
Sakit kepala yang dirasakan Akira seketika lenyap, saat ia melihat senyuman lemah yang diperlihatkan Dimas. Dagunya yang menghitam karena mulai ditumbuhi janggut terlihat kontras dengan kulitnya yang amat pucat.
"Aku merasa lebih baik sekarang, dan aku sangat optimis untuk sembuh. Jam berapa sekarang?" Tanya Dimas.
Akira memundurkan kursi yang didudukinya seraya menghapus air mata yang mengalir dipipi nya. Lantas ia menatap jam yang menempel di dinding.
"Jam tujuh lewat tiga puluh menit, pagi hari." Jawab Akira.
Akira berusaha menahan air matanya agar tak jatuh, tapi air mata itu terus saja mengalir ke pipinya. Akira menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya, kemudian mencari tisu di dalam tasnya untuk mengusap hidungnya.
Dimas tertawa kecil. "Aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu. Apa kau berharap . . . . . . aku akan meninggal?"
Akira yang tersedu-sedu kemudian tertawa ketika Dokter Jerry datang dan langsung memberi tahu kondisi Dimas.
"Anda mengalami malam yang sangat buruk semalam, Tuan Dimas. Untuk sesaat, saya berpikir saya harus memasangkan ventilator pada anda. Tapi pagi ini kondisi pernafasan anda mulai membaik."
"Dok, apakah aku bisa terbebas dari pemakaian ventilator?" Tanya Dimas dengan raut wajah yang tegang, berharap jawaban Dokter Jerry bisa menenangkannya.
"Saya tidak bisa memastikannya saat ini, tapi saya cukup optimis. Sangat mungkin jika anda bisa terhindar dari penggunaan ventilator. Saya tahu anda punya begitu banyak pertanyaan. Dalam beberapa hari kita akan tahu lebih banyak tentang kondisi anda. Sementara waktu saya ingin kalian berdua untuk berpikir positif. Jika kondisi anda tetap stabil dalam beberapa minggu kedepan, anda tidak perlu lagi berada di ruang ICU, Tuan Dimas. Anda bisa pindah ke ruang perawatan."
Akira dapat melihat secercah harapan di mata Dimas.
"Anda bisa saja berada di rumah sakit selama beberapa minggu, bahkan berbulan-bulan, itu semua tergantung dari perawatan seperti apa yang anda inginkan. Kami akan memulai dengan program physical-therapy selama anda berada di rumah sakit."
Mendengar ucapan Dokter Jerry yang optimis akan kesembuhan Dimas, Akira ingin sekali menumpahkan suka dukanya dengan menangis. Namun ruang ICU bukanlah tempat cocok untuk dijadikan tempat menangis. Akira bangun dari duduknya kemudian merenggangkan otot pundaknya.
"Berita baik membuatku lapar. Aku sebenarnya lapar dan ingin sarapan di kantin rumah sakit." Akira mencolek lengan Dimas. "Jadilah pria baik selama aku pergi." lankut Akira.
Dokter Jerry memeriksa dada Dimas menggunakan stetoskop dan meraba lehernya.
"Laki-laki biasanya ingin tahu, apakah GBS akan mempengaruhi masalah seksual mereka.."
Dimas terlihat menggit bibirnya dan berkata. "Ya, sepertinya aku juga ingin tahu."
"Saya takut, saya tidak bisa memastikan akan hal ini Tuan Dimas. Tapi saya sangat optimis akan kesempatan anda untuk bisa sembuh total dari segala keluhan yang anda alami."
Dokter Jerry lalu meninggalkan Dimas di ruang ICU sendirian setelah membicarakan tentang bagaimana kondisinya.
__ADS_1
'Apa-apaan Dokter itu. Pertama dia membuatku optimis dengan berbagai berita baiknya, namun dengan cepat dia kembali mengatakan tidak bisa menjanjikanku apa-apa. Sialan.' umpat Dimas dalam hati.
Dalam kegelisahan hati yang mendera, Dimas mengingat kembali bagaimana pedulinya Akira kini terhadap dirinya. Akira bahkan rela menemaninya sepanjang hari, bahkan menangisi dirinya kala dalam kondisi kritis.
Dimas merasa sangat bahagia hanya sekedar memikirkan bagaimana sikap hangat Akira selama berada disisinya.
************************
Tiga hari kemudian, akhirnya Dokter Jerry memutuskan untuk memindahkan Dimas ke ruang rawat inap. Saat Akira sampai di rumah sakit, semangat Dimas berapi-api.
"Lihatlah ini Akira, sebuah ruangan dengan fasilitas seperti hotel murah: tempat tidur yang tidak empuk, tirai yang jelek, dan ada tv juga yang hanya memiliki empat saluran, bahkan terdapat kamar mandi yang pasti bisa membuatmu merasa nyaman, tapi tidak denganku." ucap Dimas.
"Selamat Dimas, atas kembalinya kau ke peradaban manusia." gelak Akira.
