MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Ketahuan


__ADS_3

Malam belum begitu larut, masih banyak kendaraan yang masih berlalu lalang di jalanan. Juga masih banyak penjual makanan yang masih menjajakan makanan yang mereka olah dengan suka cita.


Di dalam sebuah warung tenda yang berjajar rapi di sepanjang jalan itu, terdapat banyak pasangan muda mudi ataupun pasangan paruh baya yang tengah menikmati makanan yang ada di piring mereka.


Angga dan Amel juga tampak masih menikmati makan malam mereka sambil berbincang ringan, sejenak mereka memang melupakan tentang fakta yang ada.


Keinginan mereka sama yaitu ingin menikmati waktu yang sengaja Tuhan berikan pada mereka,yang sama-sama tertaut di masa lalu dan tentunya janji yang mereka ucapkan tanpa di sadari mengikat mereka.


Saat itu mereka yang tengah menikmati makan dan di selingi dengan obralan ringan tiba dikagetkan oleh suara dari seseorang yang mengenal salah satu diantara mereka.


"Angga kamu kok ada di sini" tanya cewek itu.


"Kamu sendiri sama siapa Mbak?" tanya Angga pada perempuan yang kini berdiri di samping mejanya.


"Aku sama Hendra tapi di masih di tenda sebelah beli ayam lalapan" kata cewek itu yang tak lain adalah pacar Hendra asisten pribadinya.


"Ooh" ucap Angga lalu menyuruhnya duduk disebelah Amel.


"Ini Cewek kamu ya ngga?"


Angga dan Amel saling bertatapan saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Yani. Bahkan sampai beberapa saat terdiam mereka rupanya masih enggan untuk menyangkal tuduhan Yani.


Hingga Yani kembali bertanya sesuatu yang membuat Angga ingin membungkam mulutnya itu.


"Udah sembuh kamu?, katanya kemarin habis kecelakaan saat pulang dari Butik"


"Aku belum sempat jenguk kamu malah kamu nya udah keluyuran!"


Deg.


Jadi Angga kemarin kecelakaan setelah mengantarnya, apa mungkin, yang di katakan oleh Bobby benar, bahwa Angga cemburu melihatnya kemarin, mengingat bagaimana wajah merahnya saat pergi tanpa pamit padanya.


Jika itu benar bolehkah dia bahagia saat ini, bahagia karena Angga juga menyukainya tapi bukan kah tadi sudah mendengar bahwa Angga sedang menunggu cintanya, dan jelas itu bukan dia, karena Angga bilang belum menemukannya.


Amel terdiam menatap Angga sedangkan Angga terlihat salah tingkah mendapat pertanyaan dan tatapan yang sepertinya tengah menunggu jawaban darinya.


Melihat Angga yang tak menjawab pertanyaan itu pun, membuat Amel bertanya.


"Angga, benar kemarin kamu kecelakaan?" tanya Amel dengan suara tegasnya bukan lagi dengan nada manja seperti saat mereka hanya berdua saja.


Angga masih diam tak ada suara yang keluar dari laki-laki tersebut hingga....


"Angga, Ibu tanya sekali lagi apa kamu kecelakaan kemarin?" tanya nya dengan suara yang terdengar marah.


"Iya Bu."

__ADS_1


"Ibu''


Yani terlihat bingung dengan status dua orang itu, siapa sebenarnya wanita yang tengah duduk di samping ini.


Kalau Mama Dini jelas tidak mungkin karena usianya masih sepantaran dengan dirinya, dan dia juga tahu wajah Mama Dini, beberapa kali dia pernah bertemu dengan Ibu dari Atasan pacarnya itu.


Kalaupun Kakaknya rasanya juga tidak mungkin, wajah mereka sangat jauh berbeda tidak mungkinkan kalau wanita itu adalah saudara Angga.


"Aku cari kamu di sana gak ada ternyata malah disini'' ucap Hendra saat dia menemukan Yani tengah duduk bersama dua orang yang ia kenal.


" Lho Angga kamu di sini?"


"Emang luka mu udah sembuh?"


