
Tiba di bandara kota XXX. Dengan cepat Daniel berjalan setelah tiba di terminal kedatangan. Kacamata yang ia kenakan, menutup matanya yang merah karena penuh amarah.
"Segera siapkan aku penginapan terdekat dari rumah Akira." Titah Daniel melalui sambungan telepon.
Sesuai laporan orang suruhannya, Daniel lalu menuju mall dimana Akira dan Dimas berada.
Selesai berbelanja, Akira dan Dimas berjalan-jalan menyusuri toko-toko yang lain. Keduanya melewati toko pakaian tidur, berbagai macam model dan ukuran. Dari jarak beberapa meter terlihat manekin yang dipajang mengenakan lingerie yang anggun.
"Sayang, ayo beli itu!" Dimas menyenggol tangan Akira dan mengisyaratkan sesuatu melalui pandangan matanya.
Akira membelalakan mata, tidak menyangka Dimas akan terus terang seperti ini. Akira merasa malu, tapi juga ada perasaan lain yang menyapa hatinya.
"Nanti saja, ya," ujar Akira.
"Kenapa?"
"Aku sebenarnya sedang datang tamu bulanan, jadi tidak bisa. Bagaimana kalau kamu tambah gemas denganku?" jawab Akira beralasan.
"Belinya sekarang, tapi kau kan bisa memakainya nanti." Dimas tetap pada keinginannya.
"Nanti saja, lah," kata Akira pelan.
Dimas diam, rasa kecewa tak bisa dihindari dari raut wajahnya. Akira pun merasa tak enak hati.
"Dim, kau suka warna apa?"
Pria yang berdiri di samping Akira, langsung menatapnya kemudian mengukir senyum di wajah khasnya.
"Yang merah maroon itu sepertinya cocok untukmu sayang."
Akira mengangguk pelan, membuat senyuman Dimas semakin merekah.
"Kamu tunggu disini saja, duduk manis." Ucap Akira seraya membantu Dimas untuk duduk di sebuah kursi yang terdapat di depan toko.
Sedangkan kaki Akira langsung melangkah masuk ke dalam toko.
Akira hanya memilih warna dan ukuran yang pas saja untuknya. Seorang wanita memakai seragam toko, rok mini, riasan tebal dengan rambut digelung ke atas menyambutnya di meja kasir.
"Ada yang lain, Mbak?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak. Itu saja." Jawab Akira.
Sambil menunggu proses pembayaran, Akira melihat ke arah Dimas yang berjarak beberapa meter. Dimas terus memperhatikan Akira sambil tersenyum.
"Sudah?" tanya Dimas ketika Akira menghampirinya.
Akira mengangguk sebagai jawaban.
"Akira......" Teriak seseorang secara tiba-tiba dari arah belakang.
Akira dan Dimas menoleh bersamaan.
"Daniel!" Seru Akira.
"Hai...." Sapa Daniel dengan tersenyum.
"Bagaimana kau bisa berada disini?" Tanya Akira heran.
"Aku sedang ada pekerjaan di kota ini. Kenapa kau tak memberi tahu ku kalau kau sudah pulang? Kemarin aku pergi ke hotel untuk menemui mu. Aku ingin mengajak mu berkeliling kota kelahiran ku seperti yang kita lakukan dua hari yang lalu." Jawab Daniel seraya menggenggam tangan Akira.
Dimas terlihat geram melihat laki-laki lain menggenggam tangan istrinya.
"Maaf karena tidak mengabari mu." Balas Akira. "Oh aku sampai lupa. Ini Dimas suamiku." Ucap Akira memperkenalkan Dimas pada Daniel.
"Suamimu? Ku pikir kalian sudah bercerai." Ucap Daniel dengan raut wajah yang pura-pura kaget.
"Kami tidak bercerai. Kami sudah rujuk. Akira tetaplah isteriku, sampai kapanpun." Ucap Dimas ketus.
"Oh begitu." Balas Daniel. "Akira aku ingin pergi melihat-lihat butik mu sebagai lanjutan kontrak kerjasama kita." Lanjut Daniel.
"Baiklah." Ucap Akira singkat.
"Kapan kau punya waktu? Bagaimana kalau besok pagi? Karena sore hari esok aku harus kembali ke kota ku. Ada banyak pekerjaan yang harus aku urus."
"Tentu saja." Balas Akira lagi.
"Kalau begitu, lanjutkan acara kalian. Dan untukmu Akira, suatu hari aku akan menagih janjimu untuk membawaku berkeliling di kota ini. Selamat tinggal." Daniel lalu melenggang pergi.
'Kapan aku berjanji padanya?' pikir Akira.
__ADS_1
Sesaat Akira menyadari, bahwa raut wajah lelaki yang berdiri disampingnya kini terlihat sangat emosi.
'Apa dia cemburu?'
"Sayaaaang. Ada apa denganmu?" Ucap Akira manja mencoba merayu Dimas.
Raut wajah Dimas yang awalnya terlihat begitu emosi, langsung berubah sumringah kala mendengar Akira memanggilnya dengan kata 'sayang'.
"Kau panggil apa aku tadi?" Tanya Dimas memastikan bahwa yang didengarnya tak salah.
"Saaayaaang." Bisik Akira manja di telinga Dimas.
"Ayo cepat pulang, aku tak sabar ingin...."
"Kau lupa ya sayang." Potong Akira. "Aku kan sedang datang bulan."
Seketika raut wajah Dimas kembali berubah kecewa.
"Ya ampuunn sayang. Kenapa wajahmu terlihat kecewa begitu? Bukannya selama ini kau bisa menahannya selama tiga tahun? Sekarang kau hanya perlu menunggu satu minggu saja kok." Ucap Akira genit.
"Kau ini sengaja menggodaku ya?" Ucap Dimas berusaha menarik Akira dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang tongkat untuk menahan tubuhnya.
Akira tertawa mengejek sambil menjulurkan lidahnya.
"Tunggu saja di rumah. Habis kau ku makan." Ucap Dimas.
Akira tertawa terbahak-bahak, dia merasa sangat puas karena sudah bisa menggoda Dimas.
"Lapar tidak? Bagaimana kalau kita makan malamnya di luar saja?" Ucap Dimas saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Aku ingin ke rumah Oma. Bagaimana kalau kita makannya di rumah Oma saja?" Tanya Akira.
"Tentu, tapi belilah beberapa makanan atau buah-buahan untuk Oma. Lagipula aku juga sudah lama tak bertemu dengan wanita tua itu." Ucap Dimas tertawa.
"Kau ini." Akira menyenggol lengan Dimas pelan.
Keduanya lalu berjalan menuju mobil. Tangan kiri Dimas menggenggam tangan Akira dengan lembut.
'Ya ampun, Dimas.... Di hadapan umum, kau mulai bisa bersikap manis. Kau memang sudah berubah.' pikir Akira.
__ADS_1