
Akira tengah duduk di depan televisi ruang keluarga di rumahnya. Ia tak bisa tidur karena memikirkan apakah Dimas akan baik-baik saja, dan sampai kapan Dimas akan berada di ruang ICU.
Dokter Jerry sudah mengatakan kepada mereka bahwa kemungkinan Dimas akan berada di rumah sakit selama seminggu atau bahkan sebulan. Setelah itu Dimas harus pergi ke pusat terapi fisik sampai akhirnya dia bisa mendapatkan fungsi tubuhnya kembali.
Masa depan Dimas tergantung pada hasil tes dari Dokter.
Akira berusaha menahan agar air matanya tak jatuh, ia memejamkan matanya. Dimas membutuhkannya karena memang hanya Akira lah orang satu-satunya yang memungkinkan untuk menemani Dimas di situasi seperti ini. Tidak akan ada sahabat Dimas yang akan mau meninggalkan kota asal mereka hanya untuk datang ke kota ini untuk menemani Dimas yang terbaring tak berdaya. Tidak juga Sofia kakaknya, Sofia tidak akan membantu.
Tapi Dimas dan Akira bukan pasangan lagi. Ya, dulunya memang pernah. Mereka hidup bersama, tinggal bersama, tapi mereka tidak pernah berbagi kehidupan antara satu sama lain. Mereka tidak pernah memiliki satu tujuan, selalu saja bertentangan.
Dimas ingin Akira bergaya sosialita agar menyamai popularitasnya dalam berbisnis, ia ingin Akira ikut dalam acara pesta-pesta mewah antar sesama pebisnis. Yang pada intinya Dimas ingin memamerkan Akira wanita yang begitu cantik dan seksi sebagai isterinya didepan kolega bisnisnya.
Hal itulah yang tak disukai Akira dan bukan merupakan jati dirinya. Akira ingin menjadi dirinya sendiri. Dia tidak bisa tinggal di lingkungan sosialita yang merupakan dunia Dimas, tapi Akira juga tidak bisa membuat Dimas mengerti akan hal itu.
Jika saja mereka tidak menikah terlalu cepat setelah bertemu, jika saja Akira sudah lebih dewasa saat berusia dua puluh dua tahun, lebih mengerti akan apa yang dia inginkan dalam hidup, jika saja mereka lebih mengetahui satu sama lain, tidak akan ada pernikahan diantara keduanya.
Untuk pertama kalinya, Akira berpikir. Dimas membutuhkannya, dan dia dengan sukarela datang membantu. Apa yang sebenarnya dia butuhkan dari Dimas? Tidak ada. Tidak lagi.
Dimas telah berubah. Dia dengan sangat terbuka berterima kasih pada Akira.
Akira mencoba membayangkan bagaiman rupa Dimas di masa lalu saat masih bersamanya. Namun yang bisa dibayangkan Akira kini hanya Dimas yang terbaring lemah tak berdaya di atas sebuah dipan rumah sakit.
Akira menghela nafas panjang. Kembali mengingat akan pernikahan mereka. Pernikahan mereka sejatinya berakhir sejak Akira memutuskan meninggalkan Dimas dan pergi ke kota ini sekarang. Akira menjalani hidup yang dia inginkan, tapi tetap saja dalam lubuk hatinya yang terdalam ia menginginkan sosok lelaki yang bisa mengerti dirinya. Akira bahkan berpikir bahwa laki-laki itu yang pasti bukanlah Dimas.
Tapi jika Dimas sudah benar-benar ia lupakan, kenapa sekarang ia malah menemani Dimas? Berapa banyak waktu, atau dirinya yang harus ia luangkan untuk menemani Dimas? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat Akira selalu menghantui Akira. Tapi dia sama sekali tak memiliki jawabannya. Akira hanya bisa melihat situasi dan menunggu.
Akira kemudian mematikan lampu, dan melihat ke arah kegelapan. Berharap hari esok akan ada secercah cahaya untuk kondisi Dimas.
