
Satu minggu kemudian....
Sejak keberhasilan Akira dalam acara Fashion Show minggu lalu, Akira semakin dikenal banyak orang. Dan minggu ini, Akira kembali mengulang keberhasilannya sebagai Fashion Desainer pendatang baru dengan rancangan yang sangat diminati pecinta fashion.
Riuh tepuk tangan menemani keberhasilan Akira malam ini. Wajah Akira tampak begitu sumringah. Ia begitu bahagia karena mimpinya sebagai seorang Fashion Desainer yang rancangannya diakui dan disukai banyak orang akhirnya terwujud.
Para wartawan berkerumun mendekati Akira yang hendak berjalan menuju Dimas yang senantiasa menemaninya. Malam ini Oma Lidia tak sempat hadir karena tengah sakit. Hingga membuat Dimas harus duduk sendirian menonton Akira dibawah panggung.
Karena banyaknya wartawan yang berdesakan berebut untuk mendapatkan wawancara eksklusif dari Akira, membuat Dimas mundur perlahan dan tak dapat menjangkau Akira.
Tanpa disangka dari arah belakang Akira, Daniel dengan tiba-tiba memeluk pinggang Akira.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Akira pelan.
"Jangan banyak bergerak. Tersenyumlah ke arah kamera. Ini wawancara pertamamu dengan mereka. Kau harus bersikap baik. Tunjukkan senyuman manis mu, jangan terlihat marah di kamera." Balas Daniel berbisik.
Dimas yang melihat Akira merasa risih, ingin menerobos para wartawan untuk menyingkirkan Daniel. Namun usahanya sia-sia. Dimas tak dapat menerobos banyaknya wartawan yang berkerumun.
"Nona Akira, apa rahasia anda hingga dapat menjadi Fashion Desainer yang begitu dieluh-eluhkan dalam waktu singkat ini?" Tanya seorang reporter.
"Siapa bilang aku menjadi desainer dalam waktu yang singkat. Aku sudah memulai usaha fashion ku sendiri sejak tiga tahun yang lalu. Dan untuk jawaban kenapa aku bisa berhasil sekarang, itu karena dukungan seorang laki-laki yang selama ini sangat aku cintai. Dia adalah..."
"Aku. Aku adalah investor Akira. Aku lah yang menjadi ujung tombak keberhasilan Akira. Karena selama tiga tahun belakangan, Akira sulit maju karena tidak memiliki investor. Kini dia memiliki aku, Daniel Sang Investor telah mengubah Akira. Bukan begitu Akira?"
Akira terdiam tak mau menjelaskan apapun pada pihak wartawan.
"Apa hubungan anda dengan Nona Akira?"
"Hanya sebatas hubungan kerja. Kalau kalian sudah selesai mohon jangan halangi jalanku untuk bertemu suamiku." Ucap Akira cepat.
Dimas yang berdiri paling belakang merasa terharu sekaligus bahagia karena ternyata didepan semua orang, Akira mau mengakui dirinya sebagai suaminya padahal kini dirinya dilabeli dengan sebutan cacat karena menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan.
"Aku mencintaimu." Ucap Dimas saat Akira berada dihadapannya.
"Aku juga mencintaimu." Balas Akira yang tiba-tiba mencium cepat bibir Dimas.
Daniel yang kini berganti posisi menjadi orang yang diberi paling belakang dari para wartawan yang mengabadikan momen Akira berpelukan dengan suaminya tampak sangat marah.
__ADS_1
'Akira, kau telah mempermalukan aku di tempat umum. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan untuk mempermalukan suamimu itu.'
*******
Hari-hari berlalu, Akira semakin terkenal dan wajahnya selalu wara-wiri di televisi. Sementara Dimas, perlahan-lahan kondisinya mulai pulih. Ia sudah berlatih berjalan tanpa menggunakan tongkat.
Malam ini, Akira akan menghadiri sebuah acara formal dimana akan hadir desainer-desainer yang sudah mendunia. Akira begitu antusias, dan sudah bersiap lebih awal.
"Dim, kenapa belum siap? Aku kan sudah bilang sejak kemarin kalau hari ini kita mau pergi ke...."
"Aku sedang ada pekerjaan sayang. Apa kau tidak bisa sendiri? Atau minta Lola menemanimu." Jawab Dimas yang tengah berjibaku dengan pekerjaannya yang menumpuk.