"Ini membuatku sangat bersemangat. Untuk pertama kalinya sejak tiba disini, akhirnya aku bisa berpikir untuk bisa keluar dari tempat ini." balas Dimas.
"Kita harus merayakannya? Apa yang kau sukai? Apa Dokter mengizinkanmu untuk sekedar minum soda? Aku bisa menyiapkannya untukmu." cecar Akira.
"Aku rasa tidak. Sepertinya aku ingin makan daging." ucap Dimas.
"Baiklah, jangan biarkan pihak rumah sakit memberimu makan malam. Aku akan kembali dalam beberapa jam kedepan."
Tiga jam kemudian Akira kembali ke rumah sakit dengan membawa sebuah termos air panas, sebuah keranjang piknik lengkap dengan kain motif bunga sebagai penutupnya.
Akira mulai mengeluarkan isi dari keranjang. Terdapat beberapa potongan steik yang sudah di panggang, sebuah piring datar berukuran medium, dua buah sapu tangan, sepasang sendok dan garpu dan tak lupa Akira mengeluarkan setangkai bunga mawar lalu dimasukkan ke dalam sebuah vas kaca yang sudah diisi air.
"Keranjang ini terlalu kecil, sehingga aku hanya membawa satu piring. Jadi kita akan makan sepiring berdua." ucap Akira.
Dimas terlihat sangat antusias saat Akira mulai menata makanan di atas meja yang tersedia. Akira mengeluarkan semangkuk salad sayuran yang diberi saus yang dibuatnya sendiri.
Akira menatap langsung ke mata Dimas saat memberikannya segelas eh teh dengan menyodorkan sedotan ke bibir Dimas. Kemudian mengambi potongan steak menggunakan garpu, lalu menyuapi Dimas. Setelah itu kembali mengambil potongan steak dan menyuapi dirinya sendiri.
"Sempurna." Ucap Dimas yang pandangannya tak pernah lepas dari memandang Akira.
"Aku memasaknya sesuai dengan bumbu yang kau suka.."
"Kau memasaknya?" tanya Dimas dibalas anggukan Akira. "Kau pasti sangat kerepotan. Aku pikir kau akan memesan makanan saja."
__ADS_1
"Untuk seseorang yang belum sepenuhnya merasa bebas dari rumah sakit, kau harus mendapatkan yang terbaik. Bukan sekedar memesan ayam panggang atau sayuran yang hanya ditumis dari penyedia makanan via online. Lihat saja nanti, jika kau sembuh, aku akan mengajakmu berkeliling kota ini. Akan aku tunjukkan dimana restaurant terbaik di kota ini." ucap Akira.
Akira melanjutkan menyuapi Dimas juga dirinya sendiri dengan hanya menggunakan satu garpu. Dimas merasakab sensasi tersendiri karena makan sepiring berdua dengan Akira.
Kegiatan ini membuat Akira kembali mengingat masa lalu. Dimana keduanya tengah piknik di taman. Sama halnya seperti hari ini, saat itu keduanya makan dengan sepiring berdua. Berbagi sendok dan garpu. Hingga tertawa bahagia bersama.
Akira kembali menepis memori itu, menyadarkan dirinya bahwa tidak akan ada masa depan diantara keduanya jika harus kembali bersatu lagi.
Setelah makanan habis, Dimas kembali bertanya, "Apa makanan penutupnya?"
Akira tersenyum lantas mengeluarkan setoples kecil saus blueberry.
"Apa kau mau ini?" tanya Akira.
"Tentu saja." Jawab Dimas.
Akira kemudian mengambil sesendok penuh saus blueberry lalu menyuapi Dimas.
"Apa kau masih ingat momen saus blueberry?" tanya Akira.
"Sudah ku katakan, aku tidak akan melupakannya."
Pada ketiga kalinya Akira menyuapi Dimas saus stroberry, Dimas menggigit sendok itu lalu menahannya dengan bbirnya. Akira berusaha menarik sendok itu, namun Dimas dengan perlahan melepaskan sendok itu dari bibirnya.
"Apa kau mau saus blueberry juga?" Tanya Dimas.
"Gak." balas Akira.
Dimas kembali menahan sendok dengan bibirnya saat Akira menyuapinya. Pandangan keduanya sangat lekat. Akira tiba-tiba mendekatkan wajahnya dengan Dimas tanpa sadar. Ia semakin menunduk saat sendok terlepas dari bibir Dimas.
Saat semakin dekat, tiba-tiba sendok yang berada digenggaman Akira terlepas dan menyebabkan suara dentingan yang cukup keras, yang akhirnya membuat Akira jadi salah tingkah.
Akira segera mengambil sendok yang terjatuh ke bawah tempat tidur Dimas. Namun saat mencoba bangun, kepala Akira mengenai dipan. Hingga membuatnya meringis kesakitan dan juga malu.
Akira kemudian memasukkan semua peralatan ke dalam keranjang dan bersiap untuk pulang.
"Aku harus pergi sekarang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Selamat malam Dimas" ucap Akira lalu berjalan keluar.
__ADS_1
Bersambung