MENCINTAI ISTRI ORANG

MENCINTAI ISTRI ORANG
Panik


__ADS_3

Angga telah sampai di tempat tujuan nya, lalu memarkir motornya di sana, dia berjalan ke arah pantai, di sana tak banyak orang yang datang, kebanyakan dari mereka akan datang melepas jenuh saat weekend datang.


Dia ke sana bukan tanpa alasan, tentunya dia ingin sejenak melupakan tentang apa yang dia telah lewati selama ini.


Angga terduduk di hamparan pasir putih menikmati hembusan angin pantai yang sangat menyejukkan, jika saja dia kesini dengan Amel tentu suasana tidak akan seperti ini.


Pasti wanita itu akan merengek pada nya untuk bermain air di sana ya semua orang tidak ada yang tau sikap Amel yang seperti itu, mungkin sikap manja nya akan itu hanya akan muncul saat mereka tengah berdua saja.


Tunggu, bukan kah dia pergi ke pantai untuk melupakan Amel tapi kenapa bayangan itu semakin nyata di mata nya.


Apa yang harus dia lakukan haruskan dia mengatakan bahwa dia lah adik kecil yang di tunggu nya mesti dia sendiri ragu tentang ingatan anak kecil yang mungkin saja kini tengah menikmati kehidupan bersama teman-temannya.


Namun pada kenyataannya Angga sama sekali tidak pernah melupakan dirinya walau sedetik pun, dia tetap menempati posisi nomer dua di hati nya, tentu saja setelah sang Mama, wanita yang telah berjuang keras melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


Semburat jingga tengah menghiasai langit di ufuk barat, menghadirkan pemandangan alam yang sangat indah, entah sudah berapa lama Angga berdiam diri di sana, hingga saat mentari telah pulang ke peraduannya pun dia masih tetap tak bergeming.


Tak ada yang tahu apa yang tengah dia pikirkan saat ini, dia hanya duduk melamun sambil menikmati hembusan angin yang menerpa wajah tampan nya.


Rintik hujan menyadarkan Angga yang sedari tadi tidak bergeming, Angga lantas mengedarkan pandangannya dia cukup terkejut saat mendapati bahwa hari sudah malam.


Angga pun bangkit dari duduknya, lalu merogoh kantong celana nya, alisnya tertaut saat melihat layar ponselnya menghitam, seingat dia sebelum tidur kemarin malam dia men-charge ponselnya tersebut.


Seharian ini dia juga tidak memainkan ponselnya lalu kenapa bisa habis, Angga tiba-tiba terkekeh di sana saat ponselnya menyala kembali saat dia menekan tombol on/off yang ada di samping kanan itu.


Angga membulat kan mata saat melihat dan yang tertera di sana tapi bukan itu sebenarnya yang membuatnya kaget, puluhan pesan dan telfon dari keluarga nya membuat dia menelan ludah.


Alasan apa lagi yang harus dia katakan pada mereka semua yang pasti akan ada konser nanti saat dia menginjak kaki di rumahnya.


Tak ingin membuang waktu lagi Angga melajukan kekediaman yang sejak kecil menjadi tempat nya bernaung.

__ADS_1


Namun di tak langsung pulang dia ingin membelikan sesuatu agar perhatian mamanya teralihkan dan dia bisa selamat sampai kamarnya tanpa harus mendengarkan ceramah Mama nya.


Angga bahkan tak sempat membaca pesan yang di kirim gurunya itu karena panik dengan pesan beruntun yang di kirim baik olah mama, papa atau pun kakak nya.


Amel dia harap harap cemas saat ini bagaimana tidak, Angga sama sekali tidak membalas pesan ataupun menjawab panggilan yang di layangkan nya, Amel mondar mandir di teras depan rumah nya, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengurangi rasa yang bergelayut di hatinya.


Dia sendiri bingung harus mencarinya mana dia tidak tau alamat rumah Angga, sedang kan Angga tidak ada di apartemen saat tadi dia mencari nya di sana, tingkahnya yang tak biasa itu menarik perhatian orang tua Amel yang tengah duduk di ruang keluarga, karena tidak biasanya Amel terlihat mencemaskan sesuatu.


Karena penasaran dengan apa yang di lakukan oleh anak nya membuat mama nya menghampiri nya yang sedang duduk di kursi teras.


"Apa yang kamu lakukan Amel," tanya mama Amel yang kini berdiri di ambang pintu, suaranya terdengar pelan tapi suara itu mengagetkan Amel yang entah nyawanya sedang tidak ada di sana.


"Mama sejak kapan ada di sana, bikin kaget saja." jawab Amel


"kamu itu yang ngapain, dari tadi mama sama papa perhatian kamu mondar-mandir kayak setrikaan aja" kata Mama nya


"Ituuu..."


"Aku baik-baik saja ma gak usah khawatir''


"Gimana mama mau tenang orang kamu kayak gelisah gitu, dikit-dikit ngecek hp"


"Kamu lagi nungguin siapa, apa Bobby mau ke sini?"


kenapa harus Bobby. gerutunya dalam hati


"Enggak"


"Nak Bobby sedang ada di luar kota udah 3 hari ini, masak kamu tunangannya gak tau?" kata Mamanya Amel sambil memicing arah Amel

__ADS_1


"Aku tau, dia kemarin kasih kabar ke aku"


"Terus kamu ngapain mondar-mandir sini kalau udah tau Bobby lagi di luar kota"


"Cari angin ma, udah ah aku mau ke kamar aja tidur ngantuk juga" kata Amel yang berlalu dari sama meninggalkan mamanya yang masih berdiri di depan pintu.


Mood Amel yang sedang buruk bertambah buruk setelah mendengar perkataan mama nya tentang calon suaminya itu, dia terlalu malas membahas hal yang menurutnya tidak penting sama sekali, baik mama ataupun papa nya pasti akan sangat berlebihan saat memuji calon menantunya itu.


Amel masuk kedalam rumah melewati papanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga, Amel mengangkat bahunya, dia cukup heran melihat papa nya yang tengah duduk santai menikmati teh.


Biasanya papa nya itu akan sangat sibuk dengan laptopnya walaupun dia sedang ada di rumah, namun langkah kakinya terhenti saat mendengar papa Saga memanggil nya.


"Lia"


"Ada apa pa?" jawab Amel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya papa nya, Papa Saga mempunyai panggilan kesayangan untuk putri nya itu, dia sangat menyayangi putrinya dan dia sangat tahu bahwa Amel tidak ingin menikahi anak dari atasannya tersebut.


Tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun, dia tidak punya sedikit keberanian untuk melawan Tuan-nya sekaligus sahabatnya.


"Bagaimana keadaan mu Lia?" tanya papa Saga dengan hembusan nafas yang berat terdengar di telinga Amel.


"Maksud Papa?" tanya Amel sambil menyengitkan dahinya, dia bingung dengan pertanyaan yang di berikan Papanya.


"Maafkan papa"


"Maaf untuk apa?" tanya Amel sambil berjalan mendekat ke arah pria yang merupakan cinta pertamanya itu, dia duduk di pangkuan papanya dengan posisi memeluk erat.


"Maafkan papa yang merenggut kebahagiaan mu Lia" kata papa Saga sambil mengusap rambut putrinya yang tergerai hingga pinggangnya


"Papa tau kamu tidak mencintainya tapi papa juga tidak punya pilihan lain, papa tidak ingin kalian hidup sengsara, juga papa tidak enak hati jika menolak permintaan mereka baik sebagai atasan atau sahabat papa" lanjut nya lagi.

__ADS_1


"Dengan mengorbankan kebahagiaan adik ku"


__ADS_2