Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Akira Olivia D. Abraham


__ADS_3

Pagi, di hari ketiga Susan datang ditandai dengan suara bel yang baru. Akira menyadari bahwa seseorang telah mengganti bel lamanya.


Akira terlihat gusar, menunggu Dimas selesai mandi. Dimas telah menyewa orang lain yang bertugas untuk memandikannya. Seorang lelaki paruh baya bernama Pak Agus.


Saat Dimas telah selesai mandi, Akira bertanya padanya, "Dim, apa kau yang sudah mengganti bel rumahku?"


"Aku menggantinya dengan yang model terbaru." Dimas menatap Akira, seolah ia mengharapkan ucapan terima kasih dari Akira, "kau terlihat sangat membutuhkan bel yang baru, jadi aku menelepon seseorang, meminta untuk mengganti bel itu dengan yang lebih modern." Lanjut Dimas.


Dimas baru dua hari berada di rumah Akira, dan kini mulai mengambil alih semuanya.


'Masih seperti Dimas yang dulu.'


Akira menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan emosinya. Ia berusaha berbicara dengan tenang.


"Aku yakin kau bermaksud baik, tapi tolong, jangan beli sesuatu untukku ataupun rumahku." Ucap Akira.


"Apa kau tidak suka suaranya? Aku pikir suaranya sangat keren sekarang."


"Suaranya bagus, tapi bukan itu permasalahannya. Saat aku berkata pada Sofia untuk tidak merenovasi rumahku, perkataan ku itu tertuju juga padamu. Aku ingin merenovasi rumahku sendiri saat aku punya uang dan juga waktu luang."


"Maka jangan anggap itu sebagai hadiah untukmu. Aku menggantinya untuk menyelamatkan pendengaran ku. Suara bel mu itu terlalu berisik." Teriak Dimas.


Dimas tidak dapat memahami apa inti dari pembicaraan Akira. Akira hanya ingin, tidak ada orang lain yang berhak mengatur hidupnya.


***************


Seminggu sudah Dimas berada di rumah Akira. Akira hari ini berniat untuk menghabiskan waktunya di tempat Dimas berbaring.


Akira mengenakan bandana dan baju kaos berwarna biru muda serta celana pendek. Dia membawa cat dan kuas ke ruangan Dimas. Berniat untuk merenovasi kamar itu sembari memandangi Dimas yang tengah melakukan therapi bersama Rama.


Bahkan dari kejauhan, Akira dapat melihat perubahan dari otot lengan Dimas, terlihat lebih kuat dibawah therapi yang diberikan Rama. Akira berusaha fokus akan pekerjaan yang ia lakukan, tidak ingin terus memandangi Dimas yang berbaring dengan dada yang penuh keringat setelah melakukan sesi therapi yang di bantu Rama.


Selimut menutupi perut hingga kaki Dimas. Akira berpikir 'apa mungkin Dimas tengah bertelanjang?'


Akira berusaha menghilangkan pikiran nakalnya itu, kemudian wajahnya memerah saat melihat Dimas juga mendapati dirinya tengah menatap Dimas.


Dimas memanggil Akira agar mendekat.


"Akira, aku butuh bantuanmu."


"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Akira.


"Aku harus membayar sesuatu. Sam sudah mengatur sebuah cek, dan hanya butuh tanda tangan dariku. Tapi seperti yang kau lihat, aku belum terlalu bisa jika harus menandatangi sebuah cek ataupun berkas." Ujar Dimas.

__ADS_1


"Lalu, apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Akira heran.


"Kau bisa menggantikan ku untuk menandatanganinya. Namamu masih berada dalam kartu tanda tangan itu." Jawab Dimas.


Akira merasa tak percaya bahwa Dimas masih membiarkan namanya ada didalam akun bank milik Dimas. Artinya kapanpun Akira mau mengambil uang menggunakan cek, ia bisa kapanpun melakukannya.


"Kenapa?" Tanya Akira penuh tanda tanya.


"Karena aku memang belum mengganti format cek nya." Jawab Dimas asal.


"Meski begitu kau tidak pernah mau mendukungku dalam hal finansial dulu." Ejek Akira.


Dimas menatap Akira dengan perasaan malu, "Aku berencana untuk memberikanmu kuasa untuk menggunakannya kapanpun dan dimanapun." Balas Dimas.


"Tapi itu tidak akan membuatku ingin menggunakan uangmu." Ucap Akira seraya mengecat dinding di samping tempat tidur Dimas secara sembarangan.


"Aku tahu itu sekarang! Jangan bersikap keras padaku, aku lelaki yang sudah berubah." Ucap Dimas.


"Baiklah, aku akan menandatangani cek itu nanti. Setelah pekerjaanku ini selesai." Ucap Akira seraya menunjukkan tangannya yang penuh dengan cat berwarna abu muda itu.


"Kau boleh menggunakan kartu atm ku juga." Ucap Dimas.


"Aku mungkin akan lepas kendali jika menggunakan atm mu, dan menghabiskan banyak uangmu." Balas Akira.


