Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Akhir Kisah


__ADS_3

Dimas bergegas berjalan menuju dimana tempat Akira duduk. Akira menyambutnya dengan senyum sumringah. Dengan tangan yang bergetar, Dimas menggenggam erat jemari Akira yang putih itu.


"Kau memintaku bertanya pada orang arti dari kalimat, 'je suis enceinte, tu vas être père'. Dan wanita tadi berkata artinya adalah, I'm pregnant, you're going to be a father. Apa semuanya benar bahwa kau tengah hamil, dan aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Dimas berusaha menahan air matanya yang hendak meluncur deras.


Dimas harap-harap cemas dengan apa yang akan dikatakan Akira. Akira dapat merasakan bahwa tangan suaminya itu begitu dingin dan berkeringat. Wajahnya terlihat begitu tegang, hingga Akira akhirnya berkata "iya" sambil mengangguk.


Dalam sekejap Akira sudah berada dalam pelukan Dimas. Ia merasakan bahwa pria yang telah menjadi suaminya selama hampir empat tahun itu tengah terisak, karena nafas Dimas yang naik turun.


'Apa dia sebahagia itu? Hingga ia sampai menangis sesenggukan seperti ini?' tanya Akira dalam hati.


"Terima kasih sayang, terima kasih. Kau sudah membuatku menjadi seorang lelaki yang seutuhnya. Aku sangat bahagia." ucap Dimas seraya mencium pipi Akira berkali-kali.


"Apa kau bahagia?" tanya Akira.


"Tentu saja aku bahagia. Kau benar-benar telah membuatku jadi pria paling bahagia di dunia ini. Aku mencintaimu." lagi-lagi Dimas memberikan ciuman beruntun pada Akira.


Dimas benar-benar sangat bahagia. Ia mencurahkan kebahagiaannya dengan terus mencium Akira. Apalagi saat Akira memberitahunya bahwa usia bayi dalam kandungannya baru saja berumur satu bulan.


Hari-hari berikutnya dilalui Akira dengan aturan ketat yang diberikan Dimas. Tak boleh lelah, tak boleh lembur bekerja, tak boleh makan ini, tak boleh makan itu. Hal itu membuat Akira jengkel, karena ia merupakan tipikal wanita hamil yang suka makan.


Namun, Dimas membatasi semua makanan yang boleh dikonsumsi oleh Akira.


********


Sembilan bulan kemudian.....


Suara tangis bayi perempuan terdengar dari ruang bersalin sebuah rumah sakit yang sudah di booking jauh-jauh hari oleh Dimas.


Air mata Dimas berlinang saat pertama kali ia memegang puteri mungilnya. Tangan Dimas bergetar saat mengelus punggung kecilnya. Dimas dapat merasakan detak jantung puterinya yang memang diletakkan Dokter di dadanya.


Akira melahirkan secara caesar karena tak kunjung merasakan mulas sampai satu minggu setelah hari perkiraan lahirnya.


Raut bahagia terpancar dari wajah kedua pasang orang tua baru itu. Begitu juga dengan Oma Lidia yang datang membesuk saat Akira dan puterinya dipindahkan ke ruang rawat inap.algj

__ADS_1


"Akhirnya Oma punya cicit juga." ucap Oma Lidia penuh haru.


Oma Lidia membawakan buket bunga, balon, serta boneka berwarna pink, kemudian Oma Lidia mendekati Akira dan mencium keningnya.


"Selamat ya sayang. Oma bangga sama kamu." ucap Oma Lidia.


"Terima kasih Oma." balas Akira.


Satu persatu keluarga dan kerabat datang membesuk Akira, termasuk Sofia. Dia begitu heboh dengan datang membawa begitu banyak pakaian bayi perempuan.


"Mana keponakanku yang cantik. Aku mau menggendongnya." teriak Sofia.


"Sofia, pelan kan suaramu." ucap Dimas.


"Tidak bisa, aku mau melihat Rossie." Sofia lagi-lagi berteriak.


"Siapa yang kau maksud Rossie?" tanya Dimas heran.


"Rossie adalah nama yang aku berikan pada bayi cantik ini." ucap Sofia seraya menggendong bayi Akira.


Oma Lidia tersenyum dan memilih duduk di sofa yang tersedia.


"Bagaimana kalian berdua? Apa kalian berdua setuju dengan nama Rossie?" tanya Oma Lidia pada Akira dan Dimas.


"Tidak." jawab keduanya kompak.


"Kenapa tidak setuju? Rossie itu kan nama yang cantik. Kenapa sih kalian semua tidak pernah setuju dengan apa yang aku pilih?" protes Sofia.


"Bukan begitu Sofia, tapi aku sudah punya nama yang aku pilih sendiri." ucap Dimas.


Akira penasaran dengan nama apa yang dipilih Dimas. Karena sebelumnya, keduanya tak pernah membahas tentang nama bayi mereka.


"Kau memilih nama apa?" tanya Akira.

__ADS_1


Dimas tersenyum kemudian mendekati Sofia dan mengambil puterinya lalu menggendongnya.


"Hari ini dihadapan kalian semua, aku akan mengatakan bahwa nama puteriku adalah Dira. Dira Olivia Abraham." ucap Dimas penuh semangat.


"Dira Olivia Abraham!" seru Akira.


"Iya. Dira adalah Dimas dan Akira. Olivia diambil dari nama belakangmu. Dan Abraham kau tahu sendiri." ucap Dimas menjelaskan.


"Dira nama yang sangat indah." ucap Akira tersenyum.


"Oma setuju." sambung Oma Lidia.


"Sepertinya nama Dira memang lebih cocok untuknya dibandingkan Rossie. Hidungnya terlihat mirip dengan hidungmu Dimas. Sementara bibir dan bentuk alisnya sangat mirip dengan Akira." ucap Sofia yang akhirnya menyetujui nama yang diberikan Dimas.


"Selamat datang di keluarga Abraham, Dira." ucap Sofia mencium kening bayi mungil yang memiliki lesung pipi itu.


Dimas mendekat ke arah Akira, sementara puterinya tengah digendong Sofia.


"Terima kasih untuk kebahagiaan ini sayang. Aku mencintaimu." bisik Dimas di telinga Akira kemudian mencium keningnya.


Akira tersenyum dan menggenggam tangan Dimas lalu menciumnya dengan khidmat.


'Terima kasih Akira, karena selalu mencintaiku meski aku dalam keadaan lumpuh satu tahun yang lalu.' ucap Dimas dalam hati.


TAMAT....


*Hai semuanya, aku La-Rayya ....


Terima kasih ya, sudah mengikuti kisah ini sejak awal hingga tamat sekarang. Tanpa dukungan kalian semua, kisah ini tidak akan bertahan sejauh ini. Sekali lagi terima kasih atas semua dukungan yang kalian berikan*.... 😘😘


Oh ya, jangan untuk mampir di karya La-Rayya yang lainnya ya... 😍😍


*Terima kasih....

__ADS_1


Salam sayang,


La-Rayya* ❤️


__ADS_2