Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Layaknya Pengantin Baru


__ADS_3

Dibantu oleh Susan, Akira memindahkan Dimas kembali ke tempat tidurnya. Kemudian Susan mengganti pakaian yang dikenakan Dimas.


"Akira, bisakah kita melanjutkan perayaan kita malam ini. Aku ingin minuman soda lagi, tapi sepertinya tidak baik untukku terlalu banyak minum soda. Bisakah kau membuatkan susu coklat untukku." Ucap Dimas.


Akira mengangguk, "tentu saja. Tunggu sebentar ya, aku akan ke dapur dulu untuk menyiapkan semuanya." Balas Akira.


Tak lama Akira kembali dengan membawa dua gelas susu coklat lalu ia duduk di samping Dimas dan memberikannya segelas susu itu. Sementara Susan, sudah tidak ada bersama Dimas karena sudah harus pulang ke rumahnya.


Dimas lantas meminum susu hangat itu menggunakan sedotan yang sudah disediakan Akira.


"Terima kasih untuk malam yang indah ini, Nona Akira." Ucap Dimas.


Akira tersenyum, "rasanya seperti kita tengah berkencan." Balas Akira.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa padamu, yang kau lakukan sangat berarti untukku malam ini. Rasanya seperti kebebasan yang kau berikan padaku. Kau melakukan semuanya untukku. Aku bersungguh-sungguh mengatakan semuanya. Terima kasih untuk malam yang sangat indah ini Akira.


Akira mengingat pandangan kasihan orang-orang terhadap Dimas, dan dia ingin tahu bagaimana perasaan Dimas akan hal itu.


"Aku tidak siap akan....orang yang...."


Dimas menggeram.


"Aku tidak pernah menyangka bahwa pandangan orang akan berbeda ketika melihatku menggunakan kursi roda. Aku benci pandangan itu. Terutama anak-anak, merekalah yang memandangku aneh pertama kali, karena mereka sangat penasaran. Kemudian aku sadar mereka hanya anak-anak yang bersikap ingin tahu semuanya. Orang-orang dewasa terlihat terkejut dan hanya melihatku sekilas, tapi mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak melihatku lagi. Dan saat itulah aku melihat pandangan iba dari mereka." Ucap Dimas panjang lebar. "Ah sialan!" Umpatnya.


Akira menaruh telapak tangannya di atas punggung tangan Dimas. Lalu menggenggam erat tangan Dimas melalui sela-sela jemarinya.


"Dim, orang-orang memang seperti itu. Mereka akan memandang orang lain yang berkebutuhan khusus dengan pandangan yang menyedihkan. Tapi memang seperti itulah adanya, kau harus terbiasa dengan itu, setidaknya hanya untuk sementara. Dan kau seharusnya tidak terlalu mengambil hati akan hal itu." Ucap Akira berusaha menenangkan Dimas.


"Kau benar, seharusnya aku harus membiasakan diriku akan pandangan semua orang, hanya untuk sementara waktu. Sekali lagi terima kasih Akira, kau berbeda dengan semua orang. Kau sangat baik karena sudah memperlakukan aku layaknya seperti orang normal pada umumnya."


"Kau memang normal Dim. Malah lebih normal dari sebelumnya." Ucap Akira seraya memandang Dimas dengan lekat.


Semua yang Akira pikirkan adalah, ia ingin menyentuh Dimas, memeluknya, menciumnya.


Akira kembali jatuh cinta pada Dimas sama seperti dulu. Akira kemudian mendekat ke arah Dimas lalu menciumnya.


Bibir Dimas terasa hangat dan ada rasa susu coklat yang menempel. Akira lalu memeluk Dimas dengan sangat erat. Ia merasakan kehangatan dari tubuh Dimas.


Akira kembali mencium Dimas, dan Dimas membalasnya. Akira ingin bercinta dengan Dimas, untuk membuat Dimas dapat melepaskan apa yang selama ini ia pendam.


"Oh, Akira, aku sangat rindu untuk melihatmu, menyentuhmu, dan memelukmu."


Akira kemudian kembali menciumi pria yang sangat dicintainya itu. Keduanya benar-benar di mabuk asmara. Bahkan Dimas dengan bersusah payah mulai meraih bagian sensitive Akira.


Akira benar-benar telah dikuasai nafsu. Ia bahkan mulai membuka satu persatu kancing baju yang ia kenakan. Hingga meninggalkan penutup bagian dadanya.


"Sangat indah." Ucap Dimas.


Akira kembali mencium Dimas, saling menggenggam tangan dengan erat, menyalurkan hasrat mereka yang terpendam selama ini.


"Stop Akira, stop." Ucap Dimas lirih.

__ADS_1


"Aku ingin melakukannya." Balas Akira manja.


"Begitupun denganku, tapi jika kita teruskan, aku bisa meledak."


"Memang itu yang aku rencanakan." Balas Akira.


"Kalau kau bilang begitu, baiklah. Aku juga ingin mengetahui apakah aku masih bisa. Maka bantulah aku."


Akira tersenyum, keduanya kembali berciuman mesra. Tangan Dimas mulai terbiasa meraba setiap inci tubuh Akira.


"Kau menginginkannya, bukan begitu Akira? Sama halnya dengan aku yang sangat menginginkan hal ini sejak lama." Ucap Dimas.


Sentuhan demi sentuhan Dimas semakin membuat Akira bergairah. Akira hendak melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.


"Jangan Akira." Ucap Dimas.


"Tapi aku ingin kau ada didalam diriku malam ini." Balas Akira lirih.


