Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Tak Berguna


__ADS_3

"Sial... Sial... Sial...." Umpat Dimas sambil mengiring kembali kursi rodanya menuju tempat tidurnya setelah melakukan therapi bersama Rama di ruang tamu.


"Santailah Dimas." Ucap Rama. "Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, penyembuhan dari GBS ini bukan seperti tengah berlari marathon ataupun lari estapet. Kau harus tetap bersemangat, bro. Itu saja."


Jengkel, Dimas tak ingin lagi diberi harapan kosong.


"Tiga minggu tanpa perubahan! Bagaimana bisa aku berharap untuk sembuh jika aku tidak bisa melakukan kemajuan apa-apa."


"Aku memang bekerja untuk hal itu." Balas Rama.


"Kau benar. Kau sudah bekerja seperti orang gila selama sebulan ini. Itulah kenapa aku memberimu cuti. Anggap saja sebagai long weekend. Dan kau pasti ingin terbebas dariku, bukan begitu?" Tanya Dimas seraya menyandarkan kepalanya di kursi roda.


"Bahkan para wanita pengagum mu pun ingin terbebas darimu, jika mood mu sedang seperti ini." Jawab Rama.


'Jika Rama yang terjebak di iursi roda ini, dia tidak akan bercanda.' pikir Dimas.


"Maka pergilah dari sini. Kita berdua butuh waktu istirahat." Bentak Dimas.


"Sampai ketemu dua hari kedepan Dimas." Suara Rama terdengar lembut. "Kau akan mengalami kemajuan beberapa bulan kedepan."


Dimas mendengus dengan senyum yang mengejek.


"Jika kau tidak dapat merubah perilakumu itu, aku akan membawamu ke pusat therapi dan menunjukkan padamu pasien-pasien yang dapat membuatmu terlihat seperti pengecut, orang-orang yang berjuang lebih keras dari yang kamu lakukan untuk dapat sembuh dari penyakit ini." Ucap Rama terus terang. "Kasihanilah dirimu sendiri jika kau mau, tapi aku tidak akan membiarkanmu terlalu lama mengasihani dirimu sendiri."


Rama membanting keras pintu saat ia pergi.


Dimas mengutuk dirinya sendiri. Sejak dia dan Akira bercinta pada malam ulang tahun pernikahan mereka, Dimas menjadi sangat terobsesi dengan kesembuhannya.


Malam itu, Dimas jadi mengetahui bahwa dirinya tidak mengidap impotensi. Ia dapat bercinta dengan baik bersama Akira. Tapi Dimas ingin lebih, dia ingin bercinta dengan kondisi yang baik seperti dulu pertama kali melakukannya dengan Akira. Dimas ingin memanjakan Akira dengan belaiannya, hingga keduanya bisa mencapai puncak kenikmatan berdua dan akhirnya berbaring bersama di tempat tidur.


Namun, sejak malam itu Akira tak lagi ingin melakukannya. Akira semakin menjaga jarak dengan Dimas. Akira beralasan bercinta dengan Dimas akan beresiko untuk dirinya. Selain karena Akira merasa itu salah, ia juga mengatakan pada Dimas bahwa bercinta dengan Dimas sudah tidak ada artinya lagi.


'Tidak ada artinya karena dia tidak mencintai aku lagi?'

__ADS_1


'Tidak ada artinya karena aku bukan lelaki yang dia harapkan?'


'Apa memang tak ada lagi cintanya untukku.'


Dimas terlihat frustrasi dengan keadaannya. Ia lalu berteriak memanggil perawat untuk membantunya naik ke tempat tidur. Setelah itu perawat itu pergi, karena ia tidak dibutuhkan lagi saat malam hari.


Akira sering bekerja lembur, sementara ART tengah mengambil cuti liburan untuk mengunjungi keluarganya. Saat itu, Dimas sadar bahwa untuk pertama kalinya ia berada di rumah sendirian.


Saat malam tiba, Dimas menyalakan televisi dengan remote yang ia tekan. Ia mengganti dari channel satu ke channel yang lainnya. Mulai dari acara tv yang menampilkan sinetron, berita, hingga acara komedi tak ada satupun yang menarik minat Dimas. Ia lalu mematikan kembali televisi.


Dimas melihat buku di atas meja, lalu mengambilnya dengan sangat perlahan. Ia dapat membuka buku itu, namun untuk membalik ke halaman berikutnya, Dimas sangat kesulitan.


