Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Curhat


__ADS_3

Akira tak langsung pulang ke rumahnya setelah tiba di bandara. Hati Akira sudah tak karuan, ia lebih memilih pulang ke rumah Oma Lidia.


Saat Oma Lidia membuka pintu rumahnya, Akira langsung menghambur di pelukannya.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Oma Lidia.


"Oma! Aku sudah melakukan hal yang salah Oma." Isak Akira.


"Ada apa sayang? Ayo cerita sama Oma." Balas Oma Lidia.


Akira tak menjawab, ia malah menangis sesenggukan.


"Menangis lah sayang, jika hal itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Tapi ingat, jangan teralu larut dalam kesedihan, karena hidup harus terus berjalan." Ucap Oma Lidia seraya mengelus punggung Akira.


Akira terlihat semakin sesenggukan. Dengan tenang dan sabar, Oma Lidia memeluk sambil mengelus punggung cucu kesayangannya itu.


Setelah merasa lebih tenang, Akira kemudian mulai menceritakan keluh kesahnya kepada sang Oma.

__ADS_1


"Aku dan Dimas akan bercerai Oma." Ucap Akira.


"Bukankah memang hal itu yang mau kau lakukan sejak dulu?"


"Iya Oma, tapi masalahnya . . . . ."


"Kau masih sangat mencintai si tiang listrik itu. Bukan begitu?" Ucap Oma dibalas anggukan oleh Akira.


Akira menunduk, ia mendengarkan segala ucapan Oma Lidia.


"Sudah sering Oma katakan sama kamu. Berpikirlah matang-matang sebelum melakukan suatu tindakan yang sebenarnya kamu sendiri masih ragu untuk melakukannya. Jangan sampai kamu menyesali semuanya."


"Sayang, kalaupun kamu sudah mengajukan perceraian, kan bisa dibatalkan." Ucap Oma Lidia lagi.


"Kalaupun aku batalkan, apa Dimas akan mau rujuk sama aku?" Ucap Akira seraya menghela nafas panjang. "Aku pikir, aku akan tenang setelah mengajukan perceraian ke pengadilan. Tapi nyatanya sekarang aku malah menjadi ragu. Kemarin, Dimas mengirimiku sebuah pesan yang mengatakan ia masih mencintaiku. Awalnya aku membenci semua yang dia lakukan padaku Oma. Aku marah, kecewa sekaligus sedih. Aku selalu berfikir bahwa Dimas selalu mengontrol kehidupan aku. Tapi, akhirnya aku sadar bahwa semua yang dilakukan Dimas semata karena dia . . . ."


"Peduli dan khawatir sama kamu. Bukan begitu?"

__ADS_1


Akira mengangguk.


"Oma bisa lihat dia memang sangat mencintai kamu. Tapi beberapa hal yang ia lakukan memang mengecewakan untukmu. Kau tahu sendiri, sejak awal kalian menikah Oma tidak pernah menyukai dia, karena Oma melihat sifatnya yang selalu mengatur-atur dirimu. Tapi sejak dia datang kembali dan tinggal di rumahmu, Oma dapat melihat sebenarnya dia pria yang baik. Dia telah berubah banyak. Dia memang terlalu over protectif sama kamu. Tapi ya kembali lagi, itu semua semata-mata karena Oma lihat dia memang mencintai kamu." Ucap Oma Lidia panjang lebar.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang Oma?" Tanya Akira.


"Sudah jelas kau harus menemuinya, berbicara langsung padanya. Oma heran, kamu baru kembali dari kota S, bukannya langsung menemui dia. Kenapa malah pulang ke rumah Oma?"


"Dua hari yang lalu, sebelum aku pergi ke kota S, aku sudah mengusirnya Oma. Aku mengatakan, dia harus sudah pergi dari rumah saat aku kembali nanti."


"Akira, Akira . . . . Sekarang kan zaman sudah modern, kamu kan bisa menghubunginya lewat sambungan telepon, atau mengirimi dia pesan, atau bahkan melakukan video call."


"Apa dia mau memaafkan aku Oma?"


"Oma yakin, dia akan kembali sama kamu. Bahkan dia sendiri yang akan meminta maaf juga atas semua yang telah dilakukannya terhadap kamu. Jadi bersemangatlah, selama palu masih belum di ketok, kalian masih sah sebagai pasangan suami isteri."


"Baiklah Oma, aku akan berusaha untuk menghubunginya. Terima kasih banyak untuk semuanya Oma." Ucap Akira seraya memeluk Oma Lidia dengan erat.

__ADS_1


"Iya sayang, Oma hanya berharap kau selalu bahagia." Balas Oma Lidia.


Akhirnya, setelah mencurahkan segala isi hatinya pada Oma Lidia, Akira pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia berniat setibanya di rumah nanti, akan langsung menghubungi Dimas.


__ADS_2