Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Kejutan


__ADS_3

Dimas memandang Akira dengan lekat.


"Kita akhirnya mulai belajar. Kita tidak hidup bersama dengan baik. Kita sudah bersama disini selama enam bulan, dan semuanya sangat indah, kecuali untuk adakalanya aku meledak saat aku bertingkah diluar batas dalam mengatur hidupmu." Ucap Dimas.


"Kadang-kadang semuanya memang sangat indah." Balas Akira. "Tapi itu semua merupakan situasi yang palsu, tidak dalam kehidupan yang sebenarnya. Dalam kehidupan yang sebenarnya, aku tidak dapat kembali ke kota mu, kembali ke kehidupan lama kita. Aku bukan tipe seorang istri yang kau inginkan, atau kau butuhkan. Aku tidak pernah mendukungmu atau menjadi istri yang selalu diharapkan setiap laki-laki."


"Kau memang bukan tipe seorang istri yang aku inginkan. Tapi kau semakin dewasa dan berubah. Kau mendukungku saat aku bersiap untuk menyerah. Kau berubah menjadi wanita yang memang selama ini aku inginkan. Aku hanya memerlukan waktu sebentar saja untuk menyadari hal itu."


Tangan Dimas menggenggam erat tangan Akira.


"Aku juga sudah berubah kan Akira? Bukan begitu?"


"Aku pikir juga begitu." Balas Akira dengan menampilkan sebuah senyuman di sudut bibirnya.


Dimas mengarahkan kursi rodanya menuju taman.


"Aku pikir kita harus tinggal disini." Ucap Dimas.


"Disini? Di rumahku!" Seru Akira tak percaya.


"Aku ingin kita menjadi keluarga Akira. Sebuah keluarga seperti yang kau inginkan, keluarga yang hangat, saling peduli, saling berbagi kesenangan dan kesedihan. Aku mau mulai mengisi kamar-kamar kosong itu dengan hadirnya anak-anak. Kita bisa mengadopsinya segera, atau memiliki anak sendiri jika kau mau. Tapi aku tahu kau adalah wanita yang sangat berdedikasi tinggi pada pekerjaanmu. Jadi aku . . ."


"Oh Dimas, apa kau yakin?" Ucap Akira memotong ucapan Dimas.

__ADS_1


Dimas memasang ekspresi wajah yang serius.


"Aku tidak pernah merasa seyakin ini sebelumnya pada hal apapun. Aku mau kita memulai hidup kita lagi, bersama." Ucap Dimas.


"Kau harus memilih untuk tinggal disini?"


"Aku ingin tinggal, dimanapun selama bersama mu. Aku bisa mengurus perusahaan ku dari sini, meninggalkan segala pekerjaan pada Sam. Dan kau bisa melanjutkan bisnismu bersama Oma Lidia."


Dimas terdiam beberapa saat, kemudian berbicara dengan nada yang lembut.


"Kau sudah mendapatkan investor baru. Jadi kau tidak memerlukan uang dariku lagi, jika hal itu memang mengganggumu. Tapi orang lain akan menginginkan keuntungan darimu. Jika aku investor mu, aku tidak akan memikirkan keuntungan. Kau bisa membuat pakaian apapun yang kau suka. Dan jika kau mendapat keuntungan, tidak perlu kau berikan padaku. Lebih baik kau serahkan saja untuk berdonasi atau amal."


"Kau masih saja menjadi raja penggoda, bukan begitu?"


Akira bergegas berjalan menuju sebuah meja tempat ia menaruh tasnya. Saat Akira mengambil beberapa kertas, Dimas berkata,


"Jangan berbalik dulu."


Penasaran, Akira mendengar suara gesekan yang aneh.


"Oke." Balas Akira.


Akira berputar. Dimas berdiri tegak, dengan dua tongkat menopang tubuhnya, tersenyum ke arah Akira.

__ADS_1


"Dimas! Kapan . . . ." Akira tak dapat berkata apa-apa.


"Aku mulai bisa berjalan di hari saat kau mengetahui bahwa Alpha Corp adalah milikku. Ini adalah kejutan yang ingin aku tunjukkan padamu sebelum kau mengusirku keluar dari rumah mu. Aku menyembunyikan tongkat ini diantara bunga-bunga hari ini, berharap . . . ."


Terlalu senang, Akira berjalan mendekat ke arah Dimas.


"Jangan. Tetaplah disana." Pinta Dimas.


Hati Akira begitu bahagia, sekaligus terharu. Ia menatap Dimas yang tengah berjalan perlahan ke arahnya melewati teras belakang rumah sampai akhirnya Dimas berdiri disampingnya.


Air mata Akira mengucur deras, dia melempar surat gugatan perceraiannya. Akira tertawa saat kertas-kertas itu mengenai patung ikan dan terbenam didalam kolam air mancur.


"Lemparan yang bagus Akira." Puji Dimas.


Akira melingkarkan tangannya di pinggang Dimas lalu memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu, Dimas. Akan selalu begitu. Aku ingin hidup denganmu." Ucap Akira.


Dimas mencium kening Akira saat kedua mata mereka beradu pandangan.


"Aku, Dimas Abraham, menjadikanmu Akira, sebagai istriku . . ."


"Kali ini untuk selamanya Dimas." Sela Akira yang dibalas anggukan oleh Dimas.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2