
Selamat
Ucap Aldi di dalam kamar mandi sambil mengelus dadanya. Dia tidak mau kejadian di mana dia harus menahan geli saat kecoak mainan itu ada di dalam saku bajunya. membayangkan hal tersebut membuat Aldi kembali bergidik ngeri, dia pun menyesal memberitahukan tentang phobinya pada hewan kecil yang sangat suka berada di tempat yang kotor tersebut pada dua teman laknatnya itu.
Hahahahhahahhahaha
Suara tawa menggema di ruang tamu sebuah Apartemen, mereka begitu bahagia melihat wajah teman mereka yang ketakutan.
Hingga
Ting tong
Ting tong
Azzam berjalan menuju ke arah pintu lalu dia mengintip dari lubang pintu tersebut, saat dia tau bahwa yang datang adalah orang dari bengkel punya Angga dia pun membuka pintu untuknya.
"Ini zam ada pesanan dari Bos tadi" ucap Jefri
"Makasih ya"
"Ok, bilangin sama Bos gue langsung cabut ke bengkel "
"Hari Minggu gini tetep kerja aja?"
"Iya, mumpung ada lemburan lumayan lah buat tambahan bayar kuliah"
"Ik sip, ntar gue Sampekin sama Angga"
Azzam menutup pintu saat Jefri sudah masuk kedalam lift, sementara Angga dia tengah menyeduh kopi instan yang tersedia di kabinet dapurnya.
Azzam pun menaruh makanan di meja lalu mengambil piring dan sendok, Angga pun duduk di kursi meja makan bersama dengan Azzam, sedangkan Aldi dia masih belum juga keluar dari kamar mandi.
Mereka pun menunggu Aldi selesai mandi, tidak sopan rasanya jika mereka makan tanpa Aldi.
"Wiiihh kayaknya enak nie" kata Aldi yang sudah menyelesaikan acara mandinya itu.
"Loe mandi apa bertapa sih, lama bener?"
"Kayak gak tau aja lu zam, dia kan cewek biasa males mandi, sekalinya mandi bisa 2 jam dia di kamar mandi" ejek Angga yang mencoba menutupi keadaan hatinya.
__ADS_1
"Enak aja kalo ngomong, udah gue mau makan"
"Emang udah di suruh makan loe sama yang punya rumah" tanya Azzam
"Eehh iya, Kak Hendra mana?"
Azzam menaikkan bahunya tanda dia tak tahu mengenai hal itu. sontak keduanya menatap ke arah Angga, merasa di perhatikan oleh dua teman laknatnya Angga pun juga enggan untuk menjawab pertanyaan yang menurut nya tidak penting itu.
"Makan tinggal makan aja ribet banget, orang ini gue juga yang beli"
"Gas lah"
"Eh bentar, habis ini kalian mau balik apa tetep di sini"
"Di sini ajalah kita, kalo kita balik ntar yang ada loe kelayapan gak jelas"
"bener gak zam?" Azzam pun menganggukkan kepala
"Emang gue anak kecil yang harus kalian awasi" dengus Angga yang merasa di perlakukan seperti anak kecil.
Tak ada sahutan dari mulut kedua sahabatnya, lagian juga mereka pasti sudah di tugaskan oleh Kak Hendra untuk tetap di Apartemen untuk menemaninya
Setelah makan dan membereskan semua peralatan makan, mereka kembali ke ruang tamu dan melanjutkan kegiatan mereka, ya apa lagi coba kalau bukan Mabar itu merupakan hal wajib bagi mereka saat tidak ada yang ingin mereka lakukan.
****
Sementara di sebuah rumah minimalis Amel tengah berkutat dengan adonan kue bolu pandan yang tengah dia siapkan.
Kemarin saat dirinya selesai melakukan fitting baju pengantin di menelpon salah satu anak muridnya yang tak lain dan tak bukan dia adalah Aldi, dia ingin menanyakan perihal mobilnya. dan katanya nanti sore mobilnya sudah selesai di perbaiki dan dia bisa mengambilnya.
