
Tiba di rumah, Dimas dengan cepat menarik tangan Akira mengajaknya turun dari dalam mobil.
"Kenapa terburu-buru sekali, ada apa denganmu?" tanya Akira.
Dimas seperti tengah menyeret Akira membawanya masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi akira bertanya, "Ada apa dengan mu Dim?"
"Aku mau es krim." jawab Dimas. Akira kemudian memberikan es krim yang dipegang nya kepada Dimas.
"Ini untukmu."
"Suapi aku." titah Dimas.
"Kau sangat manja." Ucap Akira sambil menyuapi Dimas sesendok penuh es krim.
Namun saat sendok menyentuh bibir Dimas, iya menolak untuk memakannya dan justru menyuapi Akira es krim itu.
'Aneh sekali.' pikir Akira.
Tanpa aba-aba Dimas langsung mencium bibir Akira dengan lembut. Akira yang kaget tak sengaja menumpahkan es krim itu ke lantai.
"Ada apa denganmu?" bentak Akira seraya mendorong tubuh Dimas.
"Aku menginginkanmu." balas Dimas .
Dengan cepat Dimas mendorong tubuh Akira ke tempat tidur.
Perlahan dimas mulai mencium leher Akira dengan lembut. Tenaga Dimas sangat kuat hingga tak bisa membuat Akira bergerak.
Akira mendorong kepala Dimas.
"Jangan sekarang!" Seru Akira. "Ini masih siang." Lanjutnya.
"Aku tidak perduli, aku sudah lama menunggu. Apa kau tidak menginginkan aku juga?"
"Bukan begitu, tapi..."
Belum selesai Akira berbicara, Dimas sudah membungkam mulut Akira dengan ciumannya.
"Tolong jangan menolak, aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi."
Mendengar ucapan Dimas, Akira akhirnya luluh, keduanya pun mulai bercumbu mesra. Hingga pada akhirnya keduanya mencapai puncak indahnya hubungan suami istri.
********
Satu minggu berlalu, acara Fashion Show yang diikuti Akira segera dimulai. Sudah banyak Fashion Desainer baru yang hadir dengan membawa beberapa gaun dan pakaian yang akan mereka tampilkan.
Dimas senantiasa berada disamping Akira yang terlihat sibuk mempersiapkan para model yang mengenakan gaun rancangannya untuk ditampilkan nanti.
Satu orang Fashion Desainer berkesempatan menampilkan sepuluh rancangan terbaik mereka. Dan Akira menjadi desainer terakhir yang akan menampilkan rancangannya.
__ADS_1
"Tenanglah, kau terlihat sangat tegang." Ucap Dimas.
"Iya aku sudah berusaha bersikap tenang. Tapi tetap saja Dim, aku sangat tegang. Lihat jari-jariku, semuanya gemetaran."
Dimas kemudian memegang jemari Akira lembut dan menciumnya. Hal itu membuat Akira merasa sedikit lebih tenang.
"Baiklah, kau duduk dulu disini. Aku melihat mereka dulu." Akira menunjuk para model yang tengah diurus Lola.
Di bangku penonton, sudah banyak tamu yang hadir, termasuk Oma Lidia. Oma Lidia tampil modis dengan gaun hitam yang ia rancang sendiri. Rambutnya yang putih terlihat sangat kontras dengan gaun hitam yang ia kenakan. Namun, meski usianya sudah menginjak angka enam puluh tahun, wanita tua itu masih terlihat energik.
Akira kembali mendekati Dimas.
"Kenapa kau tidak duduk di kursi penonton saja. Temani Oma disana."
"Baiklah. Tapi, apa kau...."
"Tenang saja, aku sudah lebih semangat sekarang." Ucap Akira memotong perkataan Dimas.
"Baiklah, berusahalah dan tetap semangat. Aku akan selalu mendukungmu." Dimas mencium kening Akira.
"Terima kasih Dim."
Dimas lalu berjalan pelan ke arah Oma Lidia.
"Hei, wanita cantik. Siapa namamu?" Sapa Dimas.
"Hai, perkenalkan aku Lidia. Kau boleh memanggilku Miss Lidia." Balas Oma Lidia seraya menyodorkan tangannya pada Dimas.
"Aww kau manis sekali pria tampan. Sayang sekali aku terlalu tua untukmu. Kalau saja aku seusia denganmu, kau akan menjadi kekasihku." Oma Lidia terlihat genit sambil memainkan matanya.
"Sayangnya aku sudah memiliki wanita idamanku sendiri. Aku akui kau sangat cantik Miss Lidia. Tapi kecantikan wanitaku bisa mengalahkan dirimu."
"Katakan padaku siapa wanita mu itu?" Oma Lidia membuat mimik wajah marah.