"Udah Kak, sini duduk." kata Angga sambil menarik tangan Hendra yang masih berdiri di sana.


"Mau pesen apa Kak, mbak Yani juga pesen aja aku yang traktir."


" Wiih gaya banget Big Bos satu ini."


Amel yang merasa dirinya tidak di anggap oleh Angga pun kembali berkata.


" Angga, ibu masih bicara sama kamu ya, kamu malah seenaknya saja tidak menjawab pertanyaan dari saya"


"Kok dia ada disini" bisik Hendra pada Angga.


" makanya lihat lihat dulu kalau mau nanya, itu dia marah harus ngomong apa aku"


"Kamu kenal sama dia mas"


"Iya, dia Gurunya Angga"


"Apa" teriak Yani yang begitu syok setelah mengetahui siapa wanita yang tadi di sangkanya adalah pacar Angga itu ternyata dia Gurunya.


"Kamu gak salah mas?" tanya Yani sedangkan dua orang itu hanya diam tak bersua.


"Memangnya kenapa?"


"Kok kamu kayaknya shock gitu"


"Aku tadi lihat mereka suap suapan mas" ucapnya nyaris tak terdengar.


"HAAH, maksud kamu mereka, gak salah lihat kamu yank" tanya Hendra memastikan apa yang di katakan kekasihnya itu tidak seperti yang ia pikirkan.


"Mana mungkin aku salah lihat mas, orang tadi aku langsung kesini, malah aku belum sempat pesen lho tadi"

__ADS_1


Hendra memicing ke arah Angga dan Amel secara bergantian, sedangkan Angga dengan tidak merasa bersalahnya malah sedang mengunyah martabak yang ada di tangannya.


Amel yang tadinya terlihat marah kini jadi kikuk sebab adegan mesra mereka di ketahui oleh orang kenal dengan mereka. Sungguh Amel mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga image-nya sebagai salah satu tenaga pengajar.


Amel seharian ini merasa bukan dirinya saja, bisa bisanya dia melupakan tentang bagaimana pendapat orang jika mengetahui tentang mereka.


Ooh Tuhan, ini benar-benar memalukan, pekik Amel dalam hati, dia rasa ingin sekali pergi dari tempat duduknya tau mungkin bersembunyi di lubang semut saja.


Eh tapi apa muat seketika pikiran konyol melintas di kepala Amel.


"Benar apa yang di katakan Yani, Angga?"


Dengan begitu santai, Angga mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu apa-apa.


"Makanlah Kak" kata Angga mencoba mengalihkan perhatian Hendra.


"Jadi, sebenarnya kamu siapanya Angga" tanya Yani membuat Angga mendengus kesal, saat dia berusaha mengalihkan perhatian Hendra, Yani malah menantangnya dengan bertanya seperti itu kepada Amel.


"Kita bahkan belum kenalan" kata Yani.


"Ah iya, kenalkan saya Amel Guru fisikanya Angga''


Yani terperangah sampai dia membuka mulutnya saat mendengar kebenaran yang tadi telah di ucapkan oleh kekasih nya sampai dia menutup mulutnya dengan telapak tangan saking shocknya.


"Jadi benar kamu Gurunya Angga"


"Iya, benar dan kalian siapa nya Angga''


"Saya Yani pacarnya Hendra" kata Yani menyodorkan tangannya ke arah Amel dan di sambut hangat oleh Amel lalu tangan terulur ke arah Hendra lalu mereka pun berjabatan tangan.


"Dan Dia Hendra Asisten pribadinya Angga''


"Asisten pribadi"


Yani mengangguk tapi saat dia mau berkata lagi, di bawah sana kakinya di tendang oleh Hendra, Yani pun kemudian menoleh ke arah Hendra dan melihatnya menggeleng kepala tanda dia tidak boleh melanjutkan kata-katanya.


"Anda Asisten pribadinya Angga?'' tanya Amel.


"iya" jawab Hendra sambil melepas jabatan tangan mereka.


"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Amel


"Silahkan apa yang ingin anda tanyakan pada saya"


"Apakah Angga.....

__ADS_1


__ADS_2