Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Meeting


__ADS_3

Dimas tak seperti biasanya, ia terlihat sangat tegang. Akira yang menyadari hal itu, memegang pundak Dimas dan memijitnya perlahan.


"Tenang Dim, jangan sampai klien mu melihat ekspresi dirimu yang terlihat gugup. Sebentar lagi mereka masuk." Ucap Akira.


Dimas mengangguk perlahan, ia mulai menarik nafas dalam-dalam saat terdengar derap langkah kaki mendekat.


Pintu terbuka, dua orang laki-laki bertubuh gempal masuk ke dalam ruangan. Keduanya langsung menatap Akira yang berdiri tegak di samping Dimas.


"Selamat pagi Tuan-tuan. Silahkan duduk." Ucap Akira sopan.


Akira tampil rapi, dengan mengenakan setelan jas dan rok selutut berwarna abu-abu, rambutnya di kuncir tinggi dan tak lupa kacamata membingkai indah di matanya.


Penampilan Akira sungguh membuat Bobby dan Jimmy terpesona. Tampak dari tatapan keduanya yang tak lepas melihat ke arah Akira.


"Kheemm... Kheemm..." Dimas berdehem keras membuat Atmaja bersaudara langsung menatap ke arahnya.


Dimas lalu mulai menjelaskan secara terperinci tentang isi dari dokumen yang dibawanya.


"Kami ingin anda menyelesaikan semuanya tepat waktu Pak Dimas." Ucap Bobby.


"Sebenarnya kami sudah yakin Pak Dimas pasti akan tepat waktu, hanya saja beberapa hari yang lalu kami mendengar sebuah issue bahwa anda tengah sakit parah dan berbaring tak berdaya." Sambung Jimmy dengan raut wajah yang sedikit mengejek ke arah Dimas.


Dimas hanya tersenyum menanggapi ucapan keduanya.


"Seperti yang anda lihat Tuan-tuan. Saya dalam kondisi yang fit, hingga dapat menemui kalian disini. Kalian adalah klien terbesar dari perusahaan saya. Jadi saya tidak ingin mengecewakan kalian." Balas Dimas dengan penuh percaya diri.


'Bagus Dimas. Berusahalah, kamu pasti bisa.' teriak Akira dalam hati.


Tanpa basa-basi kedua pria itu langsung menyerahkan kontrak kerja antar kedua perusahaan.


"Silahkan anda baca terlebih dahulu." Ucap Jimmy.


Dimas menatap sebuah map berisi kontrak kerja perusahaannya itu dengan tatapan nanar.


'Bagaimana ini? Akan susah untukku menjangkaunya. Apalagi untuk membukanya.'


Akira seolah mengerti dengan kebisuan Dimas. Dengan cepat ia mengambil map itu untuk Dimas. Lalu meletakkannya dengan posisi terbuka agar Dimas bisa leluasa membaca tanpa harus menyentuhnya.


"Silahkan Pak Dimas, ini sudah menjadi tugas saya." Ucap Akira.


"Terima kasih." Balas Dimas tersenyum.


Dimas membaca detail kontrak itu, lalu berpikir bagaimana ia harus memegang bolpoin untuk menandatangani kontrak itu.


"Akira, aku memberikanmu wewenang untuk menanda tangani kontrak ini. Tanganku sedang kram."


Bobby dan Jimmy saling memandang dengan raut wajah yang khawatir.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja Pak Dimas?" Tanya Bobby.


"Kalau anda memang sedang sakit, tidak seharusnya anda bekerja." Sambung Jimmy.


"Saya tidak apa-apa Tuan-tuan, saya baik-baik saja. Hanya saja tangan saya tiba-tiba kram." Ucap Dimas membual.


"Oh..."


'Pffyuuhh ... Alasan yang sangat bagus Dim.' pikir Akira.


"Baiklah Tuan-tuan, kami pastikan semuanya akan selesai tepat waktu. Jika tidak, anda bisa menggugat kami lebih besar dari nominal yang tertera di kontrak yang sudah kami tanda tangani." Ucap Akira tegas.


Bobby dan Jimmy tampak puas dengan ucapan Akira. Keduanya manggut-manggut sambil tersenyum menggoda ke arah Akira.


"Saya sangat suka dengan wanita yang energik seperti anda Nona Akira." Ucap Jimmy.


"Kau benar saudaraku." Balas Bobby. "Oh ya Nona Akira, untuk merayakan kerjasama ini kami secara pribadi mengundang anda dan Pak Dimas untuk makan malam." Lanjutnya.


Akira tampak menatap Dimas dengan alis yang terangkat, seolah bertanya 'kamu mau gak?'


"Maaf Tuan-tuan, saya dan Nona Akira punya agenda lain." Ucap Dimas.


