
Daniel telah memesan tempat di sebuah restoran bintang lima tempat ia akan makan malam bersama Akira. Daniel sudah datang setengah jam lebih awal untuk menunggu Akira datang.
Tepat pukul delapan malam, Akira datang dengan mengenakan dress berwarna hitam. Daniel terpana melihat Akira yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Hai, maaf ya kalau aku terlambat." ucap Akira.
"Eh gak apa-apa kok. Lagian aku juga baru datang." Balas Daniel. "Ayo silahkan duduk."
Akira tersenyum lalu duduk dihadapan Daniel.
"Kamu suka makanan Itali gak? Biar aku pesenin. Disini makanan Italian jadi favorit loh." Ujar Dimas.
"Boleh." Jawab Akira.
Sambil menunggu pesanan datang, keduanya mengobrol ringan tentang masa lalu saat mereka berkuliah.
"Akira. . . ."
"Hem. . . ." Balas Akira seraya menatap Daniel.
"Maaf kalau aku lancang. Apa kamu tengah dalam proses perceraian?" Tanya Daniel yang seketika membuat Akira membeku. "Maafkan aku Akira. Tadi siang di taman, aku tak sengaja melihat isi kertas mu yang berceceran. Apa kau ada masalah dengan suamimu?" tanya Daniel lagi.
"Iya." Balas Akira sambil mengangguk. "Tapi untuk detailnya kenapa aku harus sampai bercerai, aku tidak dapat memberitahu mu, karena ini bersifat pribadi. Maaf Dan . . . ."
"Tidak . . . Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf, karena memang sudah seharusnya hal itu hanya menjadi rahasia antara kamu dan suamimu." Potong Daniel.
"Terima kasih atas perhatian kamu Daniel." Ucap Akira tulus.
Tak lama akhirnya makanan mereka pun datang. Butuh waktu setengah jam bagi mereka berdua untuk menghabiskan hidangan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Keduanya kemudian mulai melahap makanan yang tersedia. Tak ada sepatah katapun yang keluar, hanya terdengar suara denting piring dan sendok yang beradu.
"Akira . . . ." Ucap Daniel saat selesai makan.
"Iya Dim . . ." Akira menutup mulut dengan tangannya. "Maksudku Daniel . . . ." Ucap Akira canggung.
"Apa yang membuatmu datang ke kota ini?" Tanya Daniel tersenyum.
"Seperti yang aku katakan tadi. Selain menemui prngacara untuk mengurus perceraian, aku juga tengah mencari investor untuk bisnis yang tengah aku geluti." Jawab Akira.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, bisnis apa itu?"
"Fashion. Aku punya butik sendiri dan memproduksi pakaian dengan merk sendiri juga. Selain itu aku juga mau ikut acara Fashion Show untuk memperkenalkan fashion-fashion hasil karyaku. Untuk itu aku butuh investor untuk membantuku untuk mewujudkan semuanya."
Daniel tampak manggut-manggut.
"Gimana kalau aku saja yang menjadi investormu?"
Mata Akira membelalak karena kaget.
"Kamu serius Niel? Memangnya perusahaan kamu bergerak di bidang apa?" Tanya Akira tak percaya.
"Ah, aku punya usaha kecil-kecilan aja. Lagian gak usah bahas masalah aku. Kalau kamu mau besok langsung saja ke kantor untuk melakukan meeting. Supaya lebih formal."
"Baiklah. Tapi aku harap kamu gak berinvestasi di bisnis aku cuma karena kasihan ya. Aku mau karena kamu benar-benar percaya kalau Akira Fashion Designer bisa sukses di masa depan."
"Untuk itulah, aku minta kamu untuk datang ke kantor besok pagi. Mmmm untuk alamatnya nanti aku kirim lewat pesan sama kamu."
Daniel mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu mengarahkannya pada Akira.
"Tapi aku gak punya nomor kamu. Boleh simpan sendiri gak di ponsel aku?"
"Hehehehe, tahu aja kamu. Habis dari dulu sejak masih kuliah susah banget buat dapat nomor kamu. Eehh giliran dapat, kamunya malah udah nikah."
Akira tertawa lepas, membuat Daniel memandangnya hingga mata keduanya beradu pandangan.
