MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Bersama mu


__ADS_3

Di sana di sebuah gerai parfum terlihat ada seseorang yang sedang kebingungan dia menelusuri rak demi rak yang ada di sana.


Apa yang sedang di carinya, jika dia sedang mencari dimana letak parfum yang biasa dia gunakan , harusnya tidak seperti itu bukan dia akan terlihat santai dan berjalan pelan sambil melihat lihat merk lain yang mungkin menarik minatnya.


Tapi ini seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, raut cemas yang ditunjukkannya seolah mengartikan bahwa dia tengah mencari sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan apapun yang ada di dunia ini.


Dialah Angga, laki-laki yang baru saja tadi biasa sedekat itu dengan gurunya merasa gusar saat orang yang dicarinya tidak ada di tempat di mana tadi dia meninggal kan nya.


Kemana dia


Pulang?????


Mana mungkin?????


kunci mobilnya dia yang pegang.


Jangan-jangan dia terpergok oleh tunangan nya sendiri....


Oh no....


Apa yang harus dia lakukan????


Langkah kakinya tidak menyerah begitu saja setidaknya dia harus memastikan dia baik baik saja jika apa yang mereka lakukan di ketahui oleh tunangan sang wanita.


Tapi tunggu dulu.


Itu...


Dia menangkap bayangan wanita yang hilang dari pandangan matanya, dia pun berlari lalu memeluk dengan sangat erat.


Amel ya dia terlihat begitu bingung saat Angga memeluk dengan begitu erat membuatnya tidak bisa bernafas saking erat nya pelukan yang di berikan oleh Angga.


Bukannya menolak Amel malah menghirup aroma tubuh Angga yang kini tengah memeluk dirinya, pelukan tanpa permisi yang justru meninggalkan kesan yang mendalam yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang umurnya.


Walaupun dia sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi, di sela rasa bahagia Amel berfikir kenapa Angga tiba-tiba memeluknya seperti ini, pelukan posesif yang dia terima dari sang murid menghantarkan kehangatan tersendiri yang membuatnya melayang dan merasa sangat di inginkan oleh Angga.


Ah itu

__ADS_1


Bolehkan dia berharap akan bisa memiliki pemuda yang kini tengah memeluknya. Amel dia mencoba merenggangkan pelukannya keduanya tapi Angga dia tidak ingin mengakhiri pelukan tersebut dia malah semakin mengeratkan pelukannya membuat Amel tidak bisa bernafas.


" KAU INGIN AKU MATI YA HAA "


Angga pun tersadar akan tindakannya yang memeluk Amel dengan begitu erat dia melepas pelukannya menatap sendu ke arah netra indah yang selalu menatapnya dengan tatapan benci.


Eh ralat bukan benci Angga tapi tatapan menelisik seperti tengah mencari sesuatu yang terkubur di sana seperti menggali sebuah cerita yang tersimpan rapi di sana.


"Kamu kenapa?"


"Tiba-tiba datang main peluk aja mana kencang banget lagi" gerutunya


"Aku tadi nyariin kamu kak tapi gak ada aku....." Angga bungkam dia tidak mungkinkan mengungkapkan ketakutan yang dia rasakan.


"Siapa yang tadi nyuruh aku pilih parfum juga"


Angga menggaruk kepalanya dia ingatkan tentang ucapannya itu, jangan bilang dia lupa Angga hanya tersenyum miring kemudian, saat dia di tatapan Amel dengan pandangan yang tak biasa.


Tatapan mencari kesalahannya biasa dia lakukan pada muridnya ini saat mata pelajarannya berlangsung.


"Wah harum banget cocok sama aku makasih ya" ucap nya dengan raut bahagia setelah menghirup parfum tersebut dan ah sudahlah tidak perlu di jelaskan lagi.


"Masih mau beli lagi atau mau langsung makan"


"makan"


" ini sudah jam 8 lewat " kata Angga sambil menunjuk jam di layar ponselnya.


"Oke kita bayar dulu" tanpa menjawab Angga mengikuti Amel dari belakangnya dan setelah sampai di kasir mereka menunggu giliran untuk melakukan transaksi


Amel dia bersikeras membayar parfum itu, dia merasa sungkan jika semua tanggungan Angga yang membayar.


Dan bukan Angga namanya kalau dia mau mengalah begitu saja, jangankan hanya dua botol parfum merk CH itu dia tidak mampu kalau pun dia mau 10 botol dia bisa beli.


Setelah perdebatan yang cukup membuang waktu akhirnya tetap saja di menangkan oleh Amel. Bukan rahasia lagi bukan kalau wanita adalah pemenang dari segala kompetisi, tapi tidak untuk hati


Setelah pembayaran selesai mereka keluar dari mall tersebut menuju basecamp mobil. Lalu di mana motor Angga yang pasti mereka datang bersama saat siang tadi.

__ADS_1


Angga seakan merealisasikan kencan dadakannya walau dia cukup kecewa, dia sudah bilang bukan, kalo dia ingin ke pantai bermain dengan ombak atau membuat istana pasir di sana dan dia yang menjadi raja dan Amel yang menjadi sang permaisuri.


Bukan kah keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama Amel sudah terwujud walau tidak ke pantai lalu apa beda nya sama bukan?.


Sampai di Basecamp mereka lalu masuk kedalam dengan Angga yang duduk di balik kemudi dan Amel di sebelahnya yang telah memakai seat beltnya.


Angga mengarahkan mobilnya meninggalkan mall tersebut menuju bengkel tempat dia tadi menaruh motornya, lama saling dia akhirnya Angga yang melihat penjual makanan di pinggir jalan pun menawari Amel untuk makan malam sebelum kembali kerumahnya masing-masing.


"Mau makan apa kak?" tanya Angga masih dengan fokusnya.


"Di restoran atau di kafe?" tanyanya lagi


"Aku mau makan nasi goreng sama martabak boleh?"


"Oke"


"Di depan sana ada yang jualan nasi goreng enak banget, kita ke sana ya?" kata Angga


Amel menyetujui ajakan Angga untuk makan di tempat yang dia katakan tadi, rupanya Amel diam diam menilai tentang anak muridnya itu.


Dia mengambil kesimpulan bahwa Angga merupakan sosok yang pengertian dan selalu menanyakan pendapat dari pasangannya.


Juga tidak perhitungan dalam hal uang dan bisa makan di mana pun. Itu menjadi nilai tersendiri yang membuat Amel begitu ingin terus di sisi Angga.


Tapi sudahlah tidak perlu di katakan bukan tentang apa yang tidak mungkin dia hindari. sebentar lagi statusnya bukan wanita lajang tapi wanita bersuami yang membuatnya menjadi murung seketika.


Angga menoleh ke arah samping di mana wanita yang menjadi kakak dadakannya tidak menjawab pertanyaannya.


Tapi lihatlah kenapa dia terlihat murung apa salahnya hingga wajah cantiknya berubah sendu apa yang membuat mood nya tiba-tiba berubah.


Ada kesedihan di balik matanya ada sesak yang coba dia tutupi ada beban yang begitu berat yang seakan membelenggunya.


Angga tidak ingin melihat wanita itu bersedih tapi apa penyebabnya tadi saat menyebutkan ingin makan apa dia terlihat begitu antusias tapi sekarang kenapa??


Ingatan Angga kembali pada saat di mana tadi mereka menjalani hari tapi dia tidak menemukan dimana dan apa yang membuat kekasih hati bersedih.


Di tengah kebingungan akhirnya dia mencoba bertanya apa yang membuatnya murung, tapi bukan jawaban yang dia dapatkan, malah pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2