Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Setuju


__ADS_3

Akira, Dimas dan Daniel duduk di ruang tamu. Sebisa mungkin Dimas menahan kecemburuan yang tengah menguasai dirinya.


"Bagaimana Akira? Apa hari ini kau bisa membawaku untuk melihat-lihat butik milikmu?" Tanya Daniel.


"Tidak bisa. Aku melarang Akira untuk pergi denganmu." Jawab Dimas.


Akira mengelus lembut pergelangan tangan Dimas.


"Tentu saja Pak Daniel. Sudah menjadi tugasku sebagai klien untuk pergi bersama anda selaku investor ku untuk melihat-lihat butik ku secara langsung." Ucap Akira.


"Aku bilang tidak ya tidak. Intinya kau tidak boleh pergi. Aku akan mengembalikan semua dana yang sudah diberikan perusahaan orang ini padamu bila perlu dua kali lipat."


Daniel tersenyum sinis.


"Maafkan aku Tuan Dimas. Nona Akira sudah menyetujui untuk berbisnis denganku. Jadi mau anda membayar ku sepuluh kali lipat pun aku tidak akan menerima nya. Karena aku tidak mau dicap oleh orang banyak sebagai pebisnis yang hanya mementingkan uang. Aku selalu menghargai setiap kerjasama yang aku lakukan." Ucap Daniel.


'Aduuh bagaimana ini?' pikir Akira.


"Baiklah Akira, aku memberimu waktu lima belas menit untuk bersiap-siap. Aku akan menunggumu diluar." Lanjut Daniel.


Daniel lalu keluar rumah menuju mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa kau setuju untuk pergi?" Tanya Dimas. "Bukankah aku sudah melarang mu untuk pergi dengannya?"


"Aku tahu kau sudah melarang ku tapi aku melakukan semuanya hanya sebatas karena profesionalitas pekerjaan saja."


Dimas menghela nafas panjang. Akhirnya dia menyetujui agar Akira pergi bersama Daniel.


"Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Dimas.


"Bukannya kau harus pergi untuk menemui Dokter dalam rangka melanjutkan terapi mu?"


"Aku sedang malas untuk terapi Lebih baik aku ikut denganmu saja." Jawab Dimas.


Kini, Akira yang menghela nafas panjang.


'Apa perkataan ku terlalu kejam?'


"Sudahlah kau memang ingin menghindar dariku untuk bisa pergi bersama Daniel." ucap Dimas dengan raut wajah kecewa.


"Ayolah Dim, sudah kukatakan aku melakukan semuanya hanya sebagai profesionalitas pekerjaan saja. Aku akan selalu mencintai kamu saja, aku tidak akan main di belakangmu."


Dimas terdiam ia memilih membelakangi Akira. Akira memutar wajah Dimas agar menghadap ke wajahnya.

__ADS_1


"Dimas dengarkan aku." ucap Akira dengan raut wajah serius." Apa kau mencintai aku Dim?


"Tentu saja aku mencintaimu Akira." balas Dimas


"Kalau kau memang mencintaiku, kau harus pergi untuk melakukan terapi mu itu. Apa kau bisa melakukan itu untukku?"


"Baiklah Akira, aku akan melakukan semua yang kau katakan karena aku memang mencintai kamu dan aku percaya padamu."


Dimas lalu mencium kening Akira.


"Tapi ingatlah satu hal, kau harus menjaga dirimu dan hatimu hanya untukku saja." ucap Dimas dengan serius.


Akira tersenyum lalu mencium pipi suaminya dengan erat.


Setelah berganti pakaian, Akira dan Dimas berjalan keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil berdua.


Mobil pun melaju membelah jalanan, Akira dan Dimas berada dalam satu mobil sementara Daniel mengikutinya dari belakang.


'Sial kupikir si pincang itu tidak akan ikut bersama Akira.' Ucap Daniel dengan raut wajah yang marah.


Mobil Akira akhirnya berhenti di sebuah rumah sakit tempat Dimas pernah dirawat beberapa bulan yang lalu. Akira membantu Dimas turun dari dalam mobil kemudian menggandengnya ke dalam rumah sakit. Sementara Daniel hanya memandang dari tempat parkiran di dalam mobilnya.

__ADS_1


'Ah ternyata si pincang itu hanya akan diantar sampai rumah sakit saja.' ucap Daniel.


__ADS_2