Dengan cepat Akira mengalihkan pandangannya agar tak melihat Daniel. Suasana canggung pun terjadi.
*****************
Pagi hari, Akira bersiap-siap menuju alamat perusahaan yang dikirimkan Daniel semalam. Sebelumnya Akira sudah meminta Dwi Harris untuk mengirimkannya beberapa file tentang dokumen-dokumen yang akan ia persentasikan saat meeting bersama Daniel nantinya.
Tiba di kantor Daniel, Akira merasa gugup. Karena untuk pertama kalinya Akira masuk ke gedung perusahaan yang sama sekali tak pernah ia ketahui sebelumnya.
'Padahal aku ke kota ini hanya untuk bertemu dengan pengacaraku. Tapi tiba-tiba dapat tawaran untuk meeting dengan investor. Memang suatu keberuntungan, semoga saja mereka setuju untuk menjadi investorku.' pikir Akira.
Akira kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan pertemuan. Sudah ada tiga orang duduk menunggu Akira memulai persentasi,
Akira terlihat tegang.
__ADS_1
"Ayolah Nona Akira, santai saja. Ini hanya meeting biasa. Aku hanya ingin meyakinkan yang lainnya bahwa aku tidak salah memilih untuk berinvestasi di bisnis mu." Ucap Daniel berusaha mencairkan suasana agar Akira lebih santai.
'Apakah itu artinya Daniel sudah setuju untuk menjadi investorku sebelum mendengar persentasi dariku?' pikir Akira.
Akira kemudian menghela nafas panjang lalu tersenyum manis ke arah orang-orang yang duduk di depannya. Daniel duduk diapit oleh seorang perempuan cantik dan laki-laki bertubuh gemuk.
Akira memulai persentasinya dengan baik. Hingga sampai akhir penjelasannya tak ada yang berkomentar. Semua orang hanya mengangguk-angguk.
"Pak Daniel, sepertinya bisnis Nona Akira memang cocok sebagai tempat untuk berinvestasi." Ucap wanita cantik itu.
"Bagaimana denganmu Pak Andi? Apa pendapatmu?"
"Saya juga setuju Pak." Balas pria bertubuh subur itu.
Akira tersenyum.
"Terima kasih sebelumnya. Tapi saya ingin mengatakan satu hal. Sebelumnya seseorang sudah berinvestasi pada bisnis saya. Namun ada masalah yang membuat kami sepakat untuk membatalkan kontrak. Dan yang menjadi masalah adalah, perusahaan itu sudah memberikan dananya dan membayar sejumlah uang pada acara fashion show yang akan . . . . ."
"Masalah itu, anda tenang saja Nona Akira." Ucap Daniel memotong ucapan Akira. "Kami akan membayar semuanya untuk anda." Lanjut Daniel.
Merting pun berakhir dengan kata sepakat dari ketiga orang itu untuk berinvestasi di bisnis Akira.
Setelah itu, Daniel dan Akira duduk di dalam sebuah caffe yang tak jauh dari kantor milik Daniel untuk makan siang.
"Daniel, apa kau tidak terlalu gegabah untuk memutuskan berinvestasi di bisnisku?" Tanya Akira setelah makan siang mereka berakhir. "Kau bahkan belum melihat . . . . ."
"Aku tahu kualitas semua fashion yang kau buat, dan aku lihat selama ini orang-orang yang membelinya sangat banyak. Dalam dua atau tiga tahun, kau akan mendapatkan banyak uang Akira, dan kemudian saat itu aku bisa mendapat bagianku." Balas Daniel mantap.
"Tapi bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Akira penasaran.
"Akira, aku sudah sering melihat karyamu selama ini. Aku bahkan tahu kau tinggal dimana. Upsss...." Daniel dengan cepat menutup mulutnya.
"Maksud kamu?"
"Sudahlah. Waktu makan siang sudah habis. Aku harus kembali ke kantor. Sampai jumpa lagi Nona Akira." Ucap Daniel tersenyum seraya berjalan pergi meninggalkan Akira yang duduk dengan penuh tanda tanya.
Akira duduk termenung sambil menikmati secangkir kopi yang ia pesan tadi bersama Daniel.
"Apa selama ini Daniel mengawasi aku? Tapi untuk apa?"
__ADS_1
Bersambung.....