
Amel keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Angga yang tengah duduk di kursi meja makan sambil memainkan ponselnya, rupanya dia tengah bertukar pesan dengan dua sahabat lucknutnya.
"Mandi dulu sana"
"Eh kakak udah selesai mandi nya?" tanya Angga lalu mencampakkan ponselnya begitu saja.
"Udah dong sama kamu yang mandi, kamu bau acem" kata Amel dengan satu tangannya ia gunakan untuk mengeringkan rambut yang satu menutupi hidung dan mulutnya.
"Mana ada aku bau tadi itu ya kak, malah ada orang yang peluk aku erat banget kayak gak mau lepas gitu, kira-kira tadi siapa ya kak?" tanya Angga sambil menaikkan turunkan alisnya menggoda Amel.
Semburat merah terlihat di kedua pipi amel, dia tersipu malu mendengar ucapan Angga yang memang benar seperti itu.
"Mana ada, udah buruan mandi sana!"
"Iya iya ini mau mandi!" jawab Angga sambil melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Tak sampai 10 menit Angga sudah keluar dari kamar mandi, dia menghampiri Amel yang tengah duduk di sofa sambil memejamkan matanya.
Sentuhan lembut dari tangan dingin Angga membuat Amel membuka kembali mata nya dan mendapati Angga yang kini sudah segar dan wangi.
Amel menghirup dalam-dalam aroma yang keluar dari tubuh pemuda yang ada di samping nya itu.
"Kok cepat banget mandinya?"
"Hehe dingin kak?"
"Lah kami gak buka heater nya"
"Aku gak suka mandi air hangat kak" kata Angga yang kini mengambil posisi duduk di sebelah amel.
"Hadap sana dulu kak!"
"Mau apa kamu?"
"Udah nurut aja kenapa!"
Amel pun lalu menuruti perintah Angga untuk membelakangi nya, lalu
__ADS_1
Angga memasangkan kalung yang tadi dia temukan di lantai kamar mandi, mungkin kalung itu jatuh saat Amel mandi tadi.
Tadi saat dia mengangkat kalung tersebut dia sedikit tertegun, tapi tak lama kemudian senyumnya mengembang di bibirnya, kala mengingat bahwa Amel tidak pernah melepaskan kalung tersebut seperti apa yang dia katakan saat pertama kali dia mengenakan kalung tersebut di leher Amel.
Dan saat kalung itu jatuh pun dia lah orang yang menemukannya. Amel rupanya tidak menyadari bahwa kalung nya terjatuh, saat Angga memasang nya kembali dia langsung menyentuh kalung tersebut lalu menoleh ke arah Angga yang ada di belakang nya.
"Kalung kakak jatuh tadi!"
"Jadi aku bantu pasangkan"
Mata Amel mengerjap menatap Angga dengan pandangan sendunya, dia seperti tidak bahagia saat orang lain yang membuatnya mengenakan kalung pemberian adik kecilnya.
Melihat Amel seperti membuat Angga berfikir tentang ada apa dengan guru yang juga merangkap menjadi kakak dadakannya itu.
"Kenapa kak, apa itu bukan kalungmu?" tanya Angga sekedar basa basi, bukan kah dia dulu adalah pemilik kalung tersebut lalu entah Angga apa yang sedang kamu ingin ketahui, mungkin tentang sejarah kalung tersebut atau tentang masa lalu yang sama-sama tidak mereka ketahui.
"Ini bukan kalungku!" seru Amel tanpa melihat wajah murung tangga kala mendengar ucapan Amel yang tidak seperti apa yang dia pikirkan.
"oh maafkan aku kak ku pikir itu punya kakak jadi aku bermaksud mengembalikan padamu"
"Kalung ini memang bukan aku pemiliknya, ada seorang anak kecil yang dulu memberikan ini pada ku" kata Amel mulai menceritakan tentang kisah di balik kalung tersebut.
