Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Nasehat Oma


__ADS_3

Dimas terbangun karena mendengar suara lonceng yang terdengar memekakkan telinga. Terdengar derap langkah kaki Akira berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


Tak berselang lama, Akira masuk ke ruang keluarga bersama seorang wanita yang membawa sebuah tas besar.


"Selamat pagi Tuan Dimas, saya Susan perawat anda. Saya akan membantu anda melakukan aktivitas anda sehari-hari. Termasuk memandikan dan mengganti pakaian anda.


Bulu kuduk Dimas bergeridik ngeri, membayangkan bahwa ia harus dimandikan oleh seorang wanita.


'Andai saja Akira yang memandikan aku, pasti aku akan lebih betah dan tidak risih.' pikir Dimas.


Tak lama kemudian seorang wanita berperawakan gemuk datang dengan membawa beberapa tas.


'Sepertinya dia akan tinggal disini.' pikir Akira yang melihat kedatangan wanita bernama Tuti itu.


Wanita itu langsung mengambil alih dapur Akira. Ia mulai memasak untuk menu sarapan Dimas.


Di hari yang sama therapist pun datang, menanyakan beberapa pertanyaan kepada Dimas, mengecek organ vitalnya, memberitahu Dimas bagaimana perkembangan ototnya.


Lelaki bernama Rama itu terlihat seumuran dengan Dimas. Dimas menyadari bahwa ia telah berjam-jam melakukan therapi sesuai dengan instruksi dari Rama. Kesempatan Dimas untuk sembuh kembali tergantung dari keahlian therapist nya, Rama.


Dimas merasa perutnya terasa kram. Dia berharap Rama tahu akan apa yang dia lakukan.


'Aku harap si Rama ini tidak mencoba untuk membunuhku.'


Akira datang untuk melihat Dimas melakukan therapi. Dimas yang merasakan sakit diperutnya, berusaha menutupinya dengan menyapa Akira.


"Hai..." Sapa Dimas.


Rama ikut menyapa Akira. Setelahnya, Rama tetap meminta Dimas untuk melanjutkan therapi nya dengan menggantungkan lengannya di atas plang dan Dimas harus berusaha untuk mengangkat lengannya itu. Sangat sulit untuk Dimas melakukannya. Seolah ia tengah mengangkat barbel dengan berat tiga kilogram.


Sementara Rama, ia terlihat berbincang dengan Akira sambil terus mengawasi Dimas.


'Apa-apaan dia? Untuk apa dia mengajak isteriku mengobrol. Jangan bilang dia menyukai istriku .... Ahh kenapa aku ini, Akira kan bukan isteriku lagi.'


Dimas menutup mata dan menggeleng-geleng kan kepalanya pelan.


"Ada apa Dim?" Tanya Akira khawatir. "Apa kepalamu sakit?"


Rama menatap Dimas dengan wajah datar.


"Ah, gak ada apa-apa kok. Aku cuma.... mmmmm itu tadi ada nyamuk." Balas Dimas.


"Nyamuk?" Dahi Akira mengkerut.


Rama kembali meminta Dimas untuk melakukan therapi nya.


'Sial, kenapa susah sekali.' Rutuk Dimas dalam hati.


Setelah beberapa saat, Rama meminta Dimas untuk beristirahat. Ia kemudian menjelaskan pada Dimas tentang latihan-latihan otot yang ia lakukan dan apa manfaatnya untuk Dimas.


"Aku ingin kau menggenggam tanganku. Genggam sekeras dan selama mungkin yang kau bisa lakukan." Ucap Rama.

__ADS_1


Akira duduk disamping tempat tidur Dimas, berusaha memberinya semangat.


Dimas mulai menatap tangannya, memerintahkan otot tangannya untuk bergerak. Ia menahan nafasnya saat jemarinya bergerak perlahan, berusaha sekuat mungkin hingga ia merasakan keringat mulai membasahi di bibir atasnya. Putus asa, Dimas mengumpat,


"Sial!" seraya melepaskan genggaman tangannya.


"Santai lah Dim," ucap Akira. "Ini bukan lomba lari Nasional yang menuntut mu untuk cepat Dim. Ini cuma rehab, therapi buat kamu."


"Aku tidak punya kekuatan." Balas Dimas.


"Kau lebih kuat dari yang kau pikirkan. Kau bisa menggenggam, itu tanda yang sudah baik untuk kesembuhan mu. Kau juga sudah bisa memindahkan lenganmu perlahan. Itu juga tanda kesembuhan yang lainnya. Aku bisa membantumu."


"Berapa lama lagi?" Tanya Dimas.


"Aku tidak bisa menjanjikan padamu berapa lama prosesnya. Aku hanya bisa membantumu." Balas Rama. "Kita harus terus melatih otot-otot mu. Bukan hal yang mudah. Dan aku akan selalu membantumu dan mendukungmu. Suatu saat kau akan ingin menyerah, tapi aku tidak akan membiarkanmu menyerah." Suara Rama terdengar pelan dan tenang, tapi juga tegas.


"Jadi, kau suka untuk menantang pasien mu?" Tanya Akira.


"Tidak semuanya, Nona Akira. Tapi dia, sudah tentu." Rama tersenyum penuh percaya diri ke arah Dimas. "Dan itu pasti berhasil, karena aku yakin kau tidak suka ditantang."


Dimas tersenyum, "kau benar. Aku tidak suka ditantang oleh siapapun. Aku tidak akan menyerah sebelum kau yang menyerah. Aku akan menunjukkannya padamu."


