Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Pekerjaan


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa ada di kota ini?" tanya Akira.


"Aku sedang ada pekerjaan, ya semacam bisnis investasi."


"Di hotel mana kamu menginap? Jika kau mau, aku bisa mengambil barang-barang mu dan membawanya ke rumahku."


"Semuanya sudah diurus. Aku sudah mengirim seseorang semalam."


"Haruskah aku menelepon kantormu?" tawar Akira.


"Tidak perlu aku bisa mengatasi semuanya dari sini. Aku merasa seperti sedang liburan." balas Dimas.


"Bagus untukmu." balas Akira. "Aku sudah menelpon Sofia Dim ,dan aku memberitahu dia yang sejujurnya."


"Kenapa?" tanya Dimas kaget.


"Dia kakakmu, dan, meski dia lebih mementingkan dirinya sendiri, tapi dia peduli padamu. Dia berhak mengetahui bahwa kau tengah sakit."


"Lalu, bagaimana reaksinya?"


"Setelah menjelaskan semuanya, aku dengan senang hati mengatakan bahwa dia wanita yang kuat, tapi aku tidak yakin dia sudah mengerti dengan apa yang aku jelaskan tentang kondisimu."


"Dia tidak akan kemari, ya kan?" sorot mata Dimas menunjukkan kekhawatiran. "Kau tau sendirikan dia itu membuatku pusing."


"Dia akan mengunjungimu, tapi tidak hari ini. Dia bilang dia punya rencana. Dia itu tipe kakak perempuan yang over protective ya?"


Dimas memutar bola mata malas, namun tetap diam.


"Kapan kau dan dia pernah dekat? Apakah sebelum orang tua kalian meninggal?"


"Tidak, semenjak dia berusia enam tahun lebih tua dariku, usiaku saat itu baru tujuh tahun dan kami sangat dekat. Ketika Mama dan Papa meninggal, aku baru saja masuk kuliah. Sofia harusnya yang mengurus semua warisan yang diberikan padaku sampai aku lulus. Tapi saat aku mulai sering meminta uang padanya, dia mulai terlihat tidak suka akan tanggung jawabnya padaku dan dia mulai meninggalkan aku untuk mengatur hidupku sendiri." ujar Dimas.

__ADS_1


"Aku tidak pernah tau akan hal itu. Jadi apa kau dapat mengurus seluruh warisan mu dengan baik?"


"Aku harap aku bisa seperti itu Faktanya, aku menghabiskan masa kuliahku seorang diri dengan menghambur-hambur kan uangku."


"Sulit untukku membayangkan kau sebagai orang yang pemboros, dan juga playboy. Aku hanya melihat sisi serius dari dirimu."


"Hanya saat setelah aku menghabiskan banyak warisan, aku sadar bahwa aku harus mendukung kehidupanku sendiri dan keluargaku..." Dimas menatap Akira dengan lekat. "Aku mulai menginvestasikan uang untuk memulai perusahaan ku, Abraham Group, dan kau tau bagaimana kelanjutannya."


Akira tersenyum getir. Ia menatap Dimas yang kini terbaring lemah tak berdaya. Ternyata Dimas merupakan lelaki yang sudah mandiri sejak dahulu. Dia diharuskan oleh keadaan untuk mengurus hidupnya sendiri.


"Sekarang beritahu aku, apa saja yang sudah kau lakukan selama tiga tahun ini?" tanya Akira.


"Bekerja." jawab Dimas.


Akira tertawa, "Aku seharusnya sudah tahu akan hal itu. Tidak ada liburan ke tempat eksotis? Masih sama seperti Dimas yang dulu, Tuan Membosankan." ejek Akira.


"Aku sudah punya jadwal untuk liburan bulan depan." ucap Dimas. "Aku tengah mempersiapkan waktu untuk liburan dan istirahat yang panjang." lanjut Dimas. "Ada banyak tempat eksotis yang ingin aku kunjungi."


"Hidupmu pasti lebih menarik dari hidupku. Katakan padaku, apa saja yang sudah kau lakukan?" tanya Dimas penasaran, meski sebenarnya ia tahu, malah sangat tahu tentang apa saja yang dilakukan Akira tiga tahun belakangan.


"Maaf mengecewakanmu, tapi hidupku tak jauh berbeda denganmu. Aku selama ini juga bekerja." jawab Akira.