Akira kembali fokus mengerjakan tugasnya kembali. Ia bahkan mengambil tangga dan mulai mengecat tembok bagian atas


Dimas menatap Akira yang tengah mengecat, lalu bertanya, "bagaimana kau bisa mendapatkan energi serta membagi waktumu untuk merenovasi rumah tua uang besar ini?"


"Ini merupakan hiburan yang murah untukku. Aku bisa bersenang-senang hanya dengan mengecat dan memasang interior rumah ini. Awalnya aku hanya berencana untuk membeli dan merenovasi rumah ini lalu menjualnya dan mendapat keuntungan yang banyak. Tapi, aku jatuh cinta dengan gedung tua ini dan sekarang ingin memilikinya." Ucap Akira sambil tetap fokus mengecat dinding.


"Sebesar apa rumahmu ini?" Tanya Dimas.


"Di lantai bawah ini ada dapur, ruang makan dan dua riangan lainnya. Aku belum tahu harus ku apakan ruangan itu. Di lantai atas ada kamar utama dengan kamar mandi pribadi, ada ruangan untuk bekerja, tiga kamar tidur lainnya, dan dua kamar mandi yang lain juga."


"Wow, rumah ini sangat besar untuk di tempati satu orang sepertimu."


"Aku pikir, aku siap untuk mengadopsi beberapa anak untuk tinggal bersamaku disini dan hidup bahagia selamanya dengan beberapa anak yang menggemaskan." Balas Akira.


"Aku pikir kau tidak menginginkan anak. Ngomong-ngomong kalau aku sih memang belum mau punya anak."


Mengingat setiap kebersamaannya dan ketidakcocokan keduanya di masa lalu, membuat Akira merasa tidak mood. Akira selalu menginginkan anak, tapi hubungannya dengan Dimas tidak pernah berjalan dengan baik, membuat Akira takut untuk memiliki anak.


"Memang bukan ide yang bagus untuk kita berdua memiliki anak." Ucap Akira.

__ADS_1


"Iya, kau benar." Balas Dimas.


'Suara Dimas terdengar sedikit murung,' pikir Akira.


"Akan menjadi sangat berantakan jika kita memiliki anak, mengingat apa yang terjadi pada kita sekarang." Ucap Akira.


"Lalu bagaimana dengan rencanamu tentang mengadopsi anak?"


"Aku masih harus menunggu sampai rumah ini selesai di renovasi dan siap untuk aku tempati bersama anak-anak nanti."


"Apa kau berpikir untuk menjadi ibu tunggal dari anak-anak yang akan kau adopsi? Apa pihak yang berwenang akan mengizinkanmu?" Tanya Dimas lagi.


"Tentu saja aku akan menjadi ibu tunggal untuk anak-anakku. Untuk hal disetujui atau tidak, aku belum tahu. Tapi setidaknya aku sudah berusaha, dan meyakinkan pihak yang berwenang, bahwa aku layak menjadi seorang ibu untuk anak-anak yang akan aku adopsi." Jelas Akira sambil terus mengarahkan kuas cat naik turun.


"Banyak anak yang membutuhkan kasih sayang orang tua, bahkan seorang ibu tunggal sekalipun. Aku pikir aku akan menjadi ibu yang baik. Aku hanya perlu bekerja lebih keras lagi, setelah aku sendirian."


"Kau sudah memikirkan ini dengan baik-baikkan?"


"Secepatnya saat aku siap, aku akan melakukannya." Akira berhenti mengecat sebentar, sambil terus memandangi tembok, "aku tahu, aku pasti akan sangat merindukan bagaimana rasanya melahirkan. Itu adalah ikatan cinta, mengasuh anak, yang membuatmu disebut sebagi orang tua."


Suara Akira terdengar parau, dan ia merasa malu karena sudah terlalu mellow dihadapan Dimas.


Akira tidak pernah mengatakan kepada siapapun tentang keinginannya itu. Lalu kenapa ia harus menceritakan semuanya pada Dimas?


Mungkin Akira masih berharap untuk bisa merajut masa depan dengan Dimas untuk memiliki anak. Akira kemudian mengganti topik pembicaraan mereka.


"Bagaimana perasaanmu tentang therapi yang kau lakukan?"


"Semuanya terasa lambat. Aku tidak merasakan perubahan apapun."


"Rama sudah melakukan yang terbaik. Aku lihat kau sekarang sudah semakin kuat." Balas Akira.


"Dia tidak hidup dalam tubuhku. Dari dalam sini aku bisa merasakan tidak ada perubahan yang terjadi."


Dimas terlihat frustrasi saat Akira turun dari atas tangga dan mendekatinya.


"Dokter Jerry mengatakan semuanya sudah sangat baik Dim."


"Aku tahu. Tapi tidak ada kepastian sampai kapan aku seperti ini, dan apakah aku memang bisa sembuh."


"Bersabarlah, seiring berjalannya waktu, kau pasti akan sembuh. Oh ya, dimana cek yang harus aku tanda tangani?" Tanya Akira.


Akira merasa aneh, saat harus menulis namanya dengan tulisan 'Ny. Akira Olivia D. Abraham' lalu membubuhkan tanda tangannya di kertas cek bernilai ratusan juta itu.

__ADS_1


__ADS_2