Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Liburan


__ADS_3

Akira selesai membersihkan diri, lalu mendekati Dimas.


"Dimas.... ini sudah larut. Kita harus menyiapkan semuanya. Apa kau lupa, besok kita harus bertemu klien mu, Pak Bimo untuk membahas kontrak yang lainnya. Kalau kita belum menyiapkan semuanya sekarang, besok kita bisa terlambat." Ucap Akira berusaha mengingatkan Dimas akan pertemuannya besok dengan Pak Bimo.


"Maafkan aku Akira. Sebenarnya tidak ada kontrak yang aku lakukan bersama Pak Bimo." Ucap Dimas terlihat malu. "Aku sudah menelepon Sam, memintanya untuk mengatur jadwal kita diperpanjang disini selama seminggu untuk liburan." Lanjut Dimas.


"Apa?" Ucap Akira kaget.


"Aku telah mengatur liburan romantis untuk kita." Balas Dimas.


"Tanpa berdiskusi denganku?" Ucap Akira dengan kecewa.


"Aku bermaksud memberimu kejutan!" Balas Dimas.


"Kau mulai lagi! Kau merencanakan sesuatu untuk diriku, tanpa mendiskusikannya denganku dulu. Sialan. Kau pikir kau siapa Dimas?"


"Maafkan aku Akira. Ku pikir kau akan suka meluangkan waktumu untuk rehat sejenak dari rutinitas pekerjaanmu."


"Aku suka bersantai, tapi aku punya tanggung jawab. Aku perlu menghabiskan setiap menit waktuku untuk bersiap-siap akan meeting di hari senin nanti. Apakah kau sama sekali tidak berpikir bahwa aku punya agenda lain?"


"Kalau begitu kita bisa pulang sekarang juga." Ucap Dimas dengan tenang. "Mungkin kita punya kesempatan lainnya nanti." Lanjutnya.


Akira ingin mengatakan 'iya'. Tapi bibirnya tertutup rapat seperti sudah dikunci. Dia memang ingin memliki waktu bersua dengan Dimas, dan mungkin hanya besok waktu yang dia punya.


"Tidak, kau benar Dimas. Aku bisa mengubah rencanaku. Bagaimana jika kita tetap disini sampai besok sore? Aku bisa menyiapkan semua keperluan meetingku nanti malam dan sepanjang hari minggu nanti."


"Apa kau mau tinggal, jika aku membantumu menyiapkan semua hal tentang meetingmu?"


"Terima kasih, Dim, tapi semua persiapan meeting ini, hanya untuk pekerjaan wanita. Lagipula, sepertinya kau kelelahan. Hari ini merupakan hari yang panjang dan melelahkan untuk mu."


"Kau benar." Suara Dimas terdengar kecewa. "Hari ini memang sangat panjang dan melelahkan untuk orang seperti aku yang masih harus berlatih mengembalikan fungsi tubuhku. Selamat malam Akira, jangan tidur terlalu larut. Apalagi sampai harus bergadang."


*******************


Pukul dua dini hari, Akira merenggangkan otot-ototnya dan menguap. Pekerjaannya berjalan lambat karena ia memikirkan sifat Dimas yang mulai menyenangkan bagi dirinya. Semakin sehat Dimas, semakin membuatnya kembali lagi seperti Dimas yang dulu.


Bercinta dengan Dimas adalah hal yang bodoh yang telah dilakukan dirinya, pikir Akira. Akira berpikir, nantinya entah itu seminggu, atau sebulan, vepat atau lambat Dimas akan kembali pulang ke kotanya.


'Aku memang terlalu bodoh berharap hubungan kami akan membaik lagi,' pikir Akira.


Akira membenci kemungkinan jika kehilangan Dimas. Tapi lagi, Akira berpikir rasional, Dimas sendiri tak pernah merasa kehilangan dirinya. Dimas selalu hidup dengan caranya sendiri, fokus pada keinginannya sendiri. Akira sudah berusaha hidup mandiri namun Dimas kembali lagi ke dalam hidupnya. Dan membuat Akira menjadi lebih dekat dengannya.

__ADS_1


'Meski kami berdua dekat, aku yakin Dimas tidak mau aku kembali lagi dalam hidupnya.'


Akira membaringkan tubuhnya disamping Dimas, memandang Dimas lekat.