"Anak kecil?" kata Angga yang masih tidak ingin membongkar tentang siapa dirinya
Bukan kah dia dulu memanggil ku adik kecil kenapa bisa berubah. batin Angga
"Kami berdua dulu sama-sama terjebak dalam derasnya hujan dia duduk meringkuk di depan sebuah ruko dan aku pun juga begitu, lalu aku membelikannya minuman hangat dan memberikan jaket ku pada nya" kenang Amel ingatannya seakan kembali pada waktu 6 tahun yang lalu.
"Kami tidak saling berkenalan kala itu tapi yang aku tau waktu itu dia masih berusia sekitar 12 tahun"
"Kamu tau dia sangat marah saat aku memanggil adik kecil bahkan dia ingin aku memanggil nya 'MAS' "
Angga hanya tersenyum mendengar cerita tentang mereka versi kakak dadakannya itu.
"yang lebih menggelikan adalah dia meminta aku bertanggung jawab karena aku telah menyentuh rambutnya"
"Dan kalung ini adalah milik nya, dia mengenakan ini padaku sebagai tanda bahwa aku adalah miliknya, dia juga melarang ku untuk tidak melepasnya satu detik saja dan dia akan datang saat sudah besar nanti untuk menikahi ku"
__ADS_1
"Apakah pria itu adalah pak Bobby?"
"Kenapa harus dia?" kata Amel yang terlihat marah saat Angga menyebutkan nama tunangannya tersebut.
"Dia bukan pak Bobby?" tanya Angga memastikan
"Jelas bukan!"
"Lalu apakah kakak akan menikah dengan nya sedangkan kakak sendiri sudah punya tunangan, mungkin juga dia sudah melupakan kakak kan!" kata Angga yang mencoba mencari tahu tentang perasaan Amel pada dirinya.
"aku tidak tahu!" jawab Amel dengan nada putus asa yang terlihat jelas di matanya.
"Aku sebenarnya ingin mencarinya tapi aku juga bingung harus mencarinya di mana?"
"Bahkan namanya pun aku tidak tau!"
"Kalau tiba-tiba dia datang apa yang akan kakak lakukan?" tanya Angga memastikan jawaban apa yang akan Amel berikan jika mereka bertemu jika alam merestuinya.
"Entah"
"Aku tidak yakin dia masih mengingatku!"
"Kenapa seperti itu kamu kan belum tahu kenapa sudah berputus asa seperti itu?" tanya Angga yang seakan tidak percaya dengan ucapan Amel.
Angga marah mendengar Amel yang meragukan tentang janjinya itu dia bahkan selalu mengingat nya bahkan lebih baik dari dia mengingat Mama nya tapi apa yang dia dapatkan.
Amel ternyata masih sama seperti dulu, masih meragukan tentang kesungguhan hati nya, meragukan janjinya yang akan datang padanya saat dia sudah lulus sekolahnya.
Apa karena dia masih sekolah Amel meragukan tentang masa depan mereka, Amel tak taukah dia bahwa selama ini dia bekerja keras untuk mendirikan bengkelnya sendiri tanpa bantuan Papanya.
Dia bahkan rela bekerja paruh waktu dari SMP nya dulu, dia tidak menggunakan sepersenpun uang saku nya untuk mendirikan bengkelnya yang kini sudah ada 2 cabang di kota sebelah.
Semua itu sudah dia persiapan untuk nya nanti, untuk masa depan nya hingga kini dia terus berusaha membesarkan bengkel itu, agar nantinya saat di datang melamar dirinya semua itu hasil dari keringat dan jerih payahnya sendiri.
Tapi apa yang dia dengar saat ini sungguh melukai hatinya, saat kesungguhan di ragukan, saat kesetiaan nya tidak di hargai lalu apakah masih memungkinkan dia akan mengakui bahwa dirinya lah adik kecil yang di cari oleh Amel.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu"
__ADS_1