Fokus Dimas hanya pada layar laptop yang ada dihadapannya. Ia sama sekali tak menengok ke arah Akira.
"Apa kau tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu itu demi aku? Kau bahkan tak melihat ke arahku." Protes Akira.
Dengan cepat Dimas menutup laptopnya dan memegang pundak Akira.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku malam ini juga. Aku kan sudah sering menemanimu akhir-akhir ini. Karena hal itu pekerjaanku jadi terbengkalai."
"Apa kau menyalahkan aku begitu? Apa maksudmu aku lah yang menyebabkan pekerjaanmu jadi tidak...."
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa kau adalah penyebab aku.... Ah sudahlah. Lebih baik sekarang kau pergi saja. Aku benar-benar harus menyelesaikan semua ini secepatnya. Maaf." Sambung Dimas kembali duduk di bangkunya yang menghadap laptop.
"Baiklah. Kalau begitu jangan tunggu aku pulang, aku.... aku.... aku akan menginap di rumah Oma."
"Terserah kau saja." Balas Dimas cuek.
Akira keluar rumah dengan tampang yang begitu kesal. Padahal ia sudah sangat berharap bahwa Dimas akan ikut bersamanya malam ini. Tapi nyatanya Dimas lebih memilih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
Sementara itu Dimas masih berjibaku dengan beberapa email yang dikirimkan Sam sekretarisnya. Sudah hampir delapan bulan Dimas tak pergi ke perusahaannya sehingga ada sedikit masalah yang terjadi. Meski Sam orang kepercayaan Dimas yang sangat berkompeten, namun tetap saja para klien membutuhkan sosok Dimas dalam kelangsungan kerja sama antar perusahaan.
'Kenapa kau tidak bisa mengerti aku Akira? Selama ini aku selalu mengikuti semua kemauan mu. Apa kau hanya ingin melihat aku tidak melakukan apa-apa'
Dimas menghela nafas panjang, menyesali perbuatannya yang bisa saja menyakiti Akira tadi. Untuk itu dengan cepat Dimas menyelesaikan pekerjaannya dan segera menuju acara dimana Akira diundang.
Tiba di tempat Akira, menghadiri perjamuan, ternyata Dimas dilarang masuk karena tak memiliki undangan. Ia terpaksa menunggu Akira diluar bangunan.
__ADS_1
"Semoga saja acaranya cepat selesai." Ucap Dimas bersandar pada tembok.
"Wah, wah, wah. Coba lihat disini ada siapa,?"
Dimas sudah dapat menebak suara siapa yang tengah mengejeknya itu
'Daniel!'
"Kenapa kau kaget melihatku ada disini" Ucap Dainel, ,"Oh atau memang tak diundang. Hahahaha." Tawa Daniel terdengar begitu mengejek.
"Ini merupakan kesempatan besar bagiku untuk mendekati Akira. Sementara kau, diam lah disini dan nikmati pertunjukkan yang akan lakukan pada Akira."
Daniel berjalan masuk, di luar bangunan Dimas menyumpahi Daniel yang berlalu meninggalkan dirinya.
"Awas saja jika kau sampai berani menyentuh Akira ku.," Balas Dimas kesal. "Aku tidak akan segan-segan menghajar mu.
Dan benar saja, setelah acara selesai, Akira kembali di kerumuni wartawan yang ingin mewawancarai dirinya.
Daniel kembali terlihat berulah dengan tetap berdiri disamping Akira dan menggenggam tangannya.
"Lepaskaann." Teriak Dimas yang tiba-tiba mengagetkan semua orang.
"Di-dimas." Seru Akira.
Dengan cepat Dimas menghajar Daniel di depan para wartawan.
"Kau sudah ku peringatkan untuk tidak mendekati apalagi sampai menyentuh istriku." Teriak Dimas.
Akira yang malu melihat sikap sang suami yang tiba-tiba tempramental, ia berusaha melerai Dimas. Namun naas, Dimas yang sudah dilanda emosi berpikir bahwa Akira adalah orang lain dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
"A-akira, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Ucap Dimas mengulurkan tangannya pada Akira.
"Kau tidak pantas menjadi suaminya apalagi kau sampai bertindak kasar padanya." Ucap Daniel menampik tangan Dimas.
Dimas berbalik dan berjalan menghindari Akira.
'Maafkan aku.' Ucap Dimas dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....