"Tidak sekarang. Kau tidak tahu seberapa besar keinginanku untuk seperti ini. Tapi aku tidak bisa hanya diam, sementara kau yang melakukan semuanya." Ucap Dimas dengan sangat malu.


"Aku akan membantumu." Balas Akira lagi.


Mereka pun melakukannya, layaknya pengantin baru. Keduanya melepas semua perasaan yang selama ini terpendam.


"Oh, Akira, aku sudah lama menginginkan hal ini. Lama sekali." Ucap Dimas. "Aku ingin tahu, apakah aku masih berfungsi atau tidak, setelah Dokter Jerry memvonisku impotensi. Tapi aku tidak pernah berani berharap, apalagi membayangkan bahwa bercinta akan terasa seindah ini." Lanjut Dimas.


Akira berbaring di sisi Dimas lalu memeluknya.


"Begitupun denganku." Balas Akira.


Sesaat keduanya terdiam, hingga Akira kemudian bangun dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Aku pikir kita sudah melakukannya dengan hebat malam ini." Ucap Akira dengan raut wajah yang malu.


"Iya." Balas Dimas. "Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita melakukannya." Timpal Dimas.


"Memang sudah sangat lama." Balas Akira.


'Lebih dari tiga tahun bagiku.' pikir Akira.


"Tidurlah denganku malam ini Akira. Aku ingin tidur, dengan kau berada dalam pelukanku."


"Aku juga." Balas Akira. "Tunggulah sebentar, aku mau membersihkan diri dulu." Lanjut Akira dibalas anggukan oleh Dimas.


"Cepatlah kembali." Ucap Dimas saat Akira melangkah ke lantai atas.


"Siap Pak." Balas Akira, seraya bergegas berjalan menuju kamarnya.


"Akiraaa....." Teriak Dimas lagi.


"Iya..." Jawab Akira berbalik saat sudah menaiki anak tangga.

__ADS_1


"Selamat hari ulang tahun pernikahan, sayang...." Ucap Dimas.


Akira terlihat tersenyum sangat bahagia, "ucapan yang sama untukmu." Balas Akira kemudian berlari ke lantai atas.


Selesai berganti pakaian, Akira menatap wajahnya di cermin. Ia malah menyesali apa yang sudah dilakukannya malam ini bersama laki-laki yang secara hukum memang masih berstatus sebagai suaminya itu.


'Tapi bagaimana status kami dalam agama?' gumam Akira.


Tersadar akan kebodohannya, Akira dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Oma Lidia.


[Apa? Kau main kuda-kudaan dengan si tiang listrik itu?" Teriak Oma Lidia di seberang telepon]


^^^[I-iya Oma.] Balas Akira pelan.^^^


[Sudah Oma duga, mana bisa kau menahan pesonanya. Apalagi kalau cuma berduaan di rumah. Hmmmm berarti kau yang pegang kendali, sementara dia cuma berbaring saja menerima semuanya. Kau memang nakal Akira.]


^^^[Omaaaa....]Teriak Akira. [Aku bukan mau bahas masalah itu, yang ingin aku tanyakan, apakah perbuatanku itu termasuk dosa yang sudah melanggar agama]^^^


Tak ada sahutan dari Oma Lidia.


^^^[Halo Oma. Oma gak lagi ninggalin aku tidurkan]^^^


[Tidak] Balas Oma Lidia. [Oma cuma sedang berpikir jawaban yang tepat atas pertanyaan kamu.]


^^^[Terus, gimana] Tanya Akira lagi.^^^


[Setahu Oma, selama tidak ada kata talak, kalian itu tidak cerai. Dan kalau memang selama tiga tahun ini kamu tidak ikhlas karena tidak dinafkahi lahir dan batin oleh Dimas, dan kamu mengajukan cerai di PA, maka baru jatuh talak satu. Tapi selama ini kau baik-baik saja kan. Tidak pernah Oma mendengarmu mengatakan kau membenci Dimas atau tidak ikhlas atas situasi kalian. Jadi dengan kata lain, main kuda-kudaan kalian itu tidak berdosa.] Ujar Oma Lidia.


^^^[Mmmmm apa benar begitu?] Tanya Akira berusaha meyakinkan dirinya.^^^


[Mungkin saja Oma salah. Kalau kau memang ingin tahu jawaban yang pasti, silahkan tanya ke orang-orang yang berkompeten dibidang seperti ini. Tanyakan apakah main kuda-kudaan dengan suami yang sebelumnya tidak pernah bertemu selama tiga tahun, karena kau sendiri yang meninggalkannya tanpa ada kata talak, apakah tu berdosa atau tidak?] Ucap Oma Lidia panjang lebar.


^^^[Ya ampun Oma, mana bisa aku nanya kayak gitu ke orang kan malu sendiri.] Balas Akira.^^^


[Nah, kalau begitu kau tanya saja dengan Mbah Gogel kesayanganmu itu, dia pasti punya jawabannya.] Saran Oma Lidia.


^^^[Oh iya, Oma memang the best.]^^^


[Tentu saja. Saran Oma, jika kau memang masih ragu antara dosa atau tidak, tahan dulu lah main kuda-kudaannya. Lebih baik...]


^^^[Sudah ya Oma....]^^^


Tuuuuuttt....


Akira memutuskan panggilan sepihak tanpa mengucap salam.


'Malas kalau dengar Oma mulai bicara yang gak-gak.' gumam Akira seraya turun ke lantai bawah.


Namun langkahnya terhenti, saat ia melihat Dimas sudah terlelap. Akira memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


"Selamat malam Dimas, semoga kau bermimpi indah." Ucap Akira.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2