Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Es Krim


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Pagi, setelah sarapan. Dimas mendapat sebuah telepon. Awalnya diangkat di depan Akira, tapi tak lama kemudian Dimas langsung pindah seperti menghindari Akira.


'Kenapa? Siapa yang telepon?'


Karena penasaran, Akira menguping diam-diam pembicaraan mereka.


"Oh tidak, Sam. Tidak apa-apa, aku mengerti."


"Oke baik. Kau yang urus semuanya. Aku akan segera kesana jika kondisiku sudah lebih baik."


"Baik. Kirimkan saja semua detailnya ke email ku."


"Iya. Sampai jumpa."


Beberapa ucapan Dimas yang dapat didengar oleh Akira, tapi Akira tetap tak bisa menebak siapa yang menelepon dan hal apa yang sedang dibicarakan. Sebelum Dimas kembali, Akira langsung berbalik ke dapur terlebih dahulu.


"Siapa yang telepon, Dim?" tanya Akira sambil mencuci piring bekas sarapan. Dimas perlahan duduk di kursi meja makan sambil menunduk.


"Sam, sekretaris ku."


"Ada apa?" Tanya Akira menengok ke arah Dimas, meski tangannya masih berkutat dengan sabun dan piring.


"Ada klien yang tiba-tiba membatalkan kontrak kerja dengan perusahaan ku."


Akira merasa ada hal yang tidak beres. Meski belum selesai, Akira memilih mencuci tangan dan menghampiri Dimas.


"Kenapa dibatalkan?"


"Karena mereka mendengar kabar, aku yang mulai pulih tapi tidak kunjung pergi ke kantor." Ada senyum miris di akhir kalimat yang Dimas ucapkan. "Mereka menganggap ku tidak serius dan professional dalam melakukan kerja sama dengan mereka."


Dimas memang jadi jarang pergi ke kantornya karena jarak yang jauh. Kantor Dimas terletak di kota sebelah, dimana jika dia pergi, maka Dimas harus menginap di rumahnya. Dimas tidak mungkin pergi ke kantor pagi hari menggunakan pesawat dan kembali ke rumah Akira di malam hari menggunakan pesawat juga.


Hal itu akan sangat membuat Dimas kewalahan dan akan berpengaruh pada proses kesembuhannya. Selain itu ada hal lain yang membuat Dimas tidak ingin pergi ke kantornya.


'Jika bukan karena aku dia tak akan seperti ini.'


"Dim, maafkan aku," ucap Akira pelan.


Dimas mengerutkan dahinya. "Kenapa?"


"Gara-gara kau tinggal bersamaku disini, urusan kantor mu di kota sebelah jadi terbengkalai." Akira terlihat merasa sangat bersalah.


"Kenapa kau bicara begitu. Aku memang tidak pernah pergi ke kantor bukan karena jarak, tapi aku memang sedang malas karena kondisiku yang seperti sekarang. Aku akan ke kantor kalau aku sudah tidak menggunakan tongkat lagi untuk berjalan."


"Tapi Dim..." Belum selesai Akira berbicara, Dimas sudah membungkam mulut Akira dengan telapak tangannya.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Aku akan melewati semua ini jika kau bersamaku. Jika ada satu klien yang membatalkan kontrak tidak akan jadi masalah untukku, karena masih ada klien-klien yang lain."


Akira mengangguk. Tiba-tiba tangan yang membekap mulutnya kini naik ke hidung dan mendaratkan cubitan di sana. Akira mengaduh sakit, yang pada kenyataannya tidak terlalu sakit.

__ADS_1


'Entah mengapa aku bersikap semanja ini.'


Akira berdiri, lalu melanjutkan mencuci piring yang tadi sengaja ia tunda.


'Alasanku yang lain adalah, aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian disini. Apalagi ada seorang pria yang terang-terangan mengejar dirimu.' ucap Dimas dalam hati.


Setelah cuci piring, Akira melihat Dimas ternyata sudah duduk di sofa ruang tamu. Akira menghampirinya.


"Ayo kita jalan-jalan?" ajak Dimas saat Akira sudah duduk di sampingnya.


"Ke mana?"


"Ke mana saja."


'Tapi aku harus ke butik untuk melihat hasil pekerjaan Lola.' pikir Akira.


"Bagaimana?" Tanya Dimas.


"Apa kita bisa ke butik dulu? Setelah itu kita bisa jalan-jalan kemana saja yang kau mau." Jawab Akira.