'Setidaknya aku masih punya satu hari lagi bersama Dimas.'


************************


"Apa kau pernah pergi mengunjungi pantai yang berwarna pink di daerah sini?" Tanya Dimas pagi hari.


"Tidak, tapi aku pernah mendengar bahwa tempat itu sangat cantik. Apa yang tengah kau pikirkan? Apa kau merencanakan sesuatu?" Ucap Akira balik bertanya.


Dimas mengernyitkan dahinya.


"Maksudku, aktivitas apa yang sudah kau rencanakan untuk dilakukan hari ini?" Tanya Akira lagi.


"Tidak ada. Aku hanya memikirkannya pagi ini. Kita akan menghabiskan waktu sepanjang hari dengan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah, makan beberapa makanan yang lezat, dan bercinta dengan sepuas hati." Gelak Dimas.


"Kau sungguh tidak memiliki jadwal, atau membuat reservasi?"


"Tidak.


'Dimas yang dulu jarang sekali bertingkah spontan,' pikir Akira.


"Sempurna." Ucap Akira.


*********


Keduanya berpegangan tangan dan melihat ke sisi kiri tebing yang langsung berhadapan dengan pantai.


"Sungguh pemandangan yang indah." Ucap Akira.


"Itu belum seberapa. Aku punya hal lain yang ingin aku tunjukkan padamu."


Dimas mengajak Akira ke sisi tebing sebelah kanan. "Itu disana!" Ucap Dimas antusias.


Terdapat sebuah bangunan kecil, lebuh tepatnya bangunan seperti candi kecil di tengah hutan pinus. Di sekeliling candi kecil itu ada hamparan bunga warna merah menyala.


"Aaaaahh indah sekali, Dim. Apa kita bisa kesana?"


"Tentu saja."

__ADS_1


Tapi saat mereka sudah tiba di tempat parkir di area candi kecil itu, Akira sadar bahwa akses untuk berjalan kaki menuju candi kecil itu tidak memungkinkan untuk dilalui Dimas.


Dimas dapat membaca isi pikiran Akira hanya dari raut wajahnya.


"Kau bisa pergi kesana sendirian Akira, aku bisa menunggu disini. Lalu kita bisa mencari tempat makan siang nanti."


"Itu ada sebuah warung kecil disana, kita bisa membeli makanan ringan." Ucap Akira.


Keduanya lalu duduk di sebuah meja piknik yang dikelilingi pohon cemara. Akira memotong buah dan keju dengan potongan yang lumayan besar agar Dimas mudah mengambilnya, lalu berbagi sebuah jus buah segar yang tersedia di warung kecil itu.


"Tempat yang sangat indah dan juga makanan yang enak." Ucap Akira. "Sekarang, apa rencana selanjutnya?" Lanjut Akira.


"Ayo kita kembali ke jalan" balas Dimas dengan suara yang tercekat.


"Apa kau lelah Dim? Kita bisa kembali ke hotel dan kau bisa beristirahat."


"Aku tidak lelah," protes Dimas. "Ayo kita lanjutkan."


Akira membantu Dimas kembali lagi ke dalam mobil Van.


Keduanya memutuskan untuk pergi ke pantai untuk melihat sunrise dan menyewa sebuah resort yang berhadapan langsung ke arah pantai untuk bermalam.


Keduanya duduk di beranda resort tempat mereka menginap. Matahari mulai sedikit demi sedikit turun seolah ditelan lautan.


"Benar-benar indah." Ucap Akira.


Cahaya orange matahari terbenam memantul di wajah Akira. Dimas bukannya melihat sunset, ia malah memandang wajah Akira.


"Kau benar, sangat cantik sekali." Ucap Dimas.


Akira memalingkan pandangannya ke arah Dimas. Mata keduanya bertemu, detik berikutnya keduanya tertawa bersama.


Setelah matahari terbenam, Akira menuntun Dimas masuk ke dalam kamar, kemudian memindahkannya ke atas kasur yang empuk.


"Sempurna." Ucap Akira.


"Belum cukup sempurna. Tapi aku bertaruh kita bisa bercinta dengan sangat menakjubkan diatas kasur ini."


Akira tertawa, "sebelum itu terjadi, bagaimana kalau kau mandi dulu Dim?"


"Waahh tentu saja." Jawab Dimas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2