Mencintai Pria Lumpuh

Mencintai Pria Lumpuh
Pekerjaan Akira


__ADS_3

Hari berikutnya, ketika Akira tiba di rumah sakit, dia dapat mengendalikan gejolak dihatinya yang selalu berdebar jika bertemu Dimas.


"Aku punya bisnis yang harus aku jalankan, Akira," ucap Dimas saat Akira memasuki ruangannya, "aku tidak bisa membiarkan bisnisku jatuh ke tangan orang yang salah saat aku harus terbaring disini. Aku bahkan harus berbohong tentang kondisiku dan aku tidak tahu sampai kapan aku akan terus seperti ini." Lanjutnya.


"Sekarang kau mulai berbicara! Bekerja akan membuatmu lebih baik."


"Ayo mulai dengan menelepon. Aku harus berbicara dengan Sam. Kemudian aku harus berbicara dengan beberapa suppliers dan customer. Jika kau bersedia memencet nomor dan memegang ponselnya untukku, aku akan sangat berterima kasih." Ucap Dimas.


Terkesima dengan sikap Dimas yang jauh berbeda dengan Dimas yang dahulu, membuat Akira bersedia untuk membantunya menelepon.


"Sam, ini bos mu yang sudah lama hilang. Aku sedang berada di rumah sakit di kota XXX, tapi aku sudah melewati keadaan yang terburuk." Dimas menjelaskan tentang GBS yang di deritanya pada Sam dengan jujur, kemudian menjawab pertanyaan Sam. "Tidak. Tidak sekarang. Waktunya sudah habis."


Dimas melirik Akira sebentar, membuat Akira merasa bahwa Dimas tengah membicarakan dirinya bersama Sam. Namun Akira kembali berpikir, 'gak mungkin, untuk apa Dimas membicarakan tentang aku. Bisnis penyediaan bangunannya kan tidak ada hubungannya dengan usahaku.'


"Aku tidak dapat menyelesaikannya sekarang, tapi aku juga tidak mau mundur untuk menangani projects itu sekarang. Aku akan memberimu rinciannya nanti. Kabari aku tentang inventoris kita. Aku rasa aku sudah terlambat untuk menelepon Jhonny. Kita harus segera mengatasi masalah ini. Tunggu sebentar."


Dimas melihat Akira lagi. "Apakah kau bisa mencatat sesuatu untukku?"


Akira mengangguk, dia memegang ponsel menaruhnya di telinga Dimas dengan tangan kirinya, kemudian tangan kanannya menulis seusatu yang dikatakan Dimas.


"Aku mau kau mengirimkanku kontrak dari Pak Nugroho melalui email, jadi aku bisa meriviewnya disini. Kamu harus bernegosiasi secara langsung dengannya, Sam, dia adalah klien kita yang paling berpengaruh dalam bisnis kita. Kau bisa menghubungiku melalui telepon jika dia mencariku."


Akira tersenyum. Dimas tidak kehilangan keagresifannya yang membuatnya selalu sukses dalam dunia berbisnis. Pekerjaannya sangat menarik, dia suka membeli dan mengambil sebuah bangunan yang pemiliknya sudah bangkrut dan menjualnya kembali. Dimas memang harus bersemangat dalam berbisnis untuk melawan penyakitnya, dan Akira ingin selalu mendukungnya.

__ADS_1


"Dim, kau harus punya telepon yang mempunyai mesin penjawab otomatis dan yang pakai loudspeaker juga. Supaya saat aku sedang tidak ada bersamamu, kau bisa melakukannya sendiri."


"Ide yang bagus! Aku akan punya lebih banyak kebebasan. Aku tidak akan membutuhkan kamu lagi."


Terkejut akan sikap yang ditunjukan Dimas, Akira menyadari bahwa Dimas ingin terbebas darinya, Akira tahu bahwa dirinya selama ini benar. Dimas hanya membutuhkan bantuannya saat tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Dimas sama sekali tidak ada keinginan untuk memperbaiki hubungan mereka.


'Tentu saja aku juga tidak menginginkannya kembali dalam hidupku.'


Akira mengingatkan dirinya sendiri.


"Aku harus pergi, Dimas. Aku ada pertemuan bisnis, jadi aku harus pergi untuk mengganti pakaianku yang cocok dengan seorang pebisnis wanita."


