
Akira akhirnya menandatangani kontrak dengan perusahaan Alpha Corp. Bisnis Akira pun dapat diselamatkan. Selain itu Akira juga Akira menelepon pihak perusahaan Dimas, meminta agar namanya segera dihapus dari kepemilikan beberapa aset di perusahaan itu.
Akira benar-benar ingin terlepas dari Dimas.
Siang hari...
Dengan kekuatan lengannya yang sudah semakin kuat, Dimas berhasil memindahkan sendiri tubuhnya dari tempat tidurnya yang baru ke kursi roda yang ia kenakan. Kaki Dimas juga merespon dengan baik terhadap therapi yang ia jalani. Secepatnya Dimas akan bisa menjalani hidupnya kembali seperti biasa dengan mandiri. Maka, Dimas akan segera pergi dari hidup Akira.
Terdengar langkah kaki mendekat. Akira tampak berdiri dengan raut wajah yang sangat bahagia. Akira terlihat seperti yang seharusnya Dimas ingin lihat selama ini.
"Aku punya beberapa berita," ucap Akira, suara terdengar sangat tenang. "Seorang investor sudah setuju bekerja sama denganku kemarin,, bahkan mau membeli merk dagang ku. Aku sudah bisa mulai memproduksi pakaian dan bisa ikut melakukan Fashion Show."
"Selamat, Akira." Balas Dimas tersenyum, "Kita harus merayakan keberhasilan mu. Aku akan mentraktir mu makan malam."
"Terima kasih, tapi aku dan Oma sudah merayakannya tadi malam."
'Rencana ku berhasil. Akira mulai menjauh dari hidupku.' pikir Dimas.
"Aku tidak mau makanan yang diberikan secara gratis." Lanjut Akira ketus. "Aku ingin kau tahu, bahwa aku tidak butuh amal darimu."
Dimas tersenyum, hatinya menolak untuk membahas tentang masalah uang.
"Aku sudah berpikir, Akira . . . . . Aku harus segera pindah."
"Apa kau bisa?" Tanya Akira dengan nada suara yang datar, alisnya pun berkerut.
"Aku membuatmu merasa tidak nyaman di rumahmu sendiri."
"Kemana kau akan pergi?" Akira terlihat lebih penasaran daripada peduli.
"Kembali ke kota ku. Disana ada tempat pusat rehabilitasi dan therapy, kau tahu."
"Kau tidak harus pindah. Semua peralatan medismu ada disini. Kau juga melakukan therapi dengan baik bersama Rama."
Wajah dan suara Akira tidak menunjukan perasaan atau ekspresinya kepada Dimas.
"Kau sama sekali tidak menggangguku. Kau bisa tetap tinggal disini. Tentu juga kau tidak akan lebih lama lagi kan?"
Dimas merasa hatinya terasa sakit, namun disatu sisi dia merasa lega.
"Tidak lama. Hanya tinggal beberapa minggu lagi, aku pikir." Balas Dimas.
"Baik. Maka tinggal lah disini." Ucap Akira lalu pergi meninggalkan Dimas.
'Aku harus bangga pada diriku sendiri. Aku sudah mendapatkan semua yang aku mau. Aku berhasil mengembalikan fungsi tubuhku lagi, jadi Akira tidak perlu lagi mengasihani diriku. Dia juga sudah setuju untuk bercerai dan sekarang masalah keuangannya sudah teratasi.' pikir Dimas.
******
__ADS_1
Saat suara bel berbunyi pada hari minggu siang, Dimas membuka pintu dan mendapati Sofia tersenyum manis padanya.
"Dimas! Kau terlihat jauh lebih baik!" Sofia meletakkan parcel buah berukuran besar di atas pangkuan Dimas. "Aku membelikan sebuah hadiah kecil untuk adik yang sangat ku favoritkan." Ucap Sofia.
"Wah, terima kasih Sofia. Tidak ada yang lebih memperhatikan aku selain dirimu yang paaaaliing baik, Kakak ku sayang." Balas Dimas dengan wajah malas.
"Senang bisa membantumu Dim." Ucap Sofia masa bodoh.
Sofia melihat Akira masuk dari taman belakang, hendak naik ke lantai atas, berhenti lalu melihat ke arah Sofia, kemudian berjalan mendekat.
"Hai, Sofia," ucap Akira menyapa. "Aku tidak menyangka kamu bisa datang.." Lanjutnya.
"Aku tidak harus menelepon untuk sekedar datng kesini kan? Lagi pula sebentar lagi Dimas akan segera pergi dari sini. Lalu kemana lagi ia akan pergi selain ke tempat kakaknya?"
Saat Akira tak merespon, Dimas memutuskan berbicara pada Sofia.
"Kau pasti terkejut dengan apa yang sudah aku lalui dan lakukan selama ini."
Akira mengambil parcel buah yang ada di atas pangkuan Dimas tanpa menatapnya.
"Aku akan membawa ini ke dapur." Ucap Akira.
"Kemarilah Dim. Kita harus bicara." Ucap Sofia.
Keduanya masuk ke ruangan Dimas.
"Mungkin karena sebentar lagi dia tidak akan menjadi keluargamu. Kami akan bercerai."
"Apa karena kau tidak lagi memberinya uang?"
Rahang Dimas terlihat mengeras, giginya bergemertuk hingga ia berhasil menahan emosinya dan berusaha berbicara tenang.
"Aku meyakinkannya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri pernikahan kami. Tapi dia menilak uangku, dan aku menawarinya banyak uang."
"Aaaahh manisnya. Kau mendapat pekerja secara gratis." Nalas Sofia.
"Sialan, Sofia. Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Lagipula Akira tidak tertarik pada uangku. Dia adalah satu-satunya orany yang paling mengerti akan diriku."
Sofia menatap Dimas lekat.
"Aku mengerti bahwa kau itu bersikap naif. Akira adalah seorang manipulator. Dia sudah seperti itu sejak menikah denganmu, dan sekarangpun tetap begitu."
Dimas menyerah. Ia tak mau lagi membicarakan Akira dengan kakaknya itu.
Tak lama, Sofia berjalan menuju lantai atas san menemui Akira yang tengah mengecat aalah satu kamar yang ada di lantai atas.
"Oh Akira sayang, kau sudah bekerja sangat keras untuk merenovasi rumah tua ini."
__ADS_1
"Tentu saja, ini rumahku, aku menyukainya hingga aku melakukan senuanya sendiri." Balas Akira.
"Hemmmm, aku perlu bicara denganmu sayang."
"Tentu." Balas Akira seraya menuntun Sofia berjalan menuju dapur.
Akira kemudian menuangkan Sofia secangkir kopi.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Akira to the point.
"Sayang, Dimas sekarang sudah lebih baik. Dan kau sudah setuju untuk bercerai."
"Ummm...." Balas Akira.
"Sekarang saatnya untuk Dimas kembali memeulai hidupnya lagi. Dia memang sudah seharusnya untuk kembali ke kota kami."
"Dia belum bisa berjalan Sofia. Dia membutuhkan therapinya untuk beberapa waktu, tidak ada yang tahu untuk berapa lama. Seseorang harus ada yang membantunya, memastikan semuanya sudah siap." Ucap Akira seraya menatap Sofia malas. "Apa kau menginginkan pekerjaan itu?" Tanya Akira.
"Aku akan menyewa perawat untuk menjaga dirinya. Dia akan dijaga dengan baik. Aku haeran, kenapa kau begitu kekeh ingin mempertahankannya disini?"
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Dimas. Hanya sesimpel itu."
"Hanya itu?_ tanya Sofia dengan tatapan mengejek.
"Iya Sofia. Kami memang akan bercerai, tapi aku tidak akan mengambil uangnya sepeserpun"
"Kau harus membuka matamu lebar-lebar sayang. Selama ini Dimas selalu menjagamu. Dia selalu mengetahui apa yang terjadi padamu."
Akira hanya terdiam, berusaha mencerna semua ucapan Sofia.
"Akira, aku pikir kau bangkrut." Sambung Sofia lagi.
"Tentu saja tidak. Aku sudah menemukan investor yang bisa menyelamatkan bisnisku. Perusahaan Alpha Corp."
"Oh? Dan apa kau tahu siapa pemimpin perusahaan itu?"
"A-aku tidak yakin. Sahabatku yang sudah menangani detailnya, tapi dia sudah menginvestigasi perusahaan itu dengan sangat baik.."
"Apakah kau tidak pernah berpikir, bahwa bisa saja Dimas adalah pemimpin dari Omega Alpha?_
Akira menutup mulut dengan tangannya. Berusaha menutupi keterkejutannya. Tapi sudah terlmbat, diaa benar-benar terlihat sangat terkejut.
"Apa. . .. .? Bagaimana mungkin? Kenapa kau bisa berpikir begitu?" Tanya Akira tak percaya.
"Aku tahu baik adikku, Akira. Aku berani bertaruh satu milyar denganmu bahwa dia adalah pemimpin dari Alpha Corp. Aku pikir Dimas sudah menyelesaikan apa yang ingin ia lakukan sejak datang ke kota ini beberapa bulan yang lalu, berinvestasi pada bisnismu."
Bersambung....
__ADS_1