Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Kondisi Dimas


__ADS_3

Hari berikutnya, tepat tengah hari, Dokter Jerry masuk ke ruang ICU.


"Saya senang anda berada disini Nona Akira, karena akan lebih baik jika keluarga mengerti akan situasi dari pasien."


Jantung Dimas berdegup kencang.


"Dokter saya sudah bukan...." sanggah Akira.


"Tolong tinggallah, temani aku." potong Dimas dengan pelan seraya memainkan matanya pada Akira.


Setidaknya jika apa yang akan disampaikan Dokter itu buruk, aku tidak mau mendengarnya sendiri.


"Ya tentu saja. Aku akan menemani kamu."


Dimas melihat leher hingga ke tengkuk Akira dengan tajam saat Akira mengatakan akan menemaninya.


Kenapa aku harus kecewa saat ia ingin mengatakan bahwa dia bukan keluargaku.


Sebenarnya Dimas memang berencana untuk menceraikan Akira. Dia menunggu selama tiga tahun untuk berharap Akira akan kembali lagi padanya, tapi nyatanya tidak. Sejak pernikahan mereka berakhir, keduanya sama-sama dalam kebisuan.


Dimas berpikir, kenapa Akira tidak mengajukan gugatan perceraian padanya.


Apa mungkin karena dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk mengajukan gugatan?


Dimas bahkan juga berpikir, jika Akira mengajukan gugatan, alasannya pasti karena dialah yang berselingkuh. Tapi hingga detik ini gugatan itu tak pernah ada, karena Akira tak punya alasan yang tepat untuk mengajukan gugatan.


Dokter Jerry sebelumnya sudah bersalaman dengan keduanya.


"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya pada kalian berdua, kami sudah menduga jika Tuan Dimas mengalami Guillian Bare Syndrom, atau GBS, dengan kata lain Tuan Dimas mengalami kelumpuhan. Sinyal dari syaraf-syaraf di tubuh Tuan Dimas sangat lemah membuat otot tidak menerima instruksi dari otak untuk bergerak."


"Syaraf-syaraf lemah?" tanya Dimas.


Akira terkejut dengan suara Dimas yang tenang. Dia seperti melihat Dimas tengah membicarakan tubuh orang lain.

__ADS_1


"Iya. Itu disebabkan oleh gangguan sistem imun tubuh. Tubuh membuat sel-sel yang merusak jaringan otot itu sendiri. Treatment yang paling efektif adalah obat yang menekan sistem imun dan menghentikan proses kerusakan yang terjadi. Sayangnya, tidak ada tes yang sederhana untuk GBS, jadi kita hanya melihat apa yang terjadi dengan dengan gejala-gejala berikutnya. Kami sudah mengetes kecepatan akan respon syaraf-syaraf terhadap simulasi yang diberikan, dan hasilnya tinggi. Kami juga sudah mengecek sum-sum tulang belakang anda untuk mengetahui level proteinnya, yang mana hal itu untuk mengetahui gejala GBS. Tes terakhir menunjukkan garisnya meningkat, jadi sekarang dapat kami katakan bahwa anda mengalami GBS Tuan Dimas."


Akira mengerutkan dahinya, "Apa yang dapat kami harapkan akan terjadi Dokter?"


Perhatian Dimas fokus pada kata-kata Akira yang mengatakan 'kami'.


Apa dia berencana untuk selalu menemaniku? Tapi untuk berapa lama, jika semuanya menjadi semakin buruk.


"Saya berharap kita dapat mengetahuinya, tapi tidak ada yang dapat memprediksi tentang progres dari GBS ini. Tuan Dimas, kondisi anda mungkin akan menurun dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Kondisi anda mungkin akan berubah sedikit saja, atau bisa juga memburuk dengan signifikan."


Memburuk dengan siginifikan, sungguh kelumpuhan itu menakutkan, pikir Dimas.


Akira meletakkan tangannya pada telapak tangan Dimas. Bersyukur akan sentuhan Akira, Dimas mencoba untuk menyatukan jemarinya dengan jemari Akira saat Dokter Jerry akan melanjutkan ucapannya yang menakutkan.


