
Akira dan Daniel duduk sambil menikmati es kelapa muda yang dipesan Daniel. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
'Apa aku harus mengatakannya sekarang?' pikir Daniel.
'Aku yakin, hari ini Dimas sudah menerima surat gugatan itu.' ucap Akira dalam hati.
Seorang anak laki-laki kecil terlihat bermain di tepian pantai. Tanpa disangka bocah itu terseret ombak yang besar. Ibu dari anak itu berteriak histeris.
"Dimaaaasss . . . . . Ya Tuhan . . . . Tolong . . . . Anak saya . . . Hu . . . .u. . . .u . . . "
Beberapa orang terlihat berlarian, berusaha menyelamatkan bocah malang itu.
Akira yang kurang fokus, karena mendengar nama Dimas disebut malah ikut berlari ke tepian pantai dan ikut berteriak.
"Dimaaaaasss . . . . ." Teriak Akira.
Dari belakang Daniel berlarian menyusul Akira.
"Hu . . .u. . .u. . . Siapapun tolong selamatkan Dimas." Tangis Akira.
Ibu sang bocah yang histeris melihat Akira penuh tanda tanya.
"Dimaasss jangan tinggalkan akuu . . . . " Teriak Akira lagi.
"Akira tolong tenanglah. Ada apa denganmu, memangnya kamu kenal dengan . . . "
"Tentu saja aku kenal. Dia adalah orang yang paling berarti untukku. Hu.. . . . .u . . . .u . . ."
Ibu sang bocah malah menghampiri Akira dan melabraknya.
"Heh, apa maksud kamu bilang Dimas itu orang yang paling berarti buat kamu. Memang kamu siapanya dia hah?" Teriak wanita itu emosi.
__ADS_1
"Anda yang siapa? Saya adalah istri Dimas." Jawab Akira.
Ibu itu terlihat semakin heran dan amarahnya mereda saat melihat bocah yang bernama Dimas itu bisa diselamatkan. Ibu itu berlarian menghampiri anaknya.
"Dimaass anakku . . . . Huu. . .u. . .u. . ."
"Sudah Bu, dia baik-baik saja. Untung saja kita sudah dengan cepat menyelamatkannya." Ucap seorang lelaki.
Akira yang melihat kejadian itu mematung.
'Apa yang sudah aku lakukan?' tanya Akira dalam hati.
"Maaf ya Mbak. Mungkin Mbak salah orang, ini Dimas anak saya, usianya tujuh tahun. Sudah pasti bukan suami Mbak." Ucap Ibu bocah itu lalu pergi.
*********************
Sepanjang perjalanan meninggalkan pantai, Akira hanya terdiam. Hal itu membuat Daniel tak tahu harus berkata apa-apa.
'Kenapa aku malah memikirkan lelaki yang selama ini menyakitiku?'
'Apa aku memang masih sangat mencintainya?'
'Lalu apa keputusanku untuk bercerai sudah benar?'
Semua pertanyaan-pertanyaan itu bersemayam di kepala Akira.
"Aaaarrrgghhhh . . . ." Teriak Akira secara tiba-tiba, hingga mengagetkan Daniel yang seketika mengerem mendadak.
"Ada apa Akira?" Tanya Daniel cemas.
"Eh, maafkan aku. Aku hanya banyak pikiran." Balas Akira.
__ADS_1
Daniel tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.
"Bagaimana kalau kita makan siang saja. Aku yakin kamu lapar." Ucap Daniel.
"Terserah kamu aja. Aku cuma ikut aja." Balas Akira memandang keluar jendela mobil sporty Daniel.
Tak lama keduanya tiba di sebuah restoran bergaya tradisional.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Daniel seraya menatap Akira yang sedari tadi terlihat termenung.
Buku menu yang ada dihadapannya, sama sekali tak di sentuh oleh Akira. Pandangannya fokus ke arah sebuah saung yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Terdapat satu keluarga yang terlihat baru masuk ke saung itu. Pandangan Akira fokus pada seorang lelaki paruh baya yang menggunakan kursi roda. Beberapa lelaki muda yang ada di rombongan itu terlihat menggotong lelaki paruh baya itu untuk duduk lesehan diatas saung.
'Apa Dimas akan seperti itu hingga hari tuanya nanti?'
'Andai kami bisa selalu bersama. Meski Dimas akan tetap lumpuh, mungkin saja kami bisa berbahagia hingga hari tua nanti.'
Sesaat Akira tersenyum membayangkan bagaimana rupanya di usia tua bersama Dimas. Namun, detik berikutnya mata Akira memerah, karena keadaan yang sebenarnya sekarang bahwa dia berpisah dengan Dimas.
"Akira! Kenapa lagi? Kamu kok nangis?" Tanya Daniel yang membuyarkan lamunan Akira.
"Mungkin aku cuma lapar." Balas Akira sekenanya sambil berusaha tersenyum.
"Dari tadi aku nanya kamu mau makan apa. Tapi kamu malah . . . . "
"Aku makan yang sama aja dengan pesanan mu." Potong Akira.
"Baiklah."
Setelah menunggu sekitar lima belas menit. Makanan pesanan Daniel pun datang. Ada beberapa menu yang tersedia.
__ADS_1
Keduanya pun muai menikmati makan siang mereka. Meski sebenarnya Akira terlihat kurang berselera, tapi dia berusaha menghargai Daniel.