MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Sakit tak berdarah


__ADS_3

Angga duduk termangu di sofa ruang tamu Apartemen nya, yang sudah lama tidak di kunjungi nya sejak terakhir kali datang ke apartemen ini bersama Amel.


Saat tadi dia membuka pintunya, dia menemukan sebuah surat berwarna hijau muda, dia cukup faham dan tahu bahwa surat yabg ada di tangan itu adalah surat undangan.


Tapi yang membuatnya bingung adalah siapa yang meninggalkan surat tersebut, tidak mungkin Hendra yang mengirimkan nya surat tersebut, dia pasti akan datang ke rumah orang tua nya.


Di timang nya surat yang ada di tangan nya itu, cukup ragu dia untuk membuka nya, di taruh nya undangan tersebut dia berjalan ke arah dapur tanpa melihat siapa nama yang tertera jelas di sampul undangan berwarna hijau muda itu.


Dia masih memikirkan tentang siapa pengirimnya sambil berjalan dai mengingat siapa saja yang tahu tentang apartemen tersebut.


Saat dia mengingat satu nama yang mungkin saja menjadi pengirim undangan tersebut, dia pun kembali ke ruang tamu dan menyambar undangan yang ada di atas meja.


Dia buka nya dengan tidak sabar, membuat nya sedikit robek di ujung nya, betapa terkejutnya dia saat mendapati nama orang yang tadi terlintas di benak nya itu ada di dalam undangan tersebut.


Angga langsung terduduk di sofa dengan wajah suram nya, dia tidak menyangka jika kisah cinta nya akan berakhir, di tinggal menikah oleh orang yang dia perjuangan selama ini.


Dia masih mengingat pesan terakhir dari guru nya itu yang meminta nya untuk menjadi lebih baik dan menjaga diri saat berkuliah di Yogyakarta seperti rencana nya.


Dia tidak menyangka bahwa itu adalah pesan yang Amel tinggal untuk diri nya sebelum adalah pesan perpisahan.


Angga kembali mengingat tentang semua yang telah dia lakukan bersama waktu itu, bahkan wanita itu begitu nyaman tidur dalam pelukan nya tapi kenapa dia malah memilih pelukan pria lain, kenapa bukan dirinya, lalu bagaimana dengan semua pengorbanan nya.


Bisakah dia melalui semua ini dengan baik-baik saja seperti pesan yang dia dapatkan, padahal semua hidup dan cinta nya berporos pada satu titik, dimana titik itu adalah dia, CAMELIA SABRINA


Angga mengambil kembali undangan yang jatuh di sofa ruang tamu, di lihatnya lagi dan lagi, dia masih terus berharap bahwa nama pengantin wanita itu bukan Guru cantik nya yang telah menemani hari-hari nya selama ini.


Pandangan nya jatuh pada tanggal yang tertera di sana.


Deg!


Tunggu.


Bukan kah itu tanggal yang tertera di sana itu adalah hari ini.


Jadi----

__ADS_1


Hari ini adalah hari di mana pernikahan Amel di langsung, dia tidak percaya dengan skenario yang alam rencanakan untuk nya, bisa-bisanya dia kembali ke apartemen hanya untuk menjemput sebuah ketidaksengajaan yang tidak dia ketahui.


Pantas saja dia tidak menemukan Amel sejak dua hari yang lalu, dan yang ada di pikirannya Amel tidak hadir karena tidak ada jadwal nya mengajar tapi ternyata alasan yang sebenarnya, dia tengah mempersiapkan hari bahagianya.


Ya hari bahagianya yang akan menjadi hari kehancuran bagi seorang pria muda yang begitu mencintai guru nya sendiri.


Pria yang di minta nya untuk datang melamar menjadi suaminya tapi kini dia harus datang memenuhi undangan nya sebagai tamu undangan pernikahan.


Dreeertt


Dreeertt


"Iya kak?"


"Kamu di mana?"


"Aku di kosan kak Hendra, kenapa?" tanya Angga dengan suara yang terdengar sangat dingin.


"Kamu bisa temenin kakak gak?, teman kakak mau nikah tapi bang Herman sedang ke luar kota jadi kamu aja ya yang temenin kakak?"


"Iiiihhh pokok nya harus mau, ini sama mama sama papa juga kok, mau ya!"


"Udah sama mama papa kok masih ngajak aku!"


""Kamu tahu bucin nya papa kamu yang ada aku bakalan jadi obat nyamuk di sana, Alyssa juga pasti akan sama mereka"


"Heeemmm!"


"Kamu mau kan?"


"Mau yaaaa!"


"Iya bawel banget"


"Lev you tuuuuuu, muaaachh"

__ADS_1


"huweekk"


Angga pura-pura muntah mendengar kata cinta dari kakaknya itu, yang merupakan senjata andalan nya saat dia merayu adik nya itu.


Sebisa mungkin Angga terlihat baik-baik saja saat sampai di rumah nya, ya dia pulang setelah mendapatkan telfon dari kakak nya itu.


Meskipun gejolak di dada nya, belum benar-benar hilang, rasa marah dan kecewa pada wanita itu begitu sakit dan membekas di hati nya.


Dia memilih untuk tidak menghadiri acara pernikahan itu, ya dia tidak ingin terlihat begitu hancur di depan Amel saat melihat wanita yang dia puja selama ini.


Namun di sudut hati nya yang lain dia merasa seperti pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan yang ada.


Angga masuk ke dalam kamar nya, membuka lemari pakaian, tangan nya terulur mengambil kotak yang selalu di buka nya itu saat dia merasa kan rindu yang teramat pada pemilik jaket tersebut.


Di sentuhnya jaket itu, entah dengan perasaan apa yang kini dia rasakan, sakit nya sudah tidak lagi bisa di gambarkan, di bawa nya dua benda tersebut, lalu dia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di kamar nya, dengan pandangan kosong nya.


Andai saja dia seorang wanita, pasti air mata nya sudah menggenang di pelupuk mata lalu mengalir deras di pipi nya, juga kantung hitam dan mata sembab pasti akan terhias di wajah nya.


Sayangnya dia adalah laki-laki bukan sebuah pantang baginya menangisi wanita dalam hidup nya, tapi dia masih menggunakan logikanya bahwa air mata ataupun amarah nya tidak akan membuat semuanya berubah, itu hanya akan membuat kwalitas diri seorang laki-laki akan hilang jika dia tidak bisa se maksimal mungkin mengendalikan emosi yang ada dalam diri nya.


"Kamu sudah pulang ?" tanya Fiona yang masuk ke dalam kamar adiknya itu.


""Heeemm, tutup pintu nya kak!" pinta nya pada kakaknya.


"Kamu kenapa?" tanya Fiona lagi saat melihat kesedihan yang begitu teramat dalam yang terlihat dari mata adik nya itu.


Fiona mengambil dua benda yang ada di tangan adik nya, begitu benda itu berpindah ke tangan nya, Fiona langsung tercengang saat mengetahui tentang kedua nya.


Jaket milik wanita yang menjadi cinta pertama adik nya dan surat undangan dari sahabat nya.


Ya TUHAN..


APA INI?????


SAHABAT DAN JUGA ADIKNYA

__ADS_1


Fiona langsung memeluk adik nya itu seakan dia tahu kesakitan yang di rasakan oleh Angga dan juga sahabat yang terpaksa harus menerima takdir mereka, takdir yang tidak mengizinkan mereka menjadi satu.


__ADS_2