"Anda kemungkinan akan mengalami kekurangan berat badan, dan kekurangan massa otot. Ada juga kemungkinan terkuat, anda mungkin akan mengalami kesusahan dalam menelan dan bernafas. Kabar baiknya sampai saat ini anda belum menunjukkan gejala tersebut. Kebanyakan pasien harus menggunakan alat bantu pernapasan sejak awal mengidap gejala GBS. Tapi tidak dengan anda Tuan Dimas. Saya yakin anda tidak akan mengalaminya."


Pikiran Dimas tertuju pada satu kata 'harapan'.


"Sudah merupakan tugas saya untuk memberi tahu anda semua kemungkinan yang dapat terjadi pada kondisi anda Tuan." balas Dokter Jerry dengan tenang. "Kami tidak tahu banyak tentang GBS karena kasusnya yang jarang terjadi, dengan hanya tiga dari empat ribu orang mengalaminya pertahun. Dan kasusnya pun berbeda-beda. Banyak pasien dapat sembuh total. Ada seorang pasien yang menggunakan alat bantu pernapasan selama seminggu. Kondisinya sudah sangat buruk. Tapi hanya perlu waktu setahun dia dapat berlari maraton, tidak seperti pelari maraton kelas berat, tapi dia dapat berlari sejauh empat puluh kilometer. Saya berharap semua pasien yang keluar dari sini dapat sembuh seperti dia, tapi kebanyakan pasien mengalami kelumpuhan permanen. Seperti yang sudah saya katakan kepada kalian berdua, saya tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya pada Tuan Dimas."


Dimas berharap suaranya dapat menutupi kepanikannya.


"Aku tidak yakin, aku bisa melewati semua ini Dok."


"Saya akan menjawab semua pertanyaan anda tentunya Tuan Dimas. Dan anda perlu tahu, saya sangat optimis bahwa anda dapat sembuh. Dengan berjalannya waktu dan terapi, kesempatan anda untuk sembuh sangatlah tinggi."


Dokter Jerry akhirnya keluar dari ruangan itu.


"Dim! Apa kau baik-baik saja setelah mengetahui semuanya?" tanya Akira dengan hati-hati.


Suaranya bergetar, dia mengeratkan genggamannya pada tangan Dimas.


Akira terlihat sangat putus asa. Dimas ingin merangkul Akira dalam pelukannya dan menenangkannya.

__ADS_1


"Lebih baik dari yang aku harapkan. Mungkin mengetahui ini dapat membantuku untuk segera mendapat pertolongan." ucap Dimas berusaha menenangkan Akira. "Mereka bilang ketakutan akan ketidaktahuan akan kondisimu saat ini lebih buruk dari ketakutan ku saat mengetahui kondisiku ini. Pulanglah Kira. Istirahatlah."


Dimas melihat dengan jelas Akira tengah mencoba untuk mengontrol emosinya dan berusaha tersenyum.


"Apa kau ingin mengusirku Dim?" ucap Akira.


"Tidaak, oh Tuhan sama sekali tidak. Jika aku tidak punya kau untuk teman berbicara, aku pasti sudah gila di tempat ini." balas Dimas. "Aku hanya ingin kau beristirahat, itu saja."


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi apa kau tidak apa-apa jika ku tinggal sendirian disini?" tanya Akira.


"Aku baik-baik saja. Lagi pula siapa bilang aku disini sendirian? Apa kau tidak melihat aku dikelilingi suster-suster cantik disini." ucap Dimas berusaha mencairkan suasana.


Akira tertawa.


"Oke baik, aku pulang. Jaga dirimu baik-baik. Segera hubungi aku jika kau butuh sesuatu."


Dimas mengangguk, Akira lalu berjalan keluar. Tepat di pintu ruang ICU, Dimas kembali memanggil Akira yang membuat langkahnya terhenti.


"Akira..."


Akira berbalik.


"Terima kasih." ucap Dimas.


Akira tersenyum seraya melambaikan tangan lalu berjalan keluar dari ruang ICU.


Tiba di dalam mobil, Akira menumpahkan segala kerisauan hatinya tentang apa yang menimpa lelaki yang masih sangat dicintainya itu.


"Ya Tuhan, kenapa cobaan yang kau berikan padanya begitu berat? " isak Akira.


Butuh beberapa menit untuk Akira menenangkan dirinya agar tangisannya mereda. Setelah merasa lebih baik, ia pun menyalakan mobilnya dan bergerak perlahan untuk pulang ke rumah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2