Minggu pagi tidak ada kegiatan di luar ramah yang ingin dia lakukan maka dia pun berinisiatif membuat bolu untuk mengisi waktu luangnya.
Papa dan mamanya sedang tidak ada di rumah, mereka pergi mengunjungi neneknya yang biasa mereka lakukan setiap 2 Minggu satu kali, karena jarak yang lumayan jauh.
Bolu pertama sudah matang, dia pun lalu mengangkatnya di dalam oven dan meletakkan pada loyang yang telah ia siap kan tadi.
Saat dia membalikkan rotinya entah kenapa kalung yang dia gunakan tiba-tiba terlepas dari lehernya, kalung yang tidak pernah dia lepaskan dari dulu.
Dari saat dirinya masih menjadi siswi SMA tempatnya kini mendedikasikan ilmu yang dia dapatkan dulu.
__ADS_1
Amel mengambil kalung itu lalu di genggam dengan hati yang penuh luka. Ada harapan di setiap harinya untuk bisa bertemu dengan pemilik kalung tersebut.
Entah, dia merasakan emosi yang begitu menyakiti hatinya saat melihat kalung itu. Dia ingin mencari siapa pemilik kalung tersebut, tapi dia harus mencarinya kemana, bahkan namanya pun dia tidak tau.
Lalu bagaimana bisa dia mencari seseorang hanya bermodalkan kalung yang banyak di jual di luar sana. tanpa permisi, air mata itu jatuh di pipinya, dia menekan dadanya untuk mengurangi rasa sakit yang menjalar di hatinya.
Dia sadar bahwa dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang pria kecil yang bahkan saat itu di panggilnya ADIK. Amel masih ingat betul ekspresi marahnya saat dia memanggilnya ADIK.
Apa mungkin dia ingat pada nya.
Apa mungkin dia akan memenuhi janjinya, janji yang di ucapkan seorang pria kecil di tengah lebatnya hujan.
Apa mungkin dia benar benar mau menikah dengan wanita yang lebih tua umurnya.
Entahlah.
Tapi dia harusnya sadar bahwa dia sudah ditunangkan oleh keluarga besarnya dengan anak dari sahabat sekaligus atasan papanya di Kantor.
Mengingat akan kenyataan bahwa dia telah memiliki tunangan senyum yang tadi mengembang indah saat menggenggam kalung mendadak jadi senyum getir.
Tapi apa mau di kata, dia tidak bisa melawan keinginan orang tu nya, padahal dia masih ingin menunggu pangeran kecilnya datang padanya, membawa seikat bunga mawar putih dan sebuah cincin yang akan di sematkan di jari manisnya.
Apa lagi saat di ingat saat ADIK kecil itu memanggilnya dengan sebutan BABY, pipinya mendadak bersemu merah bagai buah delima.
Terlalu larut dalam lamunannya sampai tercium bau gosong dari oven yang tadi sedang dia gunakan untuk memanggang roti bolunya.
Seketika dia tersadar lalu membuka oven tersebut, dia mendapati kue bolu nya sudah menghitam dan tidak bisa makan.
haaahhh
terdengar helaan nafas dari mulutnya, rupanya dia menyadari kecerobohan yang dia lakukan. Dia pun mengeluarkan kue bolu lalu membuangnya di tempat sampah.
Jangan sampai mamanya tau kalau dia membuat kue bolu dan gosong seperti itu bisa bisa dia mendengarkan sang mama menyanyikan lagu Indonesia raya.
Mengingat tentang lagu itu dia pun kembali teringat akan kenangan nya di bawah guyuran hujan 6 tahun silam.
bukan waktu yang mudah bagi dirinya tapi itu juga salahnya karena tidak menanyakan siapa nama dan di mana tempat tinggalnya.
Tapi masih ada satu kemungkinan, ya dia masih berharap ADIK kecilnya itu benar-benar mencarinya sebelum acara akad nikahnya bersama calon suaminya.
__ADS_1
to be continue