'Sial,' rutuk Dimas dalam hati.


Dimas menatap ke langit-langit rumah, kemudian dengan perlahan ia mencoba menutup matanya ditengah kesunyian malam yang menemaninya.


Tiba-tiba, Dimas mendengar suara bel berbunyi, tapi ia tak dapat melihat siapapun dari tempatnya tidur. Pintu terkunci, dan tidak ada orang yang bisa membukanya. Dimas mengurungkan niatnya memanggil orang yang berada diluar, karena terdengar langkah kaki yang menuruni tangga dan menjauh.


Namun, tak lama kemudian Dimas mendengar pintu dapur dibuka dengan paksa.


Tapi suara langkah kaki terdengar lebih beras, keras dan lebih pelan dari Akira. Jantung Dimas berdegup kencang. Seseorang telah menerobos masuk ke dalam rumah. Dan Dimas tidak berdaya. Dia tidak dapat melindungi dirinya sendiri.


Jika Dimas berteriak, dia akan menjadi target. Tapi jika dia hanya berbaring diam dan membiarkan seseorang merampok di rumah Akira, Dimas akan mengutuk dirinya sendiri karena sudah menjadi penakut.


'Ah, sial.'


Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Dimas mencari senjata, sesuatu yang dapat ia gunakan untuk melindungi dirinya. Tapi tidak ada. Dimas posisi tempat tidurnya agar ia bisa duduk, ia menarik nafas dalam-dalam lalu berteriak, "Siapa disana?"


Sang penyusup terdengar berjalan mendekat. Dimas menyiapkan dirinya untuk melawan si pencuri, berdoa semoga orang itu tidak membawa senjata tajam.


Saat horden terbuka, Dimas mengedipkan matanya. Ia mengira akan melihat sosok perampok yang kejam, namun yang dilihatnya lelaki muda bertubuh kurus, pendek yang juga terlihat terkejut melihat Dimas.


"Eh.... Tuan Dimas? Maaf sudah mengganggu anda. Saya Riko, keponakan ART anda."

__ADS_1


Dimas merasa sangat lega, dengan keringat dingin yang masih membasahi keninnya, ia akhirnya dapat bernafas lega.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya Dimas geram.


"Bibi saya melupakan beberapa barangnya disini, jadi dia menyuruh saya mengambilnya. Bibi meminta saya untuk tidak terlalu berisik, karena kemungkinan anda tengah tidur. Saya membunyikan bel karena kunci yang diberikan bibi saya tidak berfungsi pada pintu depan. Begitu juga dengan pintu dapur."


"Lalu bagaimana kau bisa masuk kemari?" Tanya Dimas penasaran.


"Saya menggunakan pisau yang ada dijepit kuku ini Tuan." Ucap Riko dengan bangga. "Sangat mudah sekali." Lanjutnya.


"Jepit kuku?" Dimas menggeram. "Kau masuk kesini hanya dengan menggunakan jepit kuku?"


Riko mundur beberapa langkah, takut karena melihat eajah Dimas yang marah.


"I-iya Tuan. Maafkan saya." Balas Riko dengan raut wajah ketakutan.


Sadar bahwa ia telah menakuti Riko, Dimas menghela nafas dengan tenang.


"Tidak apa-apa Riko." Ucap Dimas tenang. "Ambil barang yang kau butuhkan dan kunci pintu kembali saat kau pergi."


"Te-terima kasih Tuan."


Riko berjalan keluar dari ruangan Dimas dan menutup hordennya.


'Akira memang sangat bodoh! Tinggal disini tanpa pengamanan yang bisa saja membuat perampok, penguntit, bahkan pembunuh untuk masuk. Seseorang bisa saja masuk kemari untuk mengganggunya, menyakitinya, atau membunuhnya. Dia mengambil resiko untuk tinggal disini tanpa adanya orang yang melindunginya setidaknya suami.'


"Suami!" Seru Dimas.


"Suami macam apa aku ini. Aku mencintainya, dan ingin melindunginya, tapi aku tidak bisa." Ucap Dimas frustrasi.


Untuk pertama kalinya, Dimas merasakan dirinya tidak berguna dan memalukan.


"Aku lemah, tidak berguna. Dan tidak berfungsi sebagai suaminya, ataupun cintanya."

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2