
"Dengan mengorbankan kebahagiaan Adik ku?"
Papa Saga dan Amel menoleh ke sumber suara yang ada di belakang mereka, tampak dua orang beda usia berdiri di sana, Amel yang terkejut dengan kedatangan kakak nya itu pun lalu turun dari pangkuan Papa nya dan berlari memeluk kakak yang di rindukan nya.
"Kakak kenapa pulang tidak memberi kabar" gerutu Amel sambil memeluk erat kakak perempuan nya itu.
"Kenapa kamu tidak suka kakak pulang?" tanya Riska Kakak Amel yang saat ini sudah bekerja sebagai dosen di salah satu universitas yang ada di Singapura.
"Bukan begitu kan aku bisa susul in kakak ke Bandara" ucap nya.
"Sengaja gak kasih kabar buat kejutan."
"iiiihhh nyebelin harusnya kasih tau dong"
"Memang nya kenapa kalau kakak mu pulang tiba-tiba kamu kayak keberatan gitu kakaknya pulang bukan nya di sambut" kata Mama Intan
"Masalah nya ma, ituu,,,,,,!!!"
"Itu apa?"
"Jangan bilang kamu pakai tas dan sepatu kesayangan kakak ya" kata Riska yang sangat tahu persis kelakuan adik nya itu.
"Hehehe''
"Pa lihatlah, anak kesayangan Papa itu dia memakai barang-barang ku tanpa ijin" adu nya sambil menghampiri Papa Saga Riska duduk di samping Papa nya yang kini tengah menyeruput teh yang ada di tangannya.
Papa Saga yang mendengar itu tidak menghiraukan sama sekali karena itu sudah sering terjadi dan dia tidak mau ambil pusing dengan kelakuan kedua putrinya.
"Bagaimana kabarmu sayang" tanya Papa Saga
"Baik pa, kalau papa sendiri bagaimana?"
"Seperti yang kamu lihat papa baik-baik saja" jawab papa Saga sambil tersenyum mengusap rambut putri pertamanya.
"Pa"
"Kenapa sayang?"
__ADS_1
"Apa Papa tidak bisa membatalkan rencana perjodohan itu?" tanya Riska
"Tidak bisa sayang, bahkan kamu tau sendiri kan kalau pernikahan ini malah di percepat!"
"Apa"
"Di percepat kenapa papa tidak bilang sama aku kalau pernikahan nya di percepat pa?" tanya Amel dengan emosi yang meluap begitu saja.
"Papa kemarin mau memberi tahu kamu tentang rencana itu tapi kamu sendiri yang tidak pulang semalam" kata papa Saga menatap tajam kearah putri keduanya itu.
Amel gelagapan mendengar pertanyaan dari papa nya itu, Amel bungkam tidak tau harus menjawab apa.
Melihat gelagat aneh putri nya itu membuat Papa Saga melontarkan pertanyaan nya kembali.
"Semalam kamu tidur di mana, tidak biasa nya kamu menginap tanpa izin dari Mama ataupun Papa?" tanya papa Saga lagi.
"Aku menginap di rumah Fiona pa, dia sendirian di rumah dan suaminya sedang pergi ke luar kota" ucap Amel ragu
"Herman ke luar kota? kamu bercanda sayang tadi papa baru saja meeting sama dia" kata papa Saga yang memang tadi dia bertemu dengan suami teman anak nya itu.
"Tumben banget dia minta di temenin emang dia sendirian di rumah, Anak nya kemana?" tanya Riska dia cukup kenal dengan sahabat adik nya itu.
"Itu Anak nya tidur di tempat orang tua nya"
"Papa tadi hanya bercanda kan kalau pernikahan aku di percepat, aku belum siap pa!" rengek Amel pada Papa nya
"Papa gak lagi bercanda Lia, pernikahan kamu memang di percepat, tapi untuk alasan nya papa tidak tau" terdengar helaan nafas keluar dari mulut papa Saga dia seakan frustasi dengan keputusan nya.
"Apa yang sebenarnya Papa pikirkan, aku bener-bener kecewa sama papa,"
" Papa g pikir in perasaan anak papa bagaimana, apa kebahagiaan ku saat ini sudah tidak penting lagi bagi papa?" tanya Amel dengan nada segukkan yang tertahan.
"Pa" panggil Riska
"Bagaimana kalau aku saja yang menikah dengan anak teman papa itu?" tawar Riska dia merasa kasian pada adik nya itu.
"Apa maksudnya kakak" tanya Amel yang kebingungan dengan ulah kakaknya itu kenapa justru dia yang mau mengorbankan dirinya.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Riska, bagaimana bisa kamu mengajukan diri sebagai pengganti adik mu!"
"Iya sayang, lagian Om Bima dia tidak akan setuju jika calon menantu mereka di tukar" sahut mama Intan.
"Mereka terlanjur menyayangi Amel"
"Kita tidak bisa mempermainkan mereka Riska, bisa-bisa mereka akan menghancurkan kita" kata papa Saga.
"Lalu untuk apa persahabatan yang kalian jalin sejak lama itu pa, kalau akhirnya mereka meminta imbalan atas apa yang mereka lakukan pada kita"
"Mereka hanya mengambil keuntungan dari kita apa itu masih bisa di anggap sahabat, sahabat yang membuat hidup anak dari sahabat sendiri tidak bahagia" marah Riska yang sepertinya sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Kamu tidak perlu mengajar papa Riska, papa tau apa yang terbaik untuk keluarga kita, jadi jangan coba-coba kamu merencanakan sesuatu yang akan kamu sesali seumur hidup mu" bentak Papa Saga yang langsing berdiri meninggalkan ketiga wanita yang kini tampak syok saat mendengar bentakan yang keluar dari mulut Papa Saga.
Mereka seakan tidak percaya bahwa papa Saga bisa sampai sebegitu marah nya hingg tega membentak Riska, selama ini papa Saga tidak pernah berkata dengan suara keras seperti tadi.
Mama Intan langsung mengejar suaminya itu, namun langkah nya terhenti saat ada di tangga pertama dia memutar badan nya lalu berkata pada dua anak nya yang masih syok akibat bentak Papa nya tadi.
"Kalian kembali lah ke kamar dan istirahat ini sudah malam, dan jangan pernah lagi membahas masalah yang tadi dengan papamu"
"Mama keatas dulu, selamat malam" ucap Mama Intan.
Tak ada sahutan dari kedua putrinya, membuat mama Intan melanjutkan langkah nya menuju kamarnya, dia ingin menenangkan suaminya itu, kalau memungkinkan juga dia ingin bertanya tentang apa yang tidak di ketahui oleh nya.
Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya itu, tidak biasanya menurut mama Intan bahwa suaminya itu mengambil keputusan besar tanpa meminta pendapat atau ijin nya terlebih dahulu.
Riska yang sudah bisa menguasai dirinya pun menghampiri adik nya yang duduk dengan pandangan kosong dan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Lia" panggil nya, sedangkan Amel dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Riska yang duduk di samping nya.
"kenapa kak, kenapa papa kita seperti itu, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai kak"
Riska terdiam dia sendiri juga tidak tau kenapa papanya itu bersikeras menjodohkan Amel dengan orang yang Amel sendiri tidak kenal.
"Jangan bilang kamu punya pacar"
Deg
__ADS_1