**************************


Akira menrarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, untuk mengurangi rasa groginya. Membuka foldernya, dan berkata, "Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya hari ini, Tuan-Tuan. Pertama-tama saya akan memulai dengan history dari bisnis saya ini. Kemudian saya akan mendiskusikan gentang rencana berikutnya."


Dengan mantap Akira mulai menjelaskan tentang bisnis yang tengah dijalaninya. Akira juga menjelaskan tentang pendidikan yang pernah ia tempuh. Akira menceritakan kepada mereka tentang ketertarikannya terhadap Fashion Designer.


Salah satu dari lelaki itu menyela pembicaraan Akira. "Semuanya bagus, Nona Akira. Siapa yang menjalankan bisnis ini?"


"Saya sendiri Pak. Tentu saja, saya sudah merencanakan semuanya dengan baik dalam hal mendesain dan memproduksi semuanya. Oma sayalah uang paling banyak membantu dalam hal mendesain." Akira berpikir bahwa Oma-nya akan bangga saat tahu bahwa Akira juga menyebut dirinya dalam oertwmuan ini sebagai orang yang terpenting dalam bisnis Akira.


"Saya juga punya desain tersendiri. Jika anda melihat pada halaman ke tiga di folder itu, anda akan menemukan contoh hasil desain saya."

__ADS_1


Kedua lelaki itu terlihat tidak tertarik akan fashion designer, Akira langsung membahas inti permasalahannya.


"Bisnis saya ini sudah mendapat banyak keuntungan selama tiga tahun belakangan. Kalian bisa lihat persentasenya di halaman sembilan."


Lelaki itu mulai melihat halaman yang berisi kolom angka-angka keuntungan yang didapat Akira selama tiga tahun. Salah satunya bertanya, "Jelaskan menurut asumsimu, apakah kau bisa mendapatkan keuntungan dalam tiga tahun kedepan?"


Merasa senang akan respon dari lelaki itu, Akira menjawab, "jika anda melihat halaman dua belas, anda daoat melihat kenaikan dari persentase ketertarikan customer akan desain yang saya buat. Disana juga terdapat persentase yang menunjukkan berapa banyak desain yang telah diproduksi dan laku terjual. Jadi berdasarkan data itu, saya sangat optimis jika saya bisa meraih keuntungan yang lebih banyak dalam tiga tahun kedepan."


Ketika Akira menyadari bahwa para lelaki itu tidak ada yang mau merespon, Akiramemutuskan untuk kembali melakukan persentasi.


"Saya mencari sponsor untuk membantu saya melakukan....."


"Terima kasih Nona Akira. Kami yakin sudah mendengarkan semuanya. Kami akan mengevaluasi rencana bisnis anda, dan akan menghubungi anda."


Lelaki lain membukakan pintu untuk Akira, seolah mengusir Akira dari ruangan itu.


Merasa kecewa, Akira kemudian mengemas semua berkas-berkasnya ke dalam tas lalu berjalan keluar, kemudian ia berbalik dan berkata dengan sangat sopan, "terima kasih atas waktu anda Tuan-Tuan."


Sendirian di eskalator, Akira kembali mengingat persentasinya. Rencana Akira sudah berjalan dengan lancar, caranya menyampaikan persentasi sudah sangat professional. Tapi tidak ada harapan bahwa mereka akan memberinya kesempatan.


'Apakah ini memang sudah takdirku untuk tidak akan berhasil dalam berbisnis? Atau ini karena mereka percaya bahwa Akira Fashion Designer bukanlah rekan yang cocok untuk diajak berbisnis? Sudahlah, tidak masalah jika mereka menolak untuk bekerja sama,' gumam Akira dalam hati.


Akira ingin menemui Dimas lagi, tapi dia memutuskan untuk menunggu sampai perasaannya jadi lebih baik. Akira memutuskan untuk pulang ke rumahnya, berganti pakaian dari setelan berbisnis dengan celana pendek dan baju kaos. Dia kemudian mengambil buku sketsanya dan beberapa pewarna, lalu pergi ke taman bunga yang ada di pinghiran kota.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya dalam satu minggu ini, dia mencoba melupakan masalahnya dengan duduk di taman dan berkonsentrasi untuk menggambar bunga.


__ADS_2