Dimas mengangguk.


Keduanya kemudian bersiap dan berjalan menuju butik Akira.


Akira dikejar waktu, karena satu minggu lagi ia akan mengikuti acara Fashion Show yang selama ini diimpi-impikannya.


"Ini sudah sangat sesuai dengan desainnya. Aku akan kembali besok untuk finishing saja." Ucap Akira.


"Baik Bu." Jawab Lola salah seorang karyawan Akira.


Setelah beberapa saat memeriksa hasil pekerjaan karyawannya, Akira bersiap pergi jalan-jalan dengan Dimas. Namun tanpa sengaja ia menumpahkan kopi di pakaiannya.


"Ah, sial." Pekik Akira.


Dimas tersenyum, "disini kan banyak pakaian, kamu bisa mengganti pakaianmu yang kotor itu. Bagaimana kalau pakai yang ini saja."


Dimas menunjuk sebuah pakaian yang terlihat seksi.


"Kamu serius?" Tanya Akira dibalas anggukan dari Dimas.


Akira bergegas mengganti pakaiannya sesuai dengan yang ditunjuk Dimas.


"Sayang, ayo cepat!"


"Bentar Dim. Santai saja."


Setelah siap Akira masuk ke dalam mobil. Sedikit risih karena pakaian yang ia kenakan membuat pahanya terlihat saat posisi duduk. Ia menatap kearah Dimas yang diam.


'Tadi memintaku untuk cepat-cepat. Sekarang kenapa malah bengong.'


"Kenapa, Dim?"

__ADS_1


"Tidak." Dimas tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


'Aneh.'


Mobil mulai berjalan, Akira melihat ada danau buatan di belakang sebuah apartemen kemudian memarkirkan mobilnya di sana.


Mereka berdua duduk di tepi danau, di bawah pohon rindang. Suasana yang sangat menyejukkan. Ada beberapa anak kecil yang sedang lalu lalang di sana.


"Bahagianya jika salah satu dari mereka itu anak kita." Ucap Akira.


"Apa kau ingin segera punya anak?" Tanya Dimas.


Akira terdiam, ia sedang memerhatikan anak kecil yang sedang bermain. Ia kemudian melihat ada penjual es krim yang tengah dikerumuni anak-anak.


"Dim, aku makan eskrim. Tunggu sebentar ya, aku beli dulu."


Akira berlalu, tak lama dia kembali lagi dengan menenteng eskrim berukuran besar.


"Nih, aku beli yang besar, bisa buat berdua."


"Tidak. Untuk kamu saja."


"Ya sudah."


Akira membuka penutup eskrim itu kemudian menikmatinya sambil melihat pemandangan danau yang indah. Diiringi tawa riang anak-anak di sekitarnya.


Sedang asik, Akira menengok ke arah Dimas. Sedikit kaget, ternyata Dimas sedang bengong memperhatikannya dengan mulut sedikit menganga.


Kemudian mulut itu tertutup, jakunnya terlihat naik turun seperti menelan ludah.


'Apa dia mau eskrim nya, tapi malu untuk minta?' pikir Akira.


Akira kemudian memberikan satu sendok eskrim untuk menyuapinya, Dimas malah menggeleng.


"Ayo kita pulang!"


"Apa? Kan baru sebentar di sini. Tadi ingin cepat-cepat pergi tapi sekarang malah ingin pulang lagi."


"Besok ke sini lagi." Dimas menutup eskrim yang sedang dimakan Akira, lalu menarik tangannya lembut.


Di jalan, tidak seperti tadi yang melaju santai. Sekarang Dimas meminta Akira menyetir lebih cepat, seperti ingin cepat-cepat pulang ke rumah.


Saat lampu merah menyala, Dimas terdengar berdecak kesal.


Karena masih ingin menikmati eskrim yang tadi, Akira melanjutkan memakannya di dalam mobil sembari menunggu lampu beranjak hijau.


Baru beberapa suapan, tiba-tiba Dimas berkata, "jangan dihabiskan eskrim nya. Sisakan untuk di rumah."


Akira menutup kembali eskrim dengan berdecak kesal.


"Tadi kau sendiri yang bilang tidak mau, tapi sekarang aku tidak boleh menghabiskannya. Kamu kenapa sih?"

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum sembari mengerlingkan matanya pada Akira.


Bersambung.....


__ADS_2