"Dia tidak lain adalah cucumu Miss Lidia." Balas Dimas penuh drama.
"Hahahaha" keduanya tertawa bersamaan kemudian duduk berdampingan.
"Kau semakin tampan saja." Puji Oma Lidia.
Dimas tampil mengenakan jas berwarna hitam dan kemeja putih. Hari ini Dimas sudah melakukan perawatan yang baik demi terlihat sempurna menemani Akira di ajang Fashion Show. Rambut hitamnya disisir rapi kebelakang dan terlihat mengkilat.
Meski ia masih harus berjalan menggunakan tongkat, tapi hal itu tetap tak menutupi penampilan wajah dan postur tubuhnya yang sempurna.
"Oma Lidia juga tampil sangat anggun dan cantik sekali malam ini." Balas Dimas.
"Hei tiang listrik. Di rumah kau boleh memanggilku Oma. Tapi disini, di acara sepenting ini, kau harus memanggilku Miss Lidia."
"Siap Oma. Uuppss maksudku, siap Miss Lidia." Ucap Dimas terkekeh saat Oma Lidia menepuk pundaknya.
__ADS_1
Acara pagelaran Fashion Show pun dimulai. Beberapa mode mulai berjalan menampilkan rancangan terbaik para desainer berbakat.
Di belakang panggung, Akira tengah memeriksa hasil final gaun rancangannya yang sudah dikenakan para model. Keningnya terlihat berkeringat, tiba-tiba saat Akira memejamkan matanya mengambil nafas dalam-dalam seseorang tengah mengusap keningnya menggunakan sapu tangan.
"Dim...." Ucapan Akira terhenti saat ia membuka mata.
Ternyata Daniel yang tengah mengusap keringatnya.
"Da... Daniel...."
"Kenapa kau terkejut begitu? Bukankah wajar aku berada disini? Akulah yang mensponsori mu." Ucap Daniel menampilkan senyum terbaiknya.
Daniel kembali berusaha mengusap kening Akira, tapi Akira dengan cepat menghindar.
'Jangan sampai Dimas melihat hal ini.' pikir Akira.
"Aku bisa sendiri." Ucap Akira seraya mengusap keningnya dengan tisu yang diambilnya dari dalam tas yang ia bawa.
Tiba giliran nama Akira disebut, dan mulailah para model berlenggak lenggok di catwalk. Akira terlihat harap-harap cemas. Berharap semua rancangannya dapat ditampilkan dengan nyaman oleh para model.
Daniel menggenggam tangan Akira.
"Apa yang kau lakukan?" Akira berusaha melepaskan tangan Daniel.
"Kau terlihat gugup. Dan sebentar lagi namamu akan disebut kembali untuk tampil diatas panggung. Jadi aku harus ikut bersamamu."
"Apa maksudmu?"
"Sebagai seorang sponsor, aku berhak ikut naik ke atas panggung bersama desainer ku." Ucap Daniel seraya menarik Akira saat namanya dipanggil untuk naik ke atas panggung.
Akira berusaha melepaskan pegangan tangan Daniel. Namun sia-sia saja karena tenaga Daniel yang begitu kuat membuat Akira kewalahan hingga keduanya tampil diatas panggung sambil bergandengan tangan.
Hal yang semakin tak diduga Akira adalah ketika Daniel tiba-tiba mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Akira lalu mencium tangan itu dihadapan semua orang.
Akira terpaksa melambai, namun sorot matanya memandang ke arah Dimas dan Oma Lidia. Kedua orang itu tampak kaget melihat Akira yang bergandengan tangan dengan Akira.
"Lambaikan tanganmu." Titah Daniel saat semua mata tertuju pada keduanya.
'Maafkan aku Dim.' ucap Akira dalam hati.
Akira dapat merasakan, bahwa Dimas tengah marah dan kecewa. Hal itu tampak jelas dari raut wajah dan sorot mata yang diperlihatkan Dimas.
Daniel kembali menggandeng Akira kembali ke belakang panggung. Sementara Oma Lidia memegangi tangan Dimas dan mengajaknya duduk kembali.
"Dimas....." Lirih Oma Lidia memanggil nama Dimas.
"Tidak apa-apa Miss Lidia. Aku baik-baik saja. Itu hanya sebatas profesionalitas kerja Akira saja." Ucap Dimas menampilkan senyumnya yang terpaksa.
Oma Lidia tersenyum seraya mengusap punggung Dimas. Oma Lidia tahu apa yang dirasakan Dimas, karena sorot matanya tak dapat menyembunyikan kebohongan yang ia katakan.
__ADS_1
'Aku percaya padamu Akira.' ucap Dimas dalam hati.
Bersambung.....