MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Masih berlanjut


__ADS_3

HAAA


Menggelikan sekali bukan?, apakah dia harus search di go**** untuk bisa mengerti tentang wanita, ah itu sepertinya tu tidak perlu di lakukan olehnya, menurutnya kemauan mereka selalu tidak sama bukan.


Seperti misal nya saat makan saja, yang tadi katanya ingin memesan ayam geprek tapi saat di sana dia malah memesan ayam penyet. Bukankah sama-sama ayam lalu apa bedanya sama-sama di makan dengan cabai dan juga nasi putih hangatkan.


Aah sudahlah lupakan saja tentang itu.


Azzam dan Aldi, mereka berdua memilih diam daripada berdebat dengan Guru itu, bukankah sudah hukum alam bahwa wanita selalu benar dan laki laki yang salah, maka biarlah Angga saja yang menjadi lawannya. Dan semoga saja bisa menjadi pawangnya suatu saat nanti.


"Jadi kalau saya yang menang apakah ibu akan bahagia?" tanya Angga


"Ya tentu saja kamu dari dulu selalu unggul dari pada Aldi, dan kekalahanmu ini tidak bisa di maaf"


"Itu memalukan Angga"


"Kenapa?"


Angga bertanya tanya dalam hati, kenapa harus dia yang selalu menang, alasan apa yang membuatnya harus selalu unggul dari Aldi, hanya Aldi kah atau semua siswanya. Bukan kah semua selalu di perlakukan sama olehnya selama ini.


Ini menjadi seperti menjadi murid kesayangan atau...


"Karena kamu siswa paling pintar di mata pelajaran saya dan saya selalu membanggakan kamu di setiap rapat mengenai siswa berprestasi di mata pelajaran yang kami ambil, kamu dan Aldi punya bakal menonjol di mata pelajaran yang berbeda dan saingan terberat saya adalah Bu Kayla"


"Itu membuat saya tidak menginginkan penurunan nilai mu" ketus Amel yang membongkar rahasia para guru setiap jurusan.


Jadi hanya itu yang membuatnya marah, dia mengira bahwa Amel mengetahui tentang siapa dirinya, tapi ternyata...Ah sudah lah.


Mungkin juga Amel telah lupa akan dirinya, hanya dia saja yang masih mengingat nya tentang kenangan itu


Lagi pula Amel sudah punya tunangan bukan jadi cobalah untuk sadar diri Angga. Agar nantinya kamu tidak sakit hari terlalu dalam.


sadar diri?


Bukan kah itu berarti dia harus mundur sebelum berperang, oohh tentu tidak, dia tidak mungkin mau menyerahkan begitu saja sebelum, eemm janur kuning melengkung misalnya


Atau bahkan mungkin menunggunya menjadi?????


Ah sial dia harus membuang pikiran kotor yang ada di dalam otaknya itu.


"Tapi masalah tadi di luar masalah sekolah Bu, ini murni masalah pribadi " suara Azzam kembali terdengar.


"Masalah laki-laki tentunya" ucap Angga menimpali

__ADS_1


"Iyakah?"


"Benar Bu, semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan pendidikan kami" jawab Aldi yang sedari tadi dia hanya menyaksikan perdebatan live di depan matanya.


"Kenapa kalian tidak mengatakannya dari tadi kalau masalahnya bukan masalah pelajaran" sewot Amel yang merasa kesal, dia pun berusaha menutupi rasa malunya karena telah berburuk sangka pada Angga.


"Dari tadi ibu selalu menyela setiap berbicara" jawab Azzam dengan santainya


"Kalian ini benar-benar ya."


"Sudahlah di sini panas, saya Mau pergi ke bengkel saja sekarang, ayo Angga" katanya sambil naik ke atas motor Angga dan mengajak Angga pergi dari sana


Angga dia langsung tancap gas berkata sepatah pun, ia pergi meninggalkan Azzam dan Aldi di sana, dia harus segara membawa wanita itu pergi dari sana sebelum dia di tuduh mengulur waktu nya dan urusannya tidak akan ada selesainya.