"Aku akan sangat senang jika kau berkenan menceritakan padaku tentang kehidupanmu selama ini." ucap Dimas.


Akira merasa terkejut akan ketertarikan Dimas pada kisah hidupnya. Akira akhirnya mulai bercerita.


"Aku melakukan apa yang aku katakan padamu tiga tahun yang lalu saat meninggalkan rumah yang kita tinggali dulu di kota sebelah. Aku memulai kuliah mengambil jurusan bisnis management. Kemudian lulus dengan cepat dan mendapat gelar master of business administration. Setelahnya aku dan Oma Lidia meminjam uang ke Bank dan mulai membangun butik dengan merk ku sendiri Akira Fashion Designer." ucap Akira dengan bangga.


Akira memandang Dimas dengan tatapan penuh arti. "Desain yang sama persis yang aku tunjukan padamu yang kau sebut 'desain bodoh'" ucap Akira penuh penekanan.


"Aku tidak pernah bisa mengerti, bagaimana kau bisa yakin bahwa kau bisa mendesain sebuah pakaian."

__ADS_1


"Kau memang tidak pernah mencoba untuk mengerti. Ketika aku mulai mengutarakan ideku tentang mendesain pakaian, kamu berhenti mendengarkan dan memulai pertengkaran. Aku tak pernah punya kesempatan untuk memperlihatkan padamu hasil desain ku atau bahkan sekedar untuk menceritakan padamu bahwa aku pernah mengambil dua mata kuliah untuk mempelajari lebih banyak tentang menjalankan bisnis." Akira mengatur nafasnya, berusaha bicara dengan intonasi yang setenang mungkin.


"Ayolah! Berikan aku kesempatan lagi kali ini untuk mendengar semuanya."


Meski suara Dimas terdengar lembut, Akira masih ragu-ragu untuk menceritakan semuanya. Akira tak ingin lagi mendengar kritikan, dijelek-jelekkan, atau penolakan Dimas tentang pekerjaannya.


"Apa kau masih ingat Oma ku, Oma Lidia?"


"Tentu saja. Bagaimana kabarnya wanita tua yang energik itu?"


"Masih sehat seperti biasanya. Dia mengirimkan salam untukmu."


"Tidak mungkin! Dia sudah tentu menganggapku sampah."


"Oma ku yang cerdas, adalah seorang fashion desainer sampai akhirnya ia pensiun. Ketika aku masih kecil, dia mengajariku untuk bermain dengan pensil dan kertas. Kami tidak tau bahwa sangat memungkinkan untuk mulai mendesain fashion sendiri dengan biaya yang sedikit dan juga keahlian yang masih sedikit pula, namun lihatlah sekarang kami akhirnya bisa memiliki butik dengan merk fashion sendiri."


"Apa kau bahagia sekarang?" ucap Dimas seraya menatap Akira lekat.


"Aku bangga pada diriku sendiri. Aku tidak yakin mengapa memiliki karir merupakan hal yang penting, kecuali aku perlu membuat sesuatu untuk diriku sendiri, menjadi penyemangat untuk diriku. Kesuksesan menjadi lebih penting setelah aku gagal dengan sangat buruk saat tidak bisa memenuhi pesanan pelanggan karena bahan yang kurang. Tapi aku menyadari bahwa kekuranganku dalam pengalaman berbisnis dan skill membuat kesuksesan menjadi lebih memungkinkan. Aku belajar bahwa yang tersulit, adalah jalan yang terbaik." ujar Akira.


Akira berhenti bicara, mengingat masalah yang tengah dihadapinya. Namun kini ia bisa bernafas lega, ada sebuah sponsor yang ingin mendanai acara fashion show yang akan diikutinya.


"Apakah usahamu baik-baik saja sekarang?" tanya Dimas.


Akira tersenyum dengan penuh percaya diri. Ia melihat langsung ke mata Dimas, lalu berkata, "Semuanya dalam keadaan baik, malah sangat baik Dimas." jawabnya.


Kecuali jika para sponsor itu tidak bersedia mendanai acara fashion showku, gumam Akira perlahan.


Akira tersenyum getir, berusaha menyembunyikan masalah yang tengah dihadapinya dihadapan Dimas.


Aku tau apa yang tengah kau pikirkan Akira, dan aku akan menolongmu, aku berjanji, gumam Dimas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2