Dimas menatap ke arah Akira dengan pandangan yang tajam, "aku akan membuktikan padamu juga," tanpa menunggu respon Akira, Dimas kembali menatap Rama. "Ayo kita mulai."


"Aku akan pergi meninggalkan kalian berdua untuk menyelesaikan urusan kalian Tuan-tuan, dan aku akan melakukan pekerjaanku sendiri." Ucap Akira kepada mereka berdua.


Rama menatap Akira yang berjalan pergi, dan saat Akira sudah jauh, Rama berkomentar, "Wanita yang sangat cantik. Apa dia keluargamu?"


"Kau pasti bercanda."


"Tidak." Balas Dimas.


Rama terdiam sebentar, lalu kembali berkomentar. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya? Aku bisa memesankan untukmu tempat tidur yang lebih besar."


"Tidak, terima kasih." Balas Dimas.


"Dengar bro, jika kau pernah mengalami impotensi, emmmm...... Hal itu biasanya bukan masalah yang terlalu panjang dari GBS. Kesempatanmu untuk sembuh dari impotensi adalah dengan mencoba melakukan hubungan itu dengan isterimu."


Dimas merasa risih saat membahas tentang aktifitas suami isteri dengan Rama. Dimas meragukan dirinya, akankah ia masih bisa melakukan hubungan seksual atau tidak karena vonis yang dikatakan Dokter tentang dirinya yang mengalami impotensi.


Dan hal terpenting lainnya yang dipikirkan Dimas adalah, bagaimana perasaannya pada Akira.


Tapi Rama tidak mudah menyerah, ia terus membahas tentang hal itu.


"Kami sudah berpisah. Aku bisa berada disini karena keadaan yang memaksaku harus berada disini." Ucap Dimas meyakinkan Rama.


"Terserah kau sajalah." Balas Rama.


Terkesan akan keramahan Rama terhadap Dimas, Akira akhirnya meninggalkan Dimas untuk pergi ke butiknya.


Akira dan Oma Lidia, serta karyawannya yang lain melanjutkan pekerjaan mereka yang semakin di kejar waktu.

__ADS_1


"Sudah berapa persen yang selesai?" Tanya Akira pada Lola, salah satu karyawannya.


"Sudah tujuh puluh persen Bu." Balas Lola.


"Baiklah, waktu kita hanya tinggal seminggu. Aku harap kita bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu. Bila perlu, aku mau kalian lembur. Dan tenang saja, aku akan menambah uang lembur kalian." Ucap Akira.


Lola dan dua karyawan lainnya tersenyum bahagia dan mulai melanjutkan pekerjaan mereka lagi.


Sementara Akira terlihat sibuk dengan berkas-berkas uang berserakan di mejanya.


"Bagaimana kabar si tiang listrik itu?" Tanya Oma Lidia yang duduk di hadapan Akira.


Akira tertawa, karena yang dimaksud Oma Lidia adalah Dimas. Sejak pertama kali Akira memperkenalkan Dimas pada Oma Lidia dahulu, Oma Lidia langsung memanggil Dimas dengan sebutan tiang listrik, karena postur tubuh Dimas yang memang sangat tinggi.


Jika Akira berdiri dihadapan Dimas, maka tinggi badan Akira hanya sampai di dada Dimas. Bayangkan bagaimana pendeknya Oma Lidia jika berdiri berdampingan dengan Dimas. Karena jika berdiri dengan Akira saja, tinggi badan Oma Lidia hanya sampai bahu Akira.


"Namanya Dimas, Oma." Ucap Akira.


"Iya-iya... Apa kabarnya si Dimas itu."


"Dia baik, sekarang dia semakin bisa menggerakkan tangannya. Aku yakin tak lama lagi dia akan sembuh. Bahkan kemarin malam kami sempat main catur."


"Main catur? Apa kau harus merepotkan dirimu sampai membawa catur ke rumah sakit?" Tanya Oma Lidia sambil menyeruput teh yang dibuatkan Akira.


"Mmmm sekarang dia tinggal di rumahku." Balas Akira agak ragu-ragu.


"Pruufffttt.... Apa?" Teriak Oma Lidia yang menyemburkan teh hangat yang baru saja ia minum.


Akira tersenyum simpul.


"Sudah Oma duga. Kau memang tidak bisa konsisten pada pendirian mu jika menyangkut si tiang listrik itu. Kau bilang tidak akan terlibat lebih jauh dengannya, tapi sekarang...."


"Oma.... Aku kasihan padanya karena...."


"Sudahlah Akira, Oma hanya mau mengingatkan padamu satu hal." Potong Oma Lidia. "Ingatlah saat kau sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan dia karena sikapnya yang kau tau sendirilah bagaimana."


"I-iya Oma, aku janji gak akan terlibat dalam hubungan perasaan lebih jauh dengan Dimas lagi." Ucap Akira tertunduk.


"Jangan berjanji jika hatimu ragu apakah kau bisa menepatinya atau tidak. Lagipula Oma juga tidak sepenuhnya menyalahkan kamu. Wanita manapun, akan sulit menahan pesona ketampanan si tiang listrik itu, termasuk Oma juga."


Akira terbahak mendengar ucapan Oma nya itu.


"Saran Oma, jaga hatimu baik-baik agar tak terluka untuk yang kedua kalinya. Apapun yang terjadi, Oma akan selalu mendukung apapun itu, asal kamu bahagia." Ucap Oma Lidia.


Akira yang terharu, langsung mendekati Oma Lidia dan memeluknya.


"Terima kasih Oma. Oma memang yang terbaik."


"Iya sayang, tetaplah bahagia." Balas Oma Lidia.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2