Tak lupa dia melambaikan tangan ke arah Azzam dan Aldi tanda pamit pada keduanya. Saat mereka sudah tidak terlihat dari pandangan mata Aldi langsung mendekat ke arah Azzam dan berkata.


"Gue gak habis pikir tadi" Aldi tampak menerawang kejadian yang baru saja berlangsung.


"Bisa-bisanya dia tidak terima Angga kalah dari gue hanya karena dia siswanya yang paling pandai di mapel dia."


"Emang lu tadi mikirnya gimana?"


"Ya gue pikir, kalo bu amel itu suka sama gue"


Tawa Azzam pecah mendengar ucapan Aldi yang terdengar sangat menggelikan Bagaimana biasa dia berpikir seperti itu. Bukan kah Bu Amel bukan tipe wanita idaman nya. Lalu kenapa dia berpikir seperti itu.


"Sadar diri lu, mana mau Bu Amel sama laki-laki modelan kayak lu itu"


"Udahlah gak usah di bahas balik yu"


"Ayo" Aldi pun menyetujui ajakan temannya untuk pulang. Lagi pula kakinya sakit untuk berjalan jauh, saat ini yang di inginkan Aldi hanya ingin cepat sampai di rumah lalu berkelana di atas pulau kapuk miliknya.


Tapi saat akan menaiki motornya Azzam menoleh ke arah Aldi dan bertanya.


"Gak jadi nonton kita?"


"Eeh Anak Adam kau itu nyadar gak sih pertanyaan lu itu terlalu basi"


"Udah tau kaki gue sakit masih di ajak nongkrong"


"Siapa juga yang ngajak nongkrong Junaedi"


"Lah itu barusan"

__ADS_1


"Kita nonton di rumah lu aja, gimana atau di rumah gue juga gak papa?" tawar Azzam


"Gaslah ke rumah lu, di rumah gue ada nyokap gue."


"Oke"


Mereka pun berlalu dari sama menuju rumah Azzam tapi rupanya mereka mampir terlebih dahulu ke supermarket untuk membeli cemilan.


Bukankah paling enak kalau nonton di temani popcorn, keripik kentang dan beberapa kaleng softdrink. Mereka akhirnya memilih cemilan yang sesuai dengan selera mereka.


setelahnya mereka membawa belanjaan menuju kasir, membayarnya lalu memasukkan makanan ringan tersebut ke dalam tas sekolahnya agar lebih gampang membawanya.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Azzam. Tapi belum jauh dari tempat mereka berbelanja tadi, Aldi membelokkan motornya ke sebuah warung makan, ternyata perutnya meminta di isi dengan nasi Padang langganannya itu saat dia akan berkunjung ke rumah sang teman.


Azzam pun dia mengikuti Aldi yang membelokkan motornya ke warung Padang, Aldi lalu masuk dan dia pun memesan lauk yang berbeda dengan Azzam.


Dia memesan ayam bumbu balado, tumis kangkung, udang goreng tepung dan sambal terasi yang tidak boleh di lewatkan dengan es teh manis tentunya.


Sedangkan Aldi dia hanya makan ayam geprek tanpa tambahan apa pun.


Sebenarnya tadi dia ingin masuk ke sebuah restoran yang mahal tapi entah hatinya malah tergerak masuk ke warung makan.


Apakah mereka sedang berhemat?


Ah mana mungkin seperti itu mereka sama-sama dari keluarga yang cukup mampu bahkan bisa di bilang mereka dari keluarga yang latar belakang nya tidak akan pernah kehabisan uang.


Papanya Azzam dia seorang penyedia layanan pengiriman barang yang sudah tersebar di seluruh penjuru dunia dan papanya Aldi dia seorang pemimpin perusahaan besar yang bergerak di sektor industri pakaian.


Jadi mana mungkin mereka berhemat, dan juga jangan lupakan uang jajan yang tadi hasil dari memeras Angga juga belum mereka gunakan.


Sungguh menyenangkan bukan dia bisa memeras temannya yang cukup kaya dengan uang yang dia hasilkan sendiri.


Mengingat itu....


Tungga sebentar


Jangan jangan????


Apa yang sedang mereka lakukan???


Hanya berdua...


Ooh ****......

__ADS_1


__ADS_2