
Hari ini menjadi hari yang paling di tunggu oleh Amel, mengingat hari ini adalah hari di mana ujian sekolah akan di langsung kan.
Dan Amel yakin kalau Angga pasti akan masuk sekolah, sejak satu Minggu yang lalu tepat nya setelah acara pernikahan nya dia tidak pernah melihat Angga lagi di sekolah.
Tidak mungkin Angga pindah sekolah atau mungkin tidak menamatkan sekolah menengah atas nya itu.
Bel telah berbunyi semua peserta ujian sudah masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku sesuai dengan nomor urut absensi harian mereka.
Tapi kenapa Amel belum melihat Angga di sana, bukan kan ini sangat penting untuk masa depannya nanti, kenapa Angga mengabaikan ujian ini, Amel terlihat cemas di sana bagaimana kalau sampai pengawas ujian telah masuk dan Angga belum ada di ruangan tersebut.
Bisa-bisa Angga akan kena sangsi dan menjalani ujian di kantor sendirian, Amel masih berdiri di depan pintu kelas sambil terus menatap ke arah lorong dimana Angga biasanya datang.
Namun penantian Amel hanya sia-sia saja, sampai pengawas ujian masuk ke dalam ruang kelas dia tidak menemukan Angga di sana.
Lalu kemana anak murid nya itu, dia juga heran kenapa pengawas ujian tidak menanyakan dimana keberadaan murid yang tidak hadir itu.
Amel seperti harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semua orang tidak ada yang membahas tentang ketidakhadiran Angga.
Bahkan saat di mengintrogasi Aldi dan juga Azzam mereka sama-sama tidak tahu dan sejak seminggu yang lalu mereka tidak saling bertukar kabar.
Amel kembali ke kantor nya sesaat setelah berbincang-bincang dengan pengawas ujian, di sana dia mendapati salah satu teman nya tengah duduk di kursi meja kerja nya sambil terus memperhatikan layar laptop nya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Amel saat berada di samping teman nya itu.
"Kamu ini bikin kaget saja!" Gerutu nya sambil menutup laptop yang ada di depan nya.
"Kamu sendiri yang serius banget lagi lihatin apa? dan Ini lagi kenapa si tutup segala!" tanya Amel dengan kepo nya.
"Kenapa? kamu sudah sembuh sudah bisa bicara lagi!" Sindiran nya.
"Apa maksudnya?"
"Bukan kah kamu sejak menikah jarang sekali mau ngobrol lagi dengan kamu di sini!" lanjut nya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu hanya saja aku sedang tidak enak badan,"
"Tidak enak badan? bukan nya tiap malam ada enakin?"
"Haah!"
"Jangan bilang kalau kamu belum pernah membuat gempa lokal Mel?"
"Tentu nya sudah lihat saja cara nya berjalan sudah tidak seperti seorang gadis lagi!"
"Kalian ini apa yang sedang kalian bicarakan, tidak sadarkah kalian ini sedang ada di mana?"
"Kalau kalian sudah bosan bekerja di sini cepat buat surat pengunduran diri, dengan senang hati aku menandatangani nya!"
Semua orang tampak diam tidak ada satu pun orang yang berani menjawab, atau pun mengeluarkan suara sedikitpun.
Hari terus berganti hari, Amel benar-benar tidak menemukan Angga di mana pun di sekolahnya tidak ada bahkan Fiona juga tidak tahu di mana adik nya itu saat ini.
Tapi dari data yang di terima oleh Amel selaku wali kelasnya, Angga tetap mengikuti ujian kelulusan, tapi kenapa dia tidak bisa mengetahui di mana Angga mengerjakan semua soal ujian nya.
Dia menghilang bak di telan bumi, Amel sama sekali tidak menemukan jejak nya, hingga puncak nya adalah acara wisuda sekolah yang akan di adakan hari ini.
Tapi lagi-lagi Amel harus menelan pil pahit atas ketidakhadiran nya di sana, dia tetap menunggu di tempat biasa dia memarkir kendaraan nya.
Amel masih berharap Angga datang menemui nya, setidak nya dia berharap Angga datang untuk mengucapkan salam perpisahan nya secara langsung buka melalui surat yang dia tulis kan.
Sampai acara inti akan di mulai Amel tidak melihat kehadiran Angga di sana, Amel yang sudah tidak lagi bisa menahan nya pun menghampiri Aldi dan Azzam yang tengah duduk di kursinya.
"Aldi, Azzam ikut ibu sekarang!"
"Mau kemana Bu?" tanya Aldi yang kini mengekor pada guru nya itu, sedangkan Azzam dia hanya diam tanpa suara.
kini mereka bertiga ada di luar aula pertemuan, di tempat yang cukup sepi menuju gudang sekolah.
__ADS_1
Amel menatap kedua murid nya itu secara bergantian, lalu dengan suara penuh penekanan dia bertanya untuk yang kesekian kalinya pada teman laki-laki yang selalu memenuhi kepala nya itu.
"Aldi, Azzam sekali lagi ibu bertanya di mana Angga?"
mereka berdua saling tatap saat mendengar pertanyaan yang entah sudah keberapa kali Amel tanyakan pada mereka.
"Saya tidak tahu Bu!"
"Jangan bohong kamu, selama ini aku cukup sabar menghadapi kalian yang selalu menyembunyikan Angga, sekarang katakan di mana dia?"
"Mau apa ibu menemui sahabat saya, apa ibu belum puas menyakitkan nya, apa ibu ingin bertemu dengan nya hanya ingin memastikan bahwa dia sudah mati atau belum!" tanya Azzam dengan wajah dingin yang terlihat jelas dari sorot mata nya.
"Apa maksudmu kamu Azzam, jangan kurang ajar kamu sama saya,!" bentak Amel yang terpancing emosi saat mendengar tuduhan dari Azzam.
"Lagi pula bukan kah ibu sudah menikah, buat apa mencari Angga, kalau untuk ujian bukan kah ibu sudah bisa melihat sendiri bahwa teman saya lulus ujian walau tidak hadir di sini!"
"kalau untuk wisuda ini hanya formalitas belaka jadi dia tidak akan datang, tidak usah mengharapkan nya ada di sini!"
"Kalau tidak ada yang mau di bicarakan kami permisi ibu Permana!"
"Satu lagi jangan pernah mencari di mana sahabat saya berada, lebih baik ibu urus saja suami itu yang-----"
"Aldi!"
"Kami permisi!"
Amel diam mematung di sana dia tidak tahu harus menjawab apa, dan juga apa yang harus dia lakukan, ada satu kata yang menggelitik hati Amel tentang Aldi yang ingin mengatakan sesuatu mengenai suaminya.
Tapi sayang Azzam menghentikan ucapan Aldi, mungkin dia harus mencari tahu apa yang tidak di ketahui oleh nya tentang seseorang yang selama satu Minggu ini menjadi suaminya.
Tak mau terlalu larut dan urusan pribadi nya Amel kembali ke aula yang ternyata acara inti sudah di mulai, satu persatu nama yang si panggil pun naik ke atas panggung.
Amel ingin memastikan siapa yang akan naik ke atas panggung saat nama pemuda yang mengambil seluruh hati nya itu di sebutkan.
__ADS_1
Dan-----