Akira terdiam, sementara Duo Atmaja terlihat kecewa dengan keputusan Dimas.


"Sungguh sangat disayangkan sekali. Padahal saya ingin mengenal Nona Akira lebih jauh, siapa tau Nona Akira mau bekerja di perusahaan kami. Tentunya dengan gaji yang lebih mempuni." Ucap Jimmy.


'Apa-apaan kamu Akira.' batin Dimas.


"Kami berdua menerima undangan makan malam dari anda Tuan-tuan." Lanjut Akira.


"Bagus, kalau begitu kami berdua akan menunggu Nona Akira di resto hotel ini malam nanti." Balas Bobby. "Tentu saja kami mengundang Pak Dimas juga." Lanjutnya.


"Kalau begitu kami permisi dulu Pak Dimas. Senang berbisnis dengan anda." Ucap Jimmy tanpa berjabat tangan dengan Dimas.


Duo Atmaja itu malah bersalaman dengan Akira dengan tatapan yang genit, lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan Akira dan Dimas berdua.


"Apa maksud kamu menerima undangan dari mereka? Kamu mau mempermalukan aku gitu? Kamu sengaja melakukan semuanya agar mereka melihat kondisiku yang sebenarnya?" Tanya Dimas geram.


"Kamu tuh ya gak pernah mikir positif tentang rencana aku. Selalu saja nuduh aku yang nggak-nggak. Kamu tenang aja, pokoknya ikutin semua ucapan aku." Jawab Akira.


"Kamu mau aku apa?" Tanya Dimas lagi.


"Pergilah terlebih dahulu pada mereka. Tunjukkan bahwa kau memang tengah berada dalam kondisi yang seperti sekarang ini."


"Hey, apa kau sudah gila? Kau tahu sendiri saat mereka mendengar berita bahwa aku tengah sakit, dengan begitu cepat mereka memutuskan untuk tidak bekerjasama dengan perusahaan aku lagi. Dan sekarang kau malah memintaku untuk pergi ke....."


"Sudahlah, ikuti saja apa yang aku katakan barusan. Nanti malam kau temui mereka dulu, tunggulah sampai aku datang." Ucap Akira memotong ucapan Dimas.

__ADS_1


"Ta-tapi. ...."


"Ikuti saja, aku yakin mereka malah akan semakin yakin untuk bekerjasama dengan kamu."


"Apa sebenarnya maksud kamu kali ini?" Dimas kembali bertanya.


"Dim, aku yakin mereka akan takjub sama kamu. Kamu sudah melakukan hal yang baik dalam menangani pertemuan dengan mereka. Kau yakinkan mereka bahwa meski dengan duduk di kursi roda, kau tetap bekerja semaksimal mungkin."


Dimas terlihat sedang berpikir.


"Baiklah, jika memang itu mau kamu. Tapi aku harap kamu tidak akan terlalu lama. Aku takut tidak bisa menangani mereka berdua." Ucap Dimas.


"Tenang saja, kau pasti bisa." Ucap Akira.


***********************


Malam harinya, dengan perlahan Dimas menuju resto yang ada di hotel itu. Terlihat duo Atmaja sudah duduk menunggu kedatangan Dimas dan Akira.


Mata keduanya melotot melihat Dimas yang mendekat ke arah mereka sambil duduk di kursi roda.


"Selamat malam, Tuan-tuan." Ucap Dimas.


Kedua Atmaja bersaudara itu terdiam.


"Aku tahu kalian pasti kaget dengan penampilanku saat ini. Tapi aku mau jujur, seperti inilah penampilanku sekarang. Aku bergantung pada kursi ini." Lanjut Dimas. "Jadi sekarang terserah kalian mau membatalkan kerjasama kita atau tidak." Ucap Dimas tegas.


"Saya malah suka dengan kejujuran anda. Meski harus berada di kursi roda, tapi anda bisa menghandle semuanya dengan baik." Ucap Jimmy.


"Ngomong-ngomong, dimana Nona Akira?" Tanya Bobby.


"Mmmmm...." Dimas tak tahu harus menjawab apa.


Aku disini....." Ucap seorang wanita yang sontak membuat ketiga pria itu berbalik menatap dari mana asal suara lembut itu.


"A-ki-ra...." Ucap Dimas terbata-bata.


NB: Mohon maaf semuanya untuk pembaca Kisah ini. Maafin karena terlambat mengupdate kisah ini lagi. Beberapa hari ini Mak Othor serlalu disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga.


Mulai besok, insyaAllah MENCINTAI PRIA LUMPUH, akan update setiap hari... 😊😊


Selalu dukung dengan vote atau beri hadiah untuk setiap Karya'ku ya...


Terima Kasih...


ttd


La-Rayya

__ADS_1


__ADS_2