__ADS_1
***********************
Akan tetapi, hari esok dan hari-hari berikutnya tidak ada yang baik. Akira akan datang pagi-pagi sekali sampai tengah malam karena kondisi Dimas yang semakin melemah. Otot lengan dan pundaknya terlihat mengecil, kulitnyapun menjadi lebih pucat.
Akira juga tidak terlihat baik. Sepanjang hari, sejak siang dan malam ia harus menemani Dimas. Larut malam pun Akira masih dipusingkan dengan urusan pekerjaannya yang masih belum menemukan jalan keluar.
Ruangan ICU yang begitu tertutup membuat perubahan dari siang menjadi malam jadi tak diketahui. Dimas bahkan tak lagi dapat membedakan waktu. Akira tidak merasa heran jika Dimas bertanya, "Jam berapa sekarang? Sial, hari apa hari ini?"
Akira menatap jam yang ada di dinding, di atas kepala Dimas.
"Sekarang jam sepuluh pagi, dan hari ini hari selasa. Hari ini hari ke tujuh kau ada disini." balas Akira. "Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Akira.
"Buruk sekali. Setiap saat aku pikir akan semakin buruk."
"Apa kau ingin membicarakannya?"
"Tidak. Aku tidak punya tenaga untuk berbicang. Aku hanya ingin tidur. Maafkan aku karena sudah mengacaukan harimu."
"Apa kau perlu bantuan Tuan Dimas?" tanya wanita muda itu.
"Tidak." jawab Dimas.
Akira memandangi Dimas saat dia berusaha mengambil sendok dengan berusaha menggerakkan tangannya, tapi tangannya tidak kooperatif. Rahang Dimas mengeras, dia kembali mencoba lebih keras, tapi tetap tidak bisa. Hati Akira menjadi terluka.
"Si..." Dimas hendak mengumpat, namun urung saat melihat ke arah Akira. "Aku tidak lapar." lanjutnya sambil menatap Akira.
Akira mencoba tersenyum dan duduk ditepian ranjang Dimas.
__ADS_1
"Tidak akan ada orang yang lapar saat melihat makanan dari rumah sakit. Tapi untuk sementara waktu kau harus makan makanan rumah sakit untuk tetap menjaga agar tubuh indah dan jiwa lemah mu itu untuk selalu bersama."
"Pemilihan kata yang indah." balas Dimas.
Dengan hati-hati Akira memegang sendok dan mengambil bubur, berusaha untuk menyuapi Dimas.
Namun Dimas sama sekali tak membuka mulutnya. Rahangnya justru semakin rapat ditutup. Membuat Akira menampilkan senyuman semanis mungkin guna membuat Dimas luluh agar mau makan.
"Ayolah pria besar, buka mulutmu." ucap Akira.
Mata Dimas melihat mata Akira, dengan pelan akhirnya Dimas membuka mulutnya, menerima makanan itu, mengunyahnya tanpa terlihat berselera, dan menelannya. Akira kembali menyendok penuh bubur karena merasa telah berhasil membuat Dimas mau makan. Akira kembali mencoba menyuapi Dimas sambil mengalihkan perhatiannya.
"Apa kau masih ingat saat aku memberimu saus bluberry dahulu?"
Dimas tersedak, dan dengan cepat Akira memberikannya air untuk minum dengan mengarahkan sedotan ke arah bibir Dimas.
"Tidak akan ada laki-laki yang akan melupakan hal itu."
Akira tersenyum mengingat kejadian itu saat mereka tengah bermalam sebuah hotel dan tengah makan malam romantis berdua di dalam kamar.
Akira memberikan sesendok penuh saus blueberry pada Dimas. Dimas yang terlihat sangat menyukai itu membuat Akira ingin melakukan hal yang nakal.
Akira mengambil saus blueberry dengan jarinya lalu melumuri saus itu ke bibirnya. Akira dengan sengaja menggoda Dimas agar membersihkan saus blueberry yang ada dibibirnya.
Seperti tengah memakan es krim, Dimas menjilati saus blueberry yang terdapat di bibir Akira itu dengan nakal.
Akira tersenyum akan tingkah Dimas kala itu.
__ADS_1
"Benar-benar manis." ucap Dimas.
Bersambung.....