
"Dimaaass....." teriakan seorang wanita di iringi suara tirai yang dibuka dengan kasar.
"Itu Sofia!" seru Dimas.
Tirai terbuka, menampilkan seorang wanita berpakaian glamour, dengan dandanannya yang menor, rambut yang tertata dengan sangat rapi, dan kuku tangan panjang dan lentik yang sudah di cat terlihat berkilauan, pertanda tangan itu tidak pernah bekerja.
"Dimaaass?" ucap Sofia lagi." Apa kamu tahu siapa aku? Apa kau bisa mendengar suaraku?"
"Semua orang yang ada di rumah sakit ini bisa mendengar suaramu Sofia." jawab Dimas.
Wanita bergaya sosialita itu memindahkan tas bermerk miliknya di dadanya lalu memeluk tas itu dengan erat seraya berdiri menjauh dari Dimas.
"Penyakit ku tidak menular." ucap Dimas.
"Kau terlihat menyeramkan Dimas." balas Sofia.
"Terima kasih, Sofia. Kau selalu menghibur."
Sofia menyenggol Akira dengan pundaknya, "Kenapa dia ada disini?"
"Aku yang memintanya kemari."
"Benarkah? Tidak mungkin. Tentu saja kau membohongiku sekarang."
Akira tidak mau menjadi bagian dari obrolan mereka. Sofia selalu merendahkan Akira dalam hal status sosial. Dimas harus mengobrol berdua dengan saudarinya itu.
"Aku yakin kalian berdua ingin quality time berdua," ucap Akira kemudian menyibak tirai lalu keluar.
"Dimas, Dimas... Kenapa kau harus membawa wanita itu kedalam hidupmu lagi? Apakah syndrome ini membuatmu menjadi gila?"
"Aku merasa lemah Sofia. Tolong jangan mulai lagi."
"Aku hanya kesal Dim. Dia menelepon dan memberi tahuku bahwa kau terkena penyakit aneh ini, dan aku harus buru-buru datang ke kota ini. Aku tidak pernah berharap untuk bertemu dengan wanita itu disini."
Dimas tidak ingin mengingatkan Sofia tentang buru-buru nya itu memakan waktu lima hari, padahal jarak dari kota asal mereka ke kota tempat Dimas dirawat sekarang hanya butuh waktu satu jam lewat jalur udara.
"Namanya Akira, dan dia adalah isteriku."
"Tidak lagi. Tidak sejak dia mencampakkan mu."
"Jangan terlalu melodramatic Kakakku sayang."
__ADS_1
"Sepertinya Akira tidak terlihat baik, lihat saja tanda hitam melingkar dibawah matanya. Dia tetap saja wanita dari kelas rendahan."
Dimas memaksakan dirinya untuk tetap bersabar.
"Dia menemaniku sepanjang siang dan malam selama seminggu. Aku tidak tau bagaimana dia bisa melakukannya? Aku juga tidak tau kenapa dia melakukannya."
Sofia menepuk punggung tangan Dimas.
"Sayang, dia kan butuh uang. Kau sendirikan yang peernah mengatakannya padaku."
Dimas mengerang. "Ya memang benar, aku memberi tahumu tentang hal itu, dan aku memberi tahumu bahwa aku akan menjadi sponsor akan acara fashion shownya, kemudian aku akan menceraikannya. Aku mengatakan itu pada saat aku merasa depresi saat kau mengomeliku tentang hidup bebas. Sekarang aku berubah pikiran."
Dalam diam Dimas mengutuk kebodohannya dan berjanji untuk tidak lagi memberi tahu Sofia apapun hal yang berhubungan dengan Akira.
"Kau pasti tahu, aku mengatakan kenyataan ini karena aku menyayangimu Dimas. Sungguh."
"Tentu saja Sofia....... Sekarang, aku sangat lelah, dan aku tidak bisa bernafas. Aku.... Aku ingin tidur."
Di lobi, Akira menelepon Oma Lidia dan memberi tahunya bahwa semuanya baik-baik saja. Akira juga memberi tahu jika ia telah menelepon Dwi Harris, dan hasilnya tetap sama. Belum ada seorangpun yang mau mensponsori bisnisnya. Akira Fashion tetap dilanda kebangkrutan.
Akira pergi ke perpustakaan yang ada di rumah sakit untuk lebih menghindari bertemu dengan Sofia. Dia membaca apapun yang dia dapatkan tentang GBS. Akira kemudian membaca tentang ventilator, yang semakin membuatnya khawatir. Apa yang dikatakan Dokter Jerry juga terdapat didalam buku. Sepuluh persen dari pasien GBS mengalami kematian, sementara empat puluh persen lainnya mengalami kelumpuhan permanen.
