
Hari minggu siang...
Akira memutuskan untuk pulang lebih awal dari butik, karena ia merasa kurang enak badan.
Ia duduk bersama Dimas teras rumah sambil menikmati coklat hangat. Suasana siang begitu dingin karena sejak pagi turun hujan.
"Ini coba...." Ucap Akira sambil membuka sebuah kotak berisi donat dengan berbagai varian rasa.
"Kau mau rasa apa?" Tanya Akira lagi.
"Mmmm sepertinya aku mau mencoba rasa blueberry." Balas Dimas.
"Selalu saja blueberry." Akira memberikan donat dengan toping berwarna biru ditaburi coklat warna warni itu.
"Blueberry selalu mengingatkan ku padamu."
Akira hanya tersenyum.
Sesaat keduanya terdiam, hanya fokus menikmati donat masing-masing.
"Ayo masuk ke dalam. Aku punya hadiah untukmu." Ucap Dimas tiba-tiba.
Akira mengikuti Dimas masuk ke dalam rumah menuju ruangannya.
"Apa ini?" Tanya Akira saat Dimas memperlihatkannya sebuah kotak berukuran besar.
"Bukalah, ini hadiah untukmu."
Akira dengan perlahan membuka kotak itu.
Beberapa peralatan dapur cantik, berupa piring, mangkok dan cangkir berwarna biru tersusun rapi di dalamnya.
"Aku memesannya langsung dari China."
Akira tak dapat berkata apa-apa, ia terlihat sangat menyukai hadiah dari Dimas.
"Aku sengaja memilih warna biru muda, karena aku tahu itu warna favoritmu."
"Terima kasih Dim, ini sangat cantik."
"Hadiah terbaiknya adalah, coba lihat ke atas." Ucap Dimas sambil menunjuk ke arah atas sudut ruangan.
Akira melihat sebuah benda berukuran kecil, yang terlihat seperti kamera.
"Apa itu?" Tanya Akira.
__ADS_1
"Itu merupakan bagian dari sistem keamanan yang sudah pasangkan untukmu."
"Kamu.... apa?"
"Aku sudah memasang sistem keamanan hari ini. Buku panduannya ada diatas meja." Ucap Dimas santai.
"Sistem keamanan?" Tanya Akira keheranan.
"Kau punya sistem alarm di setiap pintu dan jendela, serta detektor sensor gerak di setiap ruangan."
'Masih seperti Dimas yang dulu.' pikir Akira dengan raut wajah yang kesal.
"Ada juga 'tombol panik' di tempat tidurmu. Kau hanya tinggal memencet tombol itu, maka polisi atau penjaga keamanan akan segera datang."
'Dia pikir dia siapa? Dia bertingkah seperti dia lah laki-laki yang bertanggung jawab di rumah ini, dia sudah merasa seperti suami yang bertanggung jawab.'
"Aku tidak mau hidup layaknya di dalam sebuah benteng seperti orang paranoid, Dim. Aku tidak butuh semua alat itu. Bongkar semuanya besok." Perintah Akira dengan raut wajah kesal.
"Tidak." Bentak Dimas, wajahnya kaku seperti batu.
"Kau tidak berhak mengatur hidupku Dimas. Ini rumahku, dan aku ingin melakukan semuanya sendiri. Aku akan mendapatkan semuanya saat aku punya waktu..... dan uang."
"Kau harus belajar untuk melindungi dirimu sendiri, Akira." Teriak Dimas.
"Ya Tuhaaann...." Ucap Dimas terlihat frustrasi. "Kau memang membutuhkan sistem keamanan ini, Akira." Ucap Dimas kembali seraya berusaha tenang. "Seseorang telah masuk ke dalam rumahmu kemarin malam, hanya dengan menggunakan pisau yang ada di jepitan kuku. Demi Tuhan, Akira. Kau memang mencari masalah dengan tinggal di rumah tanpa keamanan seperti ini."
"Seseorang masuk ke dalam rumah?" Akira terlihat kaget. "Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Itu hanya keponakan dari ART yang bekerja disini, tapi dia takut denganku. Orang lain bisa saja masuk kesini dan menyakitimu, Akira. Aku tidak bisa membiarkan semuanya seperti ini. Tolong terima sistem keamanan ini, jika tidak untuk keamanan dirimu sendiri, lalu biarkan untuk kedamaian diriku."
Akira tidak pernah membayangkan bahwa Dimas akan memperhatikannya sedalam itu. Akira tidak pernah berpikir bahwa Dimas bisa saja mengalami kekerasan fisik saat ditinggal sendirian. Dimas selalu terlihat sangat kuat. Sekarang dia tidak bisa mengangkat tangan untuk melimdungi dirinya sendiri lagi.
'Tidak heran jika dia sangat memperhatikan keselamatan saat ini.'
"Baiklah Dim," balas Akira. "Aku akan menyimpan sistem keamanannya. Tapi aku menolak kau memberikan ku sesuatu yang tidak bisa aku beli sendiri. Aku tidak mau berhutang budi padamu." Jelas Akira.
"Tidak. Kau tidak berhutang budi padaku. Justru aku lah yang berhutang budi padamu. Kau memberikan aku banyak hal dalam beberapa bulan ini. Waktu, dan perhatian, dan juga rumah yang tidak bisa aku balas. Bahkan memberikan mu sistem keamanan itu tidak dapat membalas semua kebaikanmu selama ini. Jangan tolak hal kecil yang bisa ku berikan padamu."
"Baiklah, aku akan menganggapnya sebagai barang sewaan. Tapi tolong jangan lagi menjadi Dimas yang dahulu, Dimas yang dimana selalu menentukan sesuatu yang aku butuhkan tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu denganku."
******************************
Ketika Oma Lidia tiba pada sore hari di rumah Akira, Dimas merasa gelisah. Wanita tua itu tidak pernah menyukainya, dan dia tidak merahasiakan hal itu. Oma Lidia selalu menunjukkan ketidaksukaannya pada Dimas setiap kali bertemu.
Namun yang terjadi sekarang, Oma Lidia memperlakukan Dimas dengan baik dan sopan santun. Dimas berpikir bahwa sikap keras Oma Lidia sudah melunak.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Oma Lidia bergegas keluar rumah dan kembali dengan cepat. Oma Lidia kemudian meletakkan sebuah tongkat kayu di atas pangkuan Dimas.
"Aku yakin benda ini akan berguna untukmu. Kau akan segera menggunakannya. Aku dengar kau semakin hebat dalam therapi mu." Ucap Oma Lidia.
Dimas merasa terharu sekaligus malu akan hadiah yang diberikan Oma Lidia.
"Terima kasih Oma. Oma adalah orang terakhir yang aku pikir akan memberikanku hadiah. Tongkatnya sangat sempurna." Dimas berusaha menahan agar suaranya tetap terdengar datar dan tidak goyah karena haru yang ia rasakan. "Dengan mendapat tongkat itu akan membuatku harus berusaha lebih keras. Aku pasti akan bisa menggunakannya."
Oma Lidia tersenyum, kemudian ia berjalan ke arah Akira yang duduk di ruang tamu. Keduanya mengobrol santai, sesekali terdengar tertawa.
Dari jauh, Dimas menatap Akira yang terlihat tertawa lepas. Dia begitu bahagia, membuat ada rasa sedih di hati Dimas.
'Dia begitu bahagia hanya bersama Oma nya. Sementara aku....'
Akira tak sengaja menangkap raut wajah Dimas yang tengah bersedih. Ia kemudian berjalan ke arah Dimas meninggalkan Oma Lidia duduk sendirian di ruang tamu.
"Hey! Kenapa wajahmu terlihat muram?" Tanya Oma Lidia.
Dimas tersenyum, "aku hanya iri dengan kedekatan kalian berdua." Balas Dimas.
Akira dan Oma Lidia saling pandang.
"Akira, kita sama-sama sudah tidak mempunyai orang tua. Tapi kau memiliki Oma Lidia yang selalu mendukungmu, yang selalu menghiburmu kala sedih. Tapi aku..." Ucap Dimas seraya menghela nafas panjang. "Kau tahu sendiri, meski aku punya Kakak perempuan yang terlihat saaangat baik. Tapi dia tidak seperhatian itu padaku, layaknya perhatian yang ditunjukkan Oma Lidia padamu. Entah kenapa hari ini aku baru menyadari hal itu."
Akira dapat merasakan bahwa Dimas memang benar-benar merasa sedih. Ia lantas menggenggam erat tangan Dimas.
Plakk...!!!
Oma Lidia tiba-tiba menampik tangan Akira.
"Berawal dari pegangan tangan, lalu mafsuan, terus ciuman, pelukan, ujung-ujungnya main kuda-kudaan." Ucap Oma Lidia.
"Omaaaa...." Teriak Akira membuat Dimas seketika tersenyum.
"Hey kau lelaki besar, gagah perkasa, plus ganteng." Oma Lidia mengacak kepala Dimas.
"Mulai hari ini, anggaplah aku ini Oma kamu juga. Jika kau ingin perhatian dariku bialng saja. Aku bisa menjadi Oma-mu, sahabatmu, orang tuamu, mmmm kekasihmu juga boleh. Hehehe..."
"Omaaa...." Lagi-lagi Akira berteriak membuat senyum di bibir Dimas semakin mengembang.
"Sepertinya aku akan memilih menjadikan Oma sebagai semuanya, kecuali kekasih. Karena Oma masih punya suami." Balas Dimas penuh canda.
"Uuhh sayang sekali, padahal kamu tipikal pria idaman Oma semenjak Opa Darmawan menjadi keriput."
"Hahahaha...."
__ADS_1