Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Diam


__ADS_3

Bulan ini merupakan bulan yang sangat panjang untuk Akira. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat malas untuk pergi bekerja. Padahal setiap harinya ia selalu bekerja seperti robot. Ia merasa putus asa karena belum ada investor yang mau bekerja sama dengan Akira Fashion Designer.


'Setidaknya dengan bekerja aku bisa menjauh dari rumah, menjauh dari Dimas.' pikir Akira.


Hampir setiap malam saat Akira pulang bekerja, Dimas masih terjaga, tapi ia terlihat sibuk dengan pekerjaannya atau sibuk dengan latihan menguatkan otot lengan dan kakinya. Dimas terlihat semakin fokus menjalani therapi nya.


Suatu sore Dimas memanggil Akira saat ia baru saja pulang.


"Akira! Kemari lah, lihat mainan baruku." Ucap Dimas.


Penasaran dengan suara kegembiraan dari Dimas, Akira kemudian masuk ke dalam ruangan Dimas.


Dimas memperlihatkan ban dari kursi roda barunya.


"Lihat. Tidak ada lagi mesin! Sekarang aku bisa menggunakan kekuatan tanganku sendiri!"


"Kau membuat kemajuan yang sangat pesat sekarang." Ucap Akira berharap senyuman palsunya dapat memperlihatkan bahwa ia ikut antusias dengan apa yang dirasakan Dimas.


"Yeaahh." Balas Dimas. "Aku memutuskan untuk berlatih lebih giat agar aku bisa menyelesaikan therapi ini secepat mungkin."


"Itu bagus." Balas Akira malas.


Akira merasa bersyukur dengan bukti nyata bahwa Dimas akan segera sembuh. Semakin cepat Dimas sembuh, maka ia akan semakin cepat mendapat kebebasannya.


Minggu siang, Dimas tengah berlatih di ruang tamu Akira yang luas dengan kursi rodanya. Dimas menghentikan Akira yang hendak masuk ke dalam.


"Jika kau punya waktu, aku mau keluar rumah sebentar."


Dimas terlihat sangat bosan, hingga membuat Akira tanpa sadar menyetujui keinginan Dimas.


"Kau mau pergi kemana?" Tanya Akira.


"Kemana saja. Asal keluar rumah."


"Bagaimana kalau pergi ke mall. Kau bisa bermanuver dengan mainan barumu disana." Ucap Akira.


"Ide bagus."


Akira membantu Dimas masuk ke dalam mobil Van. Sepanjang perjalanan menuju mall yang ada di pusat kota, keduanya terdiam. Membuat suasana menjadi tidak nyaman.


Saat Dimas berjalan menggunakan kirsi rodanya sendiri di tengah kerumunan orang, Akira mengikuti dibelakangnya. Mereka memang terlihat berdua, bersama, namun kenyataannya mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing.


Akira memikirkan betapa senang dan bahagianya mereka berdua beberapa minggu yang lalu. Mereka pergi bersama, makan bersama, jalan bersama, tertawa bersama dan kembali pulang ke rumah dengan kelelahan. Tapi, keduanya sama-sama bahagia.


Hari ini, keduanya hanya terdiam dan tidak melakukan apa-apa. Dimas akhirnya memecah kebisuan diantara mereka dengan mengucapkan terima kasih, saat Akira membantunya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Hari berikutnya, Dimas kedatangan seorang teman dari kota asalnya dan menghabiskan waktu seharian dengannya.


Setelah Dimas selesai menceritakan tentang penyakit GBS yang dialaminya, temannya Jhonny bertanya,


"Bagaimana dengan Akira? Aku pikir kalian sudah melakukan suatu hal bersama."


Dimas ingin membicarakan semua hal yang lainnya kecuali Akira. Saat nama Akira disebut, emosi Dimas menjadi tidak stabil.


"Tidak, tidak ada yang terjadi diantara kami. Dan tidak akan pernah terjadi." Balas Dimas. "Ini mungkin hal yang terbaik untuk kami berdua." Lanjut Dimas berusaha bersuara dengan tenang.


"Ayo kita keluar bro. Pergi clubbing...." Jhonny memegang kursi roda Dimas. "Atau kemanapun kau mau." Lanjutnya.


"Clubbing terdengar menyenangkan." Balas Dimas.


'Terdengar menyenangkan, daripada harus duduk disini dan membicarakan tentang Akira.' ucap Dimas dalam hati.


Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Jhonny berhasil memasukkan Dimas ke dalam mobil Van kemudian membawa Dimas pergi ke club yang dipenuhi dengan asap dan musik yang keras.


Keduanya duduk melingkari sebuah meja. Dimas melihat keramaian di sekitarnya dan senyum dengan terpaksa.


"Ide yang bagus Jhon. Aku butuh hiburan seperti ini," ucap Dimas berbohong.


Dimas tak pernah lagi pergi ke club setelah hari kelulusannya saat kuliah dulu. Dan tidak pernah ada yang berubah, apalagi saat bersama dengan Akira, ia tak pernah lagi minum-minum alkohol.


Dengan minuman ditangan, Jhonny meninggalkan Dimas menuju lantai dansa kemudian tak lama kembali lagi dengan menggandeng seorang gadis muda. Jhonny memperkenalkannya pada Dimas, lalu kembali lagi ke lantai dansa.


Asap rokok dari orang-orang sekitar yang berada di dekat Dimas membuat matanya perih. Dan kepalanya terasa berdenyut sesuai dengan irama bass yang terdengar. Dimas akhirnya mabuk.


'Aku mabuk dengan kondisiku yang seperti ini. Apa yang sudah aku lakukan.' pikir Dimas.


Namun, Dimas kembali memsan minuman dan menghabiskannya sebelum Jhonny akhirnya menemukan Dimas terkulai lemas di kursi rodanya.


Untungnya, Jhonny merupakan orang yang tahan akan meminum alkohol dalam jumlah banyak. Ia akhitnya membawa Dimas kembali pulang ke rumah Akira dan berusaha membantunya untuk naik ke tempat tidur. Namun, Jhonny terlihat kesulitan karena berat badan Dimas, dan keduanya yang sama-sama mabuk.


Dimas ingin menjelaskan pada Jhonny bahwa ada alat bantu yang dapat menaikkannya ke tempat tidur. Tapi karena Dimas terlalu mabuk, ia tak dapat mengatakan apa-apa. Kedua laki-laki itu tampak kesusahan dan saling meneriaki.


Akira terdiam dan berdiri di pintu sambil memandangi kedua laki-laki itu. Dimas menatapnya.


"Ooh tidak Jhonny, dia terlihat sangat marah. Kita sudah melakukan hal yang buruk Jhonny." Ucap Dimas.


Tanpa kata, Akira membantu Jhonny memindahkan Dimas ke tempat tidur dengan bantuan sebuah alat.


'Tidak, aku tidak suka ini.' pikir Dimas.


Akira tetap terdiam, dan Dimas tidak menyukai saat Akira melihat dirinya dalam keadaan bodoh dan tidak berdaya seperti saat ini.

__ADS_1


"Ini adalah kesalahanmu." Ucap Dimas menunjuk Akira. "Semua salahmu."


Beberapa malam kemudian, Akira berjalan melewati ruangan Dimas dan melihatnya tengah berlatih mengangkat beban.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Akira.


"Baik." Balas Dimas."Rama bilang aku sudah bisa menggunakan tempat tidur yang biasa sekarang. Karena aku sudah cukup kuat untuk memindahkan diriku sendiri ke kursi roda."


"Selamat." Ucap Akira.


"Apa kau tidak mau menghadiahiku tempat tidur dengan seprai dan sarung bantal yang kau buat sendiri?"


'Membuat sesuatu untuknya? Hmm tidak.' pikir Akira.


"Kenapa aku harus membuatnya untukmu?" Ucap Akira dengan intonasi yang meninggi.


"Kau membuat banyak hal untuk rumahmu. Ku pikir kau mau membuatkan sesuatu untukku."


Entah bagaimana kemarahan Akira mereda.


"Maaf. Aku sungguh tidak punya waktu, aku punya banyak pekerjaan." Ucap Akira.


Akira sebenarnya ingin menawarkan untuk mengajak Dimas pergi belanja, tapi pikiran tentang membantu Dimas masuk dan keluar dari mobil Van, pikiran tentang bersentuhan dengan Dimas, atau menghabiskan waktu berdua dengan Dimas, membuat Akira depresi.


"Tapi aku bisa mengirimkanjya besok untukmu. Aku bisa..."


"Tidak perlu. Aku akan mengatur semuanya sendiri." Potong Dimas.


"Oh baiklah. Pilih dan belilah sesuai keinginanmu, dan bawa bersamamu saat kau pergi dari rumahku."


"Jika itu yang kau inginkan."


"Baiklah." Balas Akira lalu hendak pergi.


"Akira?" Suara Dimas terdengar lemah.


Akira membeku.


"Aku menghargai pertemanan yang kau berikan.... Lebih dari yang kau tahu."


"Sama-sama." Ucap Akira. "Selamat malam." Lanjut Akira.


"Yeah." Balas Dimas. "Selamat malam."


Dalam perjalanan menuju kamarnya, Akira mengutuk dirinya sendiri karena sudah bersikap kasar pada Dimas. Bagaimanapun Akira tengah dilanda stress karena bisnisnya yang tak kunjung mendapat investor. Ia ingin sekali menceritakan semuanya pada Oma Lidia, tapi lagi-lagi Akira tak ingin membuat wanita tua itu kepikiran.

__ADS_1


Akira juga tak lagi bisa menemui teman-temannya sejak Dimas ada dirumahnya. Bagaimanapun, secepatnya Dimas akan kembali pulih dan akan meninggalkan rumah Akira. Maka sejak saat itu Akira bisa mulai membangun hidupnya kembali.


Bersambung...


__ADS_2