Akira berusaha melawan air matanya agar tak turun. Ia menutup buku tebal yang dibacanya dengan keras. Suara keras terdengar menggema di ruangan perpustakaan itu.
'Apakah dia akan sembuh? Atau dia akan mengalami kelumpuhan? Atau bahkan yang terparah ia akan meninggal?'
Akira menggeleng keras, menepis semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Setelah sepuluh menit, Akira mencoba mengatur emosinya, membasuh wajahnya dengan air dan memakai make up tipis agar terlihat lebih segar. Ia juga merapikan rambutnya.
Akira kemudian masuk kembali ke ruang ICU. Namun saat hendak membuka tirai, Sofia langsung menghalanginya.
"Dimas bilang jangan diganggu, dia mau tidur." ucap Sofia, "Aku malah takut dia koma." lanjutnya.
"Kenapa kau tidak memanggil suster kalau kau takut seperti itu?" tanya Akira.
Namun Sofia hanya terdiam, membuat Akira tersenyum lalu dengan perlahan membuka tirai.
"Dim, apa kau koma?" tanya Akira.
"Tidak. Aku hanya ingin menghindari kakakku." jawab Dimas.
__ADS_1
Mendengar ucapan Dimas, Sofia memutuskan untuk pergi dan ia berjanji akan kembali lagi dalam beberapa minggu kedepan. Setelah pintu ruang ICU tertutup Akira berucap,
"Kasihan sekali kau Sofia. Adiknya tengah sakit..."
"Kondisiku . . . . . . . sangat tidak nyaman." sorot mata Dimas memperlihatkan ia sangat merasa tidak sehat. "Aku. . . . . Aku tidak bisa bernafas. Terlalu banyak tenaga . . . . . untuk bernafas . . . . "
Detak jantung Dimas terlihat melemah dari alat yang diihat Akira. Dengan cepat Akira memencet bel untuk menghubungi suster.
Satu jam Dimas terlihat tidur tak membuka mata sama sekali. Terapist datang dan pergi setiap tiga puluh menit untuk mengecek pernafasan dan sampel darah Dimas. Ketika seorang perawat yang bekerja di shift malam datang, ia mulai memasangkan sebuah selang pelastik tipis ke hidung Dimas.
"Ini adalah selang oksigen Tuan Dimas." ucapnya, "untuk membantu pernafasan anda."
Sepanjang malam, Akira duduk di samping tempat tidur Dimas, melihatnya, menunggu dengan perasaan was-was, sambil memegang tangannya. Kesunyian ruangan itu jadi terganggu saat kehadiran seorang pasien memasuki ruang ICU.
Setelah beberapa saat, keributan yang terjadi di bilik yang bersebelahan dengan Dimas sudah sunyi senyap. Tak ada lagi suara perawat dan Dokter yang sibuk.
Akira mencoba membuka tirai yang menghalangi untuk melirik ke bilik sebelah. Akira terlihat sangat kaget melihat sebuah pipa plastik terpasang dimulut pasien itu hingga masuk ke dalam kerongkongannya. Dada pasien itu memerah dan terdengar suara yang nyaring saat pasien tersebut bernafas.
Akira menjadi ketakutan akan kondisi Dimas.
'Apa Dimas akan seperti itu?'
Air mata Akira menggenang, namun dengan cepat dihapusnya saat suara Dimas terdengar.
"Ventilator." ucap Dimas lemah.
Akira membalikkan badannya menghadap Dimas.
"Iya. Aku pikir, sepertinya dia telah mendapat, mmmm semacam operasi."
"Apakah . . . . . terlihat mengerikan?" suara Dimas terdengar memohon agar Akira menyangkal hal menyeramkan yang dilihatnya itu.
Akira tidak dapat memberi tahu hal yang sebenarnya. "Itu terlihat seperti operasi menggunakan teknologi canggih. Jangan terlalu dipirkan. Kau hanya perlu berbaring, dan biarkan selang itu membantumu bernafas."
Mereka kemudian mengobrol sebentar, sebelum akhirnya Dimas memejamkan matanya, mencoba bernafas dengan tenang. Beberapa kali ia membuka matanya, dan Akira selalu mengatakan, "Hal itu tidak akan terjadi padamu Dim."
Kelelahan, Akira akhirnya tertidur dengan menaruh kepalanya di samping Dimas sambil tetap terduduk di bangku. Rambutnya yang terurai mengenai lengan Dimas.
Merasakan rambutnya dielus, Akira akhirnya terbangun.
"Dimas?"
__ADS_1
Bersambung......