan malam saja harus menempuh perjalanan se jauh ini.
Dia yang sudah tidak tahan pun menggerutu pada Amel yang tampak fokus dengan jalan yang mereka lalui.
"Kamu tidak berencana ingin membunuhku kan Lia?"
Amel menyengitkan alisnya mendengar ucapan kakaknya itu, dia pun menoleh sebentar lalu mengalihkan pandangan pada kemudi mobil nya ia kendarai.
"Apa maksudmu kak?"
"Aku sudah sangat lapar, kenapa membawaku ke tempat yang sangat jauh?" tanya Riska pada adiknya itu.
"Aku ingin mengajakmu makan di warung pinggir jalan yang sangat enak, dan kamu pasti suka"
"Terserah mu saja lah, tapi ku mohon cepat lah aku bisa mati kelaparan nanti"
Amel tak ingin menjawab tapi respon lain yang dia berikan membuat kakak nya itu malah semakin memaki dirinya.
__ADS_1
"Kamu sudah gila Amel, pelan kan mobil nya, aku masih mau menikmati indahnya surga dunia" teriak nya sambil memegang pegangan yang ada di atas kepala nya.
Sedangkan Amel dia sama sekali tidak memperdulikan teriak Kakak nya itu.
Sementara itu di warung yang sama dengan warung tujuan Amel ada seorang laki-laki yang tengah duduk sambil menunggu pesanan nya.
"kak Angga?" panggil seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat duduk nya. Angga pun menoleh pada seseorang yang tengah manggilnya itu.
"Lho kamu ngapain di sini Bel?" tanya angga saat dia menyadari bahwa adik dari temannya itu ada di sana sendirian padahal ini sudah malam.
"Cari makan lah mau ngapain lagi coba, masak mau perawatan di sini!" guraunya
"Kakak juga lagi nungguin pesanan ?" tanya Belinda lalu mendaratkan tubuh nya berhadapan dengan Angga.
"Iya mau kasih ke Mama!"
"Kamu sama siapa?" tanya Angga lagi
"Aku sendiri, tadi nya mau nginep di rumah om Dimas tapi gak jadi! " seru nya
"Memang nya kenapa?"
"Tante tiba-tiba sakit jadi harus ke rumah sakit, aku gak berani di rumah sendirian jadi aku pulang aja" kata nya.
"Kenapa gak suruh Azzam menjemput mu saja, terlalu berbahaya kalau sudah malam keluar sendirian apa lagi kamu perempuan bel"
"Ya kan sekarang aku gak sendirian, kan ada kak Angga!" sahutnya
"Iya, kalau ketemu aku atau siapa yang kenal baik sama keluarga mu gak papa, kalau ketemu orang jahat gimana?" ucap Angga memperingati.
"Iya kak aku telfon kak Azzam dulunya" pamit nya pada Angga dan Angga pun mengangguk.
Belinda menghubungi kakak nya itu supaya menjemputnya di warung tempat dia membeli makanan tak lupa juga dia mengatakan bahwa dia tengah bersama salah satu teman kakak nya sendiri yang tak lain adalah Angga.
Azzam yang tadi nya asyik main game pun terpaksa menghentikan kesenangannya itu, dia harus menjemput adik nya itu, cukup geram sebenarnya dia dengan sikap om dan tantenya yang mengabarkan pada mereka jika Belinda akan pulang dan mereka tidak bisa mengantarkannya.
Azzam mengusap wajah nya penuh penyesalan, Dia tadi juga sengaja membentak adik satu-satunya itu membuat pikirannya tidak tenang, pastilah adiknya itu kini menangis takut padanya.
Angga yang melihat Belinda menangis pun menaikkan sebelah alisnya, kenapa sampai Belinda menangis setelah menelpon kakak nya itu.
"Kamu kenapa kok malah nangis?" tanya Angga yang kini berdiri tepat di samping nya.
__ADS_1
Belinda yang ketakutan karena bentakan kakak nya pun langsung memeluk Angga lalu menangis dalam pelukan nya, Angga yang terkejut dengan tingkah Belinda yang tiba-tiba memeluknya pun bertambah kaget saat melihat seseorang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, dia membeku di sana seperti seorang Kekasih yang ketahuan jalan bersama dengan selingkuhannya.