
Dimas menatap punggung Akira setelah ia berjalan keluar dan menghilang setelah pintu tertutup. Dimas tak habis pikir dengan sikap Akira.
'Apa-apaan wanita itu? Teman...'
Dimas memikirkan semua kata-kata Akira. Tadinya ia sangat bahagia karena sudah bisa merasakan kehangatan tubuh Akira lagi, dapat merasakan detak jantung Akira lagi. Namun, semuanya sirna saat Akira mengatakan hanya ingin berteman.
Dimas berpikir selama ini Akira berada disisinya karena uang. Karena Akira membutuhkan uang yang banyak untuk bisnisnya. Tapi kata-kata Akira tadi membuatnya mengerti, bahwa Akira memang tidak bisa hidup tanpanya. Hanya saja sekarang mereka hanya akan menjadi teman.
'Andai saja dulu aku memahami keinginannya untuk menjadi fashion designer, mungkin kami tidak akan berpisah. Jika aku berubah maka kami akan.....'
"Tidak, aku tidak mau kembali lagi padanya." teriak Dimas tiba-tiba. "Dialah yang meninggalkan aku, jadi untuk apa aku yang memintanya kembali padaku. Huh tidak akan pernah."
Dimas menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi menatap langit-langit ruangan tempatnya tidur.
'Akira benar tentang satu hal, kita memang tidak pernah berbagi kehidupan selama menikah. Aku hidup dalam duniaku sendiri, dan akan datang padanya saat aku membutuhkannya di tempat tidur.' pikir Dimas.
"Tapi tindakannya meninggalkanku tidak benar. Kenapa dia tidak membicarakannya saja denganku? Bukan malah meninggalkan aku." Rutuk Dimas dengan kesal.
Dimas kembali menutup matanya dan mengalihkan perhatiannya untuk fokus terhadap pekerjaannya. Bisnisnya kemungkinan akan menjadi hal yang dia miliki satu-satunya di masa depan. Jadi Dimas berpikir ia harus menjadi lebih kuat dan berpikir optimis untuk bisa sembuh, agar bisa kembali fokus bekerja.
Namun Dimas kembali memikirkan Akira.
'Jujur, aku tak sabar untuk bertemu dengannya lagi. Aku yakin dia akan datang lagi untuk menemui ku. Tapi, bagaimana jika tidak?'
Akira tengah duduk di ruang kerjanya, memegang pensil dan berusaha menggambar sketsa. Tapi pikirannya selalu tertuju pada Dimas.
Akira benci memikirkan saat dirinya tanpa sadar berbaring bersama Dimas, apalagi sampai berciuman.
'Ini semua salahnya, kenapa dia harus mengungkit masa lalu.' pikir Akira.
Akira berpikir Dimas ingin tidur bersamanya hanya untuk memastikan, apa dia memang terkena impotensi atau tidak.
'Tidak mungkinkan dengan tiba-tiba Dimas ingin bercinta denganku, padahal kami sudah berpisah selama tiga tahun. Itu semua ia lakukan, karena hanya aku wanita yang saat ini menemaninya.'
__ADS_1
"Tapi, semuanya tidak sepenuhnya salah Dimas. Aku sendiri yang membiarkan diriku berada pada situasi itu." Ucap Akira terlihat meremas rambutnya.
"Aah, aku memang bodoh." Teriak Akira.
Keesokan paginya, Akira menyibukkan dirinya dengan berada di butiknya. Oma Lidia datang menemaninya.
"Bagaimana hasil meetingmu kemarin?" Tanya Oma Lidia.
"Aku pikir semuanya berjalan lancar. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa, tapi,..." Ucapan Akira terjeda, "aku tidak yakin mereka akan mau membantu kita." Lanjutnya.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kau lebih baik fokus pada pesanan Bu Lusi. Kita sudah kehabisan waktu, dan pesanannya harus jadi tepat waktu."
Satu bulan yang lalu, Akira mendapat pesanan pakaian pesta seragam dari customer langganannya, Bu Lusi. Wanita paruh baya merupakan langganan Akira sejak pertama kali Akira membuka butiknya.
"Oma benar, pakaian seragam pesanan Bu Lusi baru jadi tiga puluh persen. Dan waktu kita hanya tinggal seminggu. Ah, aku pusing sekali. Bagaimana hasil kerja Ranti?"
Ranti adalah seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu pada Akira.
Akira mengusap wajahnya kasar.
"Kalau saja aku tidak kasihan padanya karena membutuhkan tambahan uang untuk biaya kuliah, aku tidak akan memperkerjakan dia untuk waktu yang lebih lama. Tapi, ya sudahlah berikan dia waktu sampai satu minggu. Jika hasil kerjanya tidak bisa lebih baik, maka dia tidak bisa bekerja disini lagi." Ucap Akira.
"Kau benar sayang. Untung saja ada Ika dan Lola yang bisa diandalkan."
************************
Akira berdiri di pintu ruangan rumah sakit dan menatap Dimas. Semua perhatian Dimas tertuju pada genggaman tangannya. Dimas menatap jemarinya yang berusaha mengepal dengan kuat.
Saat melihat Dimas berusaha, Akira menyadari perubahan yang terjadi pada Dimas. Wajahnya yang pucat seperti saat di ruang ICU, sudah hilang. Dimas terlihat lebih kuat, dia sudah bangkit, meski Akira yahu bahwa tangan dan lengan Dimas masih lemah. Terlebih kakinya yang masih sangat lumpuh, benar-benar tidak bisa digerakkan.
"Sangat bagus Tuan Dimas," ucap therapist itu.
Dimas melepaskan kepalan tangannya, kemudian menyandarkan kepalanya di bantal. Keringat terlihat mengucur dari dahinya.
__ADS_1
"Tangan kiri anda juga sudah lebih kuat sekarang, sangat bagus Tuan. Kita akan latihan lagi nanti siang," ucap therapist itu sambil menggantung lengan Dimas di sebuah pelang besi yang menggantung horizontal di depannya. "Alat ini akan membantu lengan anda menjadi lebih kuat."
Saat laki-laki muda itu bersiap untuk keluar, Akira masuk dan memuji Dimas, "hebat dan semakin hebat kau Dimas."
"Ini dia sang pemandu sorak pribadiku," sorak Dimas dengan nada humoris.
Dimas melihat ke arah bingkusan yang dibawa Akira, "apa kau membawakanku hadiah?"
Akira meletakkan bingkisan itu disamping Dimas, "aku ounya seseuatu yang akan sangat membantumu dalam bekerja."
Akira membuka hadiah itu, "Ta-daaa! Ini ponsel keluaran terbaru yang akan membuat pekerjaanmu lebih mudah."
Dimas menatap Akira dengan dahi yang berkerut.
"Ponsel ini ada fitur yang bisa menerima perintah hanya melalui suara. Kamu hanya tinggal bilang mau apa, mau nelpon, dengerin musik atau apapun itu. Aku sudah menyimpan nomor orang-orang yang penting buat kamu hubungi." Jelas Akira panjang lebar.
"Apa itu termasuk nomormh juga?" Tanya Dimas.
Akira mengangguk, "aku tau dari dulu kamu tidak terlalu suka menggunakan ponsel pribadi. Kamu lebih sering menggunakan telepon kantor, ataupun rumah. Tapi sekarang kau harus ikut arus zaman modern Dim. Kau juga memang sangat memerlukan fitur ini mengingat kondisimu yang seperti sekarang. Kau hanya perlu menekan lama tombol ini." Ucap Akira panjang lebar.
Dengan bantuan alat yang membantu lengannya menggantung, dengan gerakan yang sedikit aneh Dimas mengambil ponsel itu dari Akira. "Aku harus mencobanya," ucap Dimas seraya menekan tombol ponsel itu lama "telepon Sam." ucapnya.
Tak lama sambungan telepon terhubung dengan Sam.
"Sam? Aku baru saja mendapatkan hadiah dari istri.... maksudku dari Akira."
Dimas menjelaskan tentang ponsel yang baru saja diterimanya itu.
Dimas kemudian mulai sibuk dengan obrolan tentang pekerjaan bersama sekertarisnya itu. Dia kembali menjadi Dimas yang seperti dulu, tak menganggap Akira berada didekatnya. Seakan ia lupa bahwa Akira ada bersamanya.
"Tunggu sebentar Akira, aku akan bicara padamu nanti setelah menyelesaikan panggilan ini." Ucapnya pada Akira.
Akira menghela nafas, 'masih seperti Dimas yang dulu.